Connect with us
no

GURATAN

Agama dan Sepak Bola

Mohamed Salah merayakan gol pertamanya melawan Southampton di Anfield pada 18 November 2017. (PAUL ELLIS / AFP / Getty Images)

06 November 2019


Oleh: Grover Rondonuwu


 

 

ERIC FROMM dalam bukunya yang terkenal Psycoanalyse und Religion, mendefinisikan agama sebagai berikut: “Jedes von einer Gruppe geteilte System des Denkens und Handelns, das dem einzelnen einen Rahmen der Orientierung und ein Objekt der Hingabe bietet.”

Terjemahannya kira-kira begini: “setiap  sistim pemikiran dan tindakan yang dianut bersama oleh sekelompok orang. Dimana melalui sistem itu setiap individu mendapat kerangka orientasi dan obyek pengabdian.

Berdasarkan definisi Eric Fromm itu kita bisa katakan bahwa tidak ada satu kebudayaan di bumi ini, baik di masa lalu maupun masa kini yang tidak mengandung agama.

Mari kita uraikan definisi Eric Fromm ini. Agama adalah sebuah sistem pemikiran dan tindakan yang dianut bersama. Misalnya dalam rumpun agama Semit: Yahudi, Kristen dan Islam. Agama ini punya sistem pemikiran yang disebut doktrin atau dogma.

Sepakbola juga punya sistem pemikiran yang ketat dan teratur. Misalnya sistem Total Footbaal yang dianut di Belanda, Tiki-Taka Spanyol, Catenaccio Italia, Kick and Rush Inggris , Tango Argentina, Body Crash Football Afrika.

Eric Fromm berkata, agama memberi kerangka orientasi dan obyek pengabdian pada setiap individu. Pemeluk agama seperti contoh pada agama Semit di atas, penganutnya memiliki kerangka orientasi.  Agama  membuat pemeluknya  memiliki tujuan hidup. Mereka punya arah, tahu mau kemana.

Apa saja yang dikerjakan dan dilakukan, semua dalam rangka mencapai tujuan itu. Penganut agama tidak merasa rugi menghabiskan waktu, tenaga bahkan mengeluarkan uang banyak demi cita-cita agama. Mereka mengabdi dengan sungguh-sungguh sebagai perwujudan iman.  Melalui mengabdi pada agama, timbul rasa percaya diri dan terutama perasaan berarti.

Mengabdi pada agama tidak membuat penganutnya merasa rugi atau diperbudak.  Justru sebaliknya,  pengabdian atau disebut sebagai pelayanan akan  menambah kekayaan batin serta menambah  energi tubuh. Itulah yang dinamakan anugerah.

Sepakbola juga demikian. Tim  sepakbola  dijadikan kerangka orientasi. Di tempat pekerjaan, di bar, di stasiun kereta api, yang dibicarakan dengan sangat bergairah adalah sepakbola.

Penganut agama sepakbola rela mengeluarkan uang banyak untuk membeli tiket masuk stadion, juga tiket kereta api, tiket pesawat dan hotel. Sungguhpun demikian penganut agama sepakbola ini tidak merasa rugi uang dan rugi waktu. Karena sepakbola memberinya orientasi hidup. Sepakbola benar-benar adalah anugerah, adalah berkat bagi penganutnya.

Sepakbola membuat adrenalin bergelora. Sepakbola melahirkan rasa senang luar biasa tapi juga kesedihan yang mendalam jika tim  kesayangan kalah.

Sepakbola melahirkan rasa bangga yang sulit didefinisikan. Sepakbola adalah identitas. Penganut agama sepakbola mengidentifikasikan dirinya dengan tim kesayangannya. Kemenangan tim adalah kemenangan penganutnya, kekalahan tim adalah kekalahan penganutnya juga.

Sebuah hymne yang dinyanyikan dengan suara koor bergemuruh adalah “You’ll never walk alone”. Tim tidak akan pernah berjalan sendiri. Walaupun kalah bahkan terdegradasi sekalipun penganutnya akan bersama-sama dengan tim. Sungguh suatu pengabdian dan kesetiaan yang luar biasa.

 

Radikalisme Sepak Bola

Agama konvensional sering ditafsir dan dihayati secara berlebihan. Sehingga mengakibatkan fanatisme. Fanatisme itu memandang bahwa agamanya yang paling benar dan yang lain adalah keliru atau palsu.

Fanatisme melahirkan radikalisme. Radikalisme mengakibatkan kekerasan, terorisme dan peperangan tanpa ujung.

Lihat saja sejarah perang antar agama. Perang salib antara Muslim Kristen. Perang 30 tahun antara Katolik dan Protestan di Eropa, Perang saudara di Timur Tengah yang berlandaskan agama terus berkobar sampai saat ini.

Sepakbola juga demikian. fanatisme pada tim  kesayangan atau tim nasional telah berakibat fatal dalam sejarah sepakbola. Kita kenal Hooligan di Inggris, Tifosi di Italia dan kelompok Ultras.

Penganut agama sepakbola  fanatik ini sering bikin kekacauan baik di dalam stadion maupun di luar stadion. Kita ingat tragedi Heysel di Belgia yang menelan korban 39 nyawa melayang dan 600 orang luka-luka. Tragedi Hillsborough pada tahun 1989 yang menelan korban jiwa hampir 100 orang dan hampir 1000 luka-luka.

Di Eropa kelompok fanatisme ini telah dikenal interpol. Nama-nama mereka sudah berada dalam catatan polisi. Mereka tidak boleh masuk stadion dan gerak-gerik mereka diawasi. Persis seperti terorisme di mata Densus 88.

Penganut agama sepakbola yang fanatik akan sangat destruktif, karena itu mereka sangat berbahaya. Mereka bisa menjadi sangat brutal dan sulit dikendalikan. Penganut agama sepakbola yang fanatik sebenarnya adalah sebuah penyakit. Di Eropa ada klinik khusus yang memberi terapi kepada penganut fanatik ini.

 

Faktor Pemersatu dan Alat Perdamaian

Tapi agama  bisa menjadi faktor pemersatu dan sebagai alat perdamaian. Misalnya pada agama konvensional.  Sangat lumrah  penganutnya  memiliki rasa solidaritas antar sesama umat. Ada perasaan saling sepenanggungan diantara sesama umat.

Agama sepakbola mungkin lebih efektif membawa pesan perdamaian dibandingkan dengan agama konvensional, jika dikelola dengan baik. Karena sepakbola bisa membawa efek kebersamaan penduduk bumi yang beragam.

Agama sepakbola bisa merekatkan perbedaan kultur, ras dan kelas-kelas sosial. Tentara-tentara yang bertugas di garis, akan berhenti menembak musuh sejenak untuk menonton sepakbola Piala Dunia.

Klub-klub besar di Eropa umumnya terlibat dalam kegiatan sosial dan amal. Paling terkenal tentu saja Lionel Messi dan kawan-kawan di Barcelona. Klub ini menjadi donatur tetap selama bertahun-tahun mendukung badan PBB, UNICEF. Kaos mereka hanya bertuliskan UNICEF bukan iklan komersil. Jadi, tim sepak bola besar memiliki perhatian yang sungguh-sungguh terhadap pendidikan dan masa depan anak-anak sedunia.

 

Ikon Orang-Orang Kudus

Tapi sepakbola bisa sangat delusif dan absurd. sama seperti agama konvensional. Ketika Mohamad Salah dijatuhkan Sergio Ramos pada waktu pertandingan Liga Champion antara Real Madrid melawan Liverpool FC, kelompok penggemarnya di Indonesia marah sampai-sampai mereka berencana demonstrasi di kedutaan Spanyol.

Untung saja demonstrasi membela Mohammad Salah batal dilaksanakan. Jika itu terlaksana pasti akan membuat Mohammad Salah marah besar. Sama ketika kelompok pembela Palestina  di Indonesia yang memprotes Israel sambil mengibar-ngibarkan bendera Palestina. Kedutaan Besar Palestina di Jakarta  justru tidak senang dengan pengibaran bendera itu. (*)

 


Editor: Gratia Karundeng


 

Total Page Visits: 34 - Today Page Visits: 4
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *