Connect with us
no

BERITA

Brenton Tarrant dan Sejarah Kolonialisme serta Rasisme di Australia

Senjata yang digunakan Brenton Tarrant ketika melakukan aksi brutalnya. (Foto: www.veteranstoday.com)

18 Maret 2019


Oleh: Denni Pinontoan


 

kelung.com – Brenton Tarrant (28 tahun), pelaku penembakan brutal di mesjid Al Noor dan Linwood di Selandia Baru pada Jumat (15/3/2019) adalah warga negara Australia. Tindakan brutalnya itu telah membunuh 49 orang, di antaranya terdapat warga negara India, Pakistan, Bangladesh, Arab Saudi, Malaysia dan Indonesia.

Di akun media sosialnya, sebelum melakukan penembakan, ia menayangkan sebuah dokumen manifesto setebal 70-an halaman. Pada manifesto itu ia menyebutnya dirinya sebagai orang Eropa.

“Asal mula bahasa saya adalah Eropa, budaya saya adalah Eropa, keyakinan politik saya adalah Eropa, keyakinan filosofis saya adalah Eropa, identitas saya adalah Eropa dan, yang paling penting, darah saya adalah Eropa,” tulisnya seperti dirilis The Sydney Morning Herald.

Dalam manifestonya itu, Tarrant juga menyatakan keberatan terhadap imigrasi dan multikulturalisme, dan menyesali “pembusukan” budaya kulit putih, Eropa Barat.

Tarrant menggambarkan dirinya sebagai “eco-fasis etno nasionalis”.  Dia menulis bahwa dia percaya pada “otonomi etnis untuk semua orang dengan fokus pada pelestarian alam, dan tatanan alam”.

Dalam dokumen itu, Tarrant juga menyebut perkosaan geng Skaf yang mengerikan di Sydney pada tahun 2000. Tetapi manifestonya menyatakan bahwa ia lebih memberi perhatian terhadap  perkosaan yang terjadi di Inggris dan belakangan di Jerman oleh orang non-Eropa.

Secara khusus, ia merujuk eksploitasi seksual sekitar 1400 anak-anak di kota Rotherham di Inggris utara pada akhir 1980-an, 1990-an dan 2000-an, terutama oleh pria Inggris-Pakistan.

Bersamaan dengan referensi ke Rotherham, pada senjata Tarrant tertulis nama Alexandre Bissonnette dan Luca Traini, masing-masing merupakan pelaku penembak massal di Kanada dan Italia.

Dia juga memasukkan nama-nama beberapa tokoh militer Serbia, seperti Milos Obilic, seorang ksatria terkenal pada pertempuran Kosovo tahun 1389 melawan penjajah Kekaisaran Ottoman, negara adidaya Islam pada zaman itu. Obilic disebut-sebut adalah pembunuh Sultan Ottoman.

Nama-nama lain yang tertulis pada senjata Tarrant termasuk Bajo Pivljanin dan Novak Vujosevic. Dua nama ini dikenal sebagai pemimpin pada pemberontakan melawan Ottoman pada periode setelahnya. Mereka dianggap sebagai pahlawan dalam komunitas mereka.

Juga tertulis pada senjata dan amunisinya tentang pertempuran Wina 1683. Pada pertempuran itu pasukan Kristen berhasil mengalahkan Ottoman. Tahun 1571 yang juga tertulis di senjatanya menunjuk pada pertempuran Lepanto di mana Kekaisaran Ottoman lagi-lagi mengalami kekalahan.

Dalam manifestonya, Tarrant menyebut pandangan yang diungkapkan oleh Anders Breivik, teroris sayap kanan Norwegia yang membunuh 77 orang dengan bom, dan pembantaian senjata di Norwegia pada 2011.

***

Bagaimana seorang Brenton Tarrant, warga negara Australia dengan mengatasnamakan ‘Eropa’, ‘kulit putih’ dapat melakukan tindakan yang kejam seperti itu?  Bagaimana ia dapat dikaitakan dengan sejarah kolonialisme dan rasisme di negeri Kanguru itu?

Chris Graham, editor New Matilda menulis bagaimana cara untuk memahami keyakinan yang melatari Brenton Tarrant dalam melakukan pembantain terhadap 49 jemaah muslim yang sedang melakukan sholat. Graham mengatakan, agar kita perlu terlebih dahulu meninjau sejarah Australia, negara asalnya.

“Itu akan membutuhkan penilaian yang jujur tentang sejarah bangsa ini – tidak hanya perlakuan kami terhadap Muslim, tetapi orang-orang kulit berwarna pada umumnya – dan khususnya itu membutuhkan diskusi yang jujur tentang orang-orang yang telah memimpin kami di sini, dan masih memimpin kami hingga hari ini. Hanya dengan begitu kita dapat mulai memahami apa yang menciptakan seorang pria seperti Brendon Tarrant,” tulis Graham, mantan redaktur pelaksana majalah National Indigenous Times and Tracker itu.

Menurut Graham, ketika John Howard, Perdana Menteri Australia tahun 1996 hingga 2007, pertama kali bergabung dengan Partai Liberal pada 1950-an, perbudakan orang-orang Aborigin adalah hal biasa di Australia. Tentang perbudakan itu, kata Graham, sepertinya tidak diakui secara resmi di museum atau  perpustakaan negara mereka.

Graham menuturkan, di masa itu, anak-anak Aborigin diambil dari keluarga mereka lalu dipaksa bekerja. Upah dan tabungan mereka disimpan oleh suatu badan pemerintah, dan kemudian dicuri. Sampai tahun 1986 pemerintah masih menolak untuk membayar pekerja Aborigin dengan upah yang sama dengan yang lainnya. Ketika pengadilan akhirnya memerintahkan upah yang sama, Pemerintah Queensland meningkatkan tingkat upah, kemudian memecat jumlah pekerja kulit hitam yang diperlukan untuk memastikan tidak ada dampak hingga ke bawah.

Di sepanjang masa periode Perdana Menteri Howard, seperti ditulis Graham, diskriminasi terhadap orang-orang Aborigin terjadi. Dan, seperti terlihat dari sejarah terbentuknya Australia, negara itu telah dibangun dari kolonialisme, pembataian dan peminggiran orang-orang pribumi, Aborigin dan Torres Strike Islanders.

Pada menifestonya, Tarrant menyebut nama Anders Behring Breivik. Ia bahkan menyebutnya sebagai ‘inspirasi sejatinya’. Breivik adalah pelaku pembantain 76 orang di Norwegia pada tahun 2011. Kata Graham,  Breivik memuji kaum konservatif Australia seperti Keith Windschuttle, seorang sejarawan yang dengan tegas menyangkal pembantaian signifikan yang terjadi di Tasmania pada 1800-an.

Breivik juga memuji mantan PM John Howard, bersama dengan Kardinal Katolik George Pell, yang minggu ini dijatuhi hukuman penjara karena memperkosa anak laki-laki paduan suara, dan secara seksual menyerang yang lain.

Seperti halnya manifesto Breivik, kata Graham, Tarrant juga sangat ekstrem dan mencerminkan pandangan-pandangan, orang-orang sayap kanan seperti Blair Cottrell, Shermon Burgess dan Neil Erikson.  Ketiga orang yang disebut terakhir ini adalah pemimpin United Patriots Front (UPF), kelompok nasionalis Australia sayap kanan yang anggotanya terdiri dari kaum neo-Nazi dan Kristen fundamentalis. UPF berbasis di negara bagian Victoria. Organisasi ini adalah kelompok nasionalis anti-Islam yang menentang imigrasi, multikulturalisme, dan Islam dengan melakukan protes di jalanan.

“Tarrant juga sangat ekstrem dan mencerminkan, sebagian besar, pandangan orang-orang seperti Blair Cottrell, Shermon Burgess dan Neil Erikson, tiga supremasi kulit putih yang sangat menonjol di negara ini,” tulis Graham.

“Australia, sebagai suatu bangsa, belum kehilangan arah, karena kami tidak pernah benar-benar menemukannya. Sejarah bangsa kami salah satunya adalah pembataian, tetapi salah satu penyangkalannya, adalah pembataian itu,” kata Graham.

