Connect with us
no

BERITA

Diskusi “Merah Putih” dan Peluncuran Kelung.com

Diskusi Merah Putih yang dilaksanakan oleh kelung.com (Foto: Febriani Sumual)

15 Februari 2019


Oleh: Febriani Sumual


 

kelung.com – Memperingati hari bersejarah, “Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946″ kelung.com gelar diskusi bertajuk ‘Membedah Historiografi Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946’ Kamis (14/02) di Rogs Cafe Tomohon. Hadir sebagai pemantik diskusi Kolonel Infanteri Muhamad Muchidin dari Kodam Merdeka, Dr. Ivan R.B. Kaunang, akademisi dari Fakultas Ilmu Budaya Unsrat dan Denni Pinontoan, pemimpin redaksi kelung.com. Sebagai moderator Rikson Karundeng. Diskusi ini juga dirangkaikan dengan grand launching media online kelung.com.

Kolonel Infanteri Muhamad Muchidin pembicara pertama diskusi “Merah Putih itu mengatakan, ‘Peristiwa Merah Putih 14 Februari 1946’ membuktikan kegigihan anak-anak bangsa dalam mempertahankan kemerdekaan dan semangat kebangsaan dari para para pejuang yang ada di Sulawesi Utara. Nilai-nilai semangat kejuangan itu penting bagi generasi sekarang ini.

“Para pendahulu kita itu telah berjuang tanpa memandang suku, agama dan ras. Sebab tokoh-tokoh yang telah menjadi bagian dari aksi heroik itu dan juga pengibaran bendera Merah Putih datang beragam latar belakang agama dan suku,” jelas Muchidin.

Dr. Ivan R.B. Kaunang yang berbicara mengenai aspek historiografi peristiwa sejarah ini mengatakan, peristiwa ini memiliki aspek lokalitas, nasional dan internasional. Tempat kejadiannya adalah di Manado Sulawesi Utara. Ia terkait dengan pengalaman masyarakat di sini dalam konteks penjajahan sejak zaman kolonial Belanda dan hingga Jepang.

Aspek nasional, menurut Kaunang, bahwa Peristiwa Merah Putih memiliki hubungan dengan gerakan-gerakan mempertahankan kemerdekaan dalam semangat kebangsaan di Jawa, Sumatera dan tempat lain melalui tokoh-tokoh pergerakan antara lain Dr. G.S.S.J. Ratulangi. Aspek internasional, Peristiwa Merah Putih ini memberi pengaruh pada lobi dan negosiasi-negosiasi internasional Indonesia untuk memperoleh pengakuan kemerdekaan.

Denni Pinontoan, dari perspektif sebagai seorang jurnalis mengatakan, media online kelung.com merasa penting mengangkat Peristiwa Merah Putih ini sebagai edisi khusus dalam pemberitaan dengan maksud untuk melihat hal-hal menarik yang ada di sekitarnya. Baik pra, hari kejadian dan pasca peristiwa.

“Maksud kami redaksi kelung.com mengangkat tema ini adalah untuk mengatakan kepada pembaca bahwa peristiwa Merah Putih memiliki dimensi yang luas dalam kaitan dengan aspek kesejarahannya,” kata Pinontoan.

Dia juga mengatakan, selama ini memang sudah banyak tulisan dalam bentuk buku atau manuscript tentang peristiwa itu. Namun, karena peristiwa adalah klimaks dari banyak hal, maka rupanya butuh lagi penulisan-penulisan yang mengambil isu-isu menarik di seputar peristiwa itu.

 

Grand Launching kelung.com
Chief Executive Officer kelung.com, Lefrando Gosal mengatakan, grand launching media online dilaksanakan bersamaan dengan perayaan Peristiwa Merah Putih 14 Februari dengan alasan, utamanya sebagai tanda pengingat; kedua, sebagai media online yang mengutamakan kedalaman, maka nama ‘kelung‘ terkait dengan spirit yang dikandungnya.

“Spirit kami tergambar dalam tagline kelung.com, yaitu ‘menjaga garis batas peradaban’. Ini visi yang kami rumuskan karena kehadiran kelung.com bagi kami adalah alternatif media atau jurnalisme pada umumya di era internet ini. Kelunh menjadi ‘Garis batas’ antara ‘propaganda’, ‘kebohongan’ dan ‘kepalsuan’ yang dalam pemberitaan dewasa ini seolah hampir hilang. Padahal, peradaban yang adil, setara dan damai salah satunya karena peran media dalam menjaga garis-garis batas itu,” jelas Gosal yang adalah juga Ketua Badan Pengurus Wilayah Aliansi Masyarakat Adat Nusantara Sulut ini.

Rikson Karundeng, konsultan media kelung.com mengatakan, media online ini berusaha menampilkan sesuatu yang berbeda. Berita-berita atau tulisan-tulisannya mengutamakan kedalaman, namun juga berusaha untuk menjadikan pembaca bagian integral dari pengembangan media.

“Kelung.com di Indonesia unik karena sejak awal memutuskan untuk menjadikan pembaca sebagai yang pihak yang ikut dalam pengembangan media. Kelung.com menerapkan sistem donasi dari pembaca untuk pembiayaan dan pengembangan media,” kata Karundeng.

Soft launching kelung.com telah dilaksanakan pada tanggal 29 Desember 2018 lalu. Media ini telah hadir ke publik kira-kira sebulan lebih sejak soft launching tersebut dengan format media online semi-majalah. Pembaca disuguhi karya jusnalistik, berita, feature, laporan, dan tulisan kaya informasi.

“Sesuai dengan fungsi media pada umumnya, kelung.com hadir untuk memberi informasi yang mencerahkan, menghibur dan tentu perspektif baru dalam memahami sebuah peristiwa atau gejala kehidupan bersama,” tandas Pinontoan, pemimpin redaksi kelung.com.

Acara diskusi dan grand launching kelung.com ini dihadiri oleh pihak Kodam XIII Merdeka, mahasiswa, tokoh pemuda lintas agama, sejarawan, serta pemerhati sejarah dan budaya Sulawesi Utara. (*)


Editor: Daniel Kaligis

389total visits,1visits today