J. Werleman, seorang jurnalis, penulis, dan analis konflik, terorisme, dan Timur Tengah pada artikelnya yang terbit di The Sydney Morning Herald berjudul “Broken white men and the racist media that fuels their terrorism” mengaitkan ‘fenomena Tarrant’ dengan media. Werlemen menulis, sekitar satu atau dua dekade lalu, ekstrimis anti-Muslim, berada di pinggiran lanskap media. Itu berbeda dengan hari ini, terutama di zaman Trump, Brexit dan kembalinya ultra-nasionalisme, mereka telah pindah ke arus utama, menikmati platform di jaringan televisi utama.

Selama bertahun-tahun, kata Werleman, surat kabar di Selandia Baru, Australia, Inggris dan AS telah menerbitkan alur cerita yang tidak akurat tentang Muslim. Kejahatan yang dilakukan kelompok-kelompok Islamis diliput secara luas, hampir empat kali lipat dari kejahatan yang dilakukan oleh kelompok lain.

“Pada akhirnya, Tarrant telah dipelihara oleh media yang mengeksploitasi politik kebencian dan perpecahan. Jika pembantaian puluhan Muslim yang begitu dekat dengan rumah bukan merupakan peringatan bahwa Islamofobia dan kebangkitan supremasi kulit putih harus ditanggapi dengan serius, lalu apa itu?”

***

Dua bangsa sebagai penduduk asli di Australia adalah Aborigin dan Torres Strait Islanders. Namun keduanya memiliki praktik budaya, bahasa, dan kepercayaan yang berbeda.

Penduduk Torres Strait Islander adalah dari keturunan Melanesia, seperti halnya orang-orang Papua Nugini. Keduanya memiliki sifat dan adat istiadat yang sama.

“Torres Strait diberi nama setelah seorang kapten Spanyol, Torres, yang berlayar melalui selat pada 1606 dalam perjalanan ke Filipina,” demikian tulis BBC.

Dua bangsa dan komunitas adat ini sudah hidup sejak ribuan tahun di Australia sebelum kedatangan bangsa Eropa. Dengan kedatangan bangsa-bangsa asing, terutama Inggris ke Australia sejak abad 16, maka dimulailah sejarah penaklukan terhadap penduduk asli di sana.

Inggris datang ke sana kira-kira tahun 1788. Tapi sebelumnya Kapten James  Cook, penjelajah Inggris telah menelusuri seluruh pantai timur di tahun  1770. Ia lalu menamakan benua itu dengan nama New South Wales. Tahun 1790-an mulai banyak orang-orang Inggris yang berdatangan ke benua itu. Maka, dimulailah sejarah peminggiran terhadap penduduk asli, yaitu orang-orang Aborigin dan Torres Strike Islanders. Itulah sejarah kolonialisme dan rasisme orang-orang kulit putih terhadap penduduk asli di sana.

Meski beberapa dekade terakhir ini telah ada usaha menerapkan politik multikuralisme, namun diskriminasi dan rasisme tersebut masih sering terjadi. Tidak semua juga orang-orang Australia berkulit putih bersikap diskriminatif dan rasis terhadap penduduk asli atau imigran.

ANTaR, sebuah organisasi advokasi nasional untuk hak-hak orang Aborigin dan Torres Strike Islander, menyebutkan, orang-orang dari kedua masyarakat asli ini terus mengalami diskriminasi rasial sepanjang waktu. Laporan The State of Reconciliation yang dirilis Februari 2016 menemukan bahwa 1 dari 3 orang Aborigin dan Penduduk Kepulauan Selat Torres telah mengalami pelecehan ras secara verbal dalam enam bulan sebelum survei.

Supremasi kulit putih, terutama dari kelompok-kelompok ‘sayap kanan’ yang rasis dan fundamentalis, kemudian berkembang dalam sikap penolakan terhadap imigran Islam.

Pada Mei 2015, kelompok UPF, yang beberapa nama pentolannya disebutkan Tarrant dalam manifestonya terlibat bentrok dengan kelompok yang menentang rasisme dan fasisme di Richmond Town Hall.

Perdana Menteri Australia, Scott Morrison mengakui adanya kelompok sayap kanan dengan ideologi supremasi kulit putih di negaranya. Morrison bahkan menyebut Tarrant sebagai seorang teroris ekstremis sayap kanan yang kejam dengan kebencian.

“Sayangnya, sentimen ini sudah ada di Australia selama ratusan tahun,” kata Morrison, seperti dilansir dari ABC News.


Editor: Andre Barahamin


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama untuk mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

320total visits,6visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *