Connect with us
no

ESTORIE

Galileo dan Gereja yang Dapat Salah

Lukisan Cristiano Banti (1824-1904), Galileo sebelum menjalani persidangan Inkuisisi, 1857. (koleksi pribadi/De Agostini Picture Library/U. Gambar Marzani/Bridgeman)

26 Februari 2019


Oleh: Denni Pinontoan


 Galileo Galilei bukanlah seorang martir agama atau sains, tapi hukuman terhadap dia telah memberi inspirasi tentang kesadaran bahwa ‘gereja dapat salah’

 

GALILEO GALILEI lahir di dekat Sungai Arno di Pisa pada 15 Februari 1564.  Keluarga Galileo berasal dari kalangan bangsawan rendah. Ayahnya bernama Vincenzio Galilei, seorang musisi, pemain kecapi.  Vincenzio memiliki minat intelektual yang luas, termasuk matematika. Ibu Galileo adalah Giulia Ammannati. Pada 1562 Vincenzio menikah dengan Giulia Ammannati. Pernikahan mereka membuahkan tujuh orang anak. Galileo adalah anak pertama.

Galileo kecil bersekolah di Pisan Jacopo Borghini. Di rumah ayahnya mengajarkan dia ilmu-ilmu klasik. Beberapa waktu setelah keluarganya pindah ke kota Etruscan kuno Florence pada 1574, ia sendiri bersekolah di sekolah biara Santa Maria di Vallombrosa yang tertelak 25 mil timur dari Florence. Tetapi kemudian ayahya menarik dia dari sekolah itu pada tahun  1579.

“Mungkin karena pengaruh agama yang tampaknya tidak semestinya,” tulis Raymond J. Seeger dalam bukunya Men of Physics: Galileo Galilei, His Life and His Works, terbit tahun 1966.

Kata Seeger, Galileo belajar pula sastra khas periode itu, terutama yang klasik. Semisal karya-karya Ovid, Seneca, dan Virgil. Galileo tertarik pula dengan musik. Dia mahir memainkan kecapi. Tapi juga mahir musik organ. Dia memiliki ketrampilan melukis.

“Galileo, singkatnya, adalah seorang humanis khas Renaisans Italia, yang juga memiliki rasa ingin tahu yang tulus tentang fenomena fisik,” kata Seeger.

Pada tanggal 5 September 1581, Galileo diterima sebagai mahasiswa di Faculty of Arts di University of Pisa, mungkin untuk belajar ilmu kedokteran. Namun, minatnya kemudian secara bertahap fokus pada filsafat alam. Ini yang kemudian membuat dia memiliki sikap dan kemampuan kritis. Ia mendapat julukan “the wrangler” karena sikapnya itu.

“Sepanjang hidup, tentu saja, dia menentang otoritas sebagaimana yang dinyatakan dalam dogma belaka yang tidak didukung oleh bukti pengalaman,” ungkap Seeger.

Tahun 1583 dia mulai belajar matematika sebagai ekstra kurikuler dari Ostilio Ricci. Dalam perkembangan pendekatan ilmiahnya kelak, seluruhnya termotivasi oleh keinginan untuk mengetahui “bagaimana” dan “berapa” dalam rangka untuk memahami “mengapa”.

Tapi, sialnya karena kurangnya dana dan gagal memperoleh beasiswa,  pada 1585 ia harus meninggalkan Universitas dan kembali ke Florence. Galileo menjadi pemuda putus sekolah.

Di Florence dan kota Siena Tuscan ia sesekali mengajari siswa matematika. Sementara di rumah ia juga menulis drama dan puisi. Sambil itu ia mulai mengalihkan perhatiannya untuk karya-karya Yunani, terutama geometri, yaitu Syracusan Archimedes. Pada 1586 ia menulis La bilancetta  (“The Little  Balance”), tapi tidak diterbitkan sampai tahun  1644. Dia juga menulis makalah ilmiah lain berjudul “Theorems  about the Center of Gravity of Solids” ( tidak diterbitkan sampai 1638).

Pada 1587 dia melakukan perjalanan pertamanya ke Roma. Mungkin maksudnya untuk membuat dirinya dikenal oleh para sarjana di sana, kata Seeger. Di Roma Galileo bertemu astronom Jerman, Pastor Christopher Clavius (1537-1612), profesor di Jesuit Romano Collegio. Universitas ini didirikan pada 1552. Kelak terkenal dengan nama Universitas Kepausan Gregoriana.

Tahun 1592 Galileo kemudian memperoleh jabatan mengajar matematika di Universitas Padua. Ia mengajar di sana sampai tahun 1610.  Pada 1609, Galileo memperoleh gelar profesor Matematika di univesitas itu.

Galileo tidak menikah resmi dengan Marina Gamba, seorang perempuan dari Venesia. Gamba melahirkan dua anak perempuan dan seorang putra dalam kehidupannya bersama Galileo.Seeger menulis, putri pertama mereka, Virginia lahir pada Agustus 1600. Kedua, Livia, pada bulan Agustus 1601. seorang putra, Vincenzio pada bulan Agustus 1606 (wafat 1649).

Albert Van Helden pada artikelnya “Galileo, Italian Philosopher, Astronomer and Mathematician” di Encyclopedia Britannica menulis, pada 1609 Galileo menggunakan teleskop temuannya sendiri yang merupakan pengembangan penemuan serupa di Belanda. Dengan teleskopnnya itu, ia menemukan bahwa Bulan, jauh dari halus dan sama sekali tidak seperti Bumi, memiliki gunung dan kawah.

Menurut Seeger, ketertarikan Galileo pada astronomi dimulai awal 1597, yaitu ketika dia menerima salinan Mysterium Cosmographicum karya Johannes Kepler (1571-1630), seorang Astronom Jerman.

“Bertahun-tahun yang lalu, saya menjadi seorang yang bertobat dengan pendapat Copernicus, ” kata Galileo ketika menyatakan mulai tertarik dengan astronomi.

Galileo makin asyik dengan penemuan teleskopnya. Ia mulai tersohor. Dengan teleskop temuannya, Galileo menerima gaji lebih besar.

“Dia dihargai dengan masa hidup dan dua kali lipat gajinya. Galileo sekarang adalah salah satu profesor dengan bayaran tertinggi di universitas,” tulis Helden.

Pada musim gugur 1609 Galileo mulai mengamati langit dengan instrumen yang diperbesar hingga 20 kali. Beberapa temuan lainnya ditemukan pada periode ini. Galileo lalu menulis sebuah buku kecil, Sidereus Nuncius ( Sidereal Messenger).

Dengan penelitian-penelitiannya yang semakin intens, akhirnya Galileo tiba pada kesimpukan dan keyakinannya seumur hidup, bahwa  Matahari adalah pusat alam semesta dan bahwa Bumi hanyalah planet, seperti yang dikemukakan Copernicus. Ini yang disebut dengan teori heliosentrisme.


Galileo dan Gereja: Heliosentrisme vs Geosentrisme

Albert Van Helden mengatakan, pada sebuah pesta makan malam di tahun 1613 Grand Duca di Pisa terjadi percakapan serius mengenai temuan dan teori Galileo. Makan malam ini dihadiri oleh seorang mantan murid Galileo, Pastor Benedetto Castelli, yang kemudian menjadi profesor matematika di Pisa. Tetapi Galileo tidak hadir pada malam itu. Yang hadir,  antara lain Cosimo Boscalgia, profesor filsafat di Universitas Pisa.

Castelli mendengar Boscalgia mengatakan, setiap gerakan ganda bumi akan bertentangan dengan Kitab Suci. Castelli lalu melaporkan percakapan ini kepada Galileo. Atas pendapat tersebut, ia kemudian menulis surat kepada Boscalgia. Galileo mengatakan dalam surat itu, Alkitab bukanlah objek untuk dipakai dalam mengajar astronomi. Pemahaman tentang fenomena alam harus dimulai dari pengalaman itu sendiri, kata Galileo.

Pada hari Minggu keempat di minggu Advent (20 Desember 1614) Fra Tommaso Caccini (1574-1648), seorang biarawan dari Biara Dominika Santa Maria Novella di Florence berkhotbah menentang hipotesis Copernicus. Dia mengatakan, hipotesis Copernicus tidak alkitabiah. Namun, di katedral Santa Maria del Fiore seorang pengkhotbah, justru membela hipotesis Copernicus dan memuji Galileo sebagai seorang Katolik yang baik.

Tapi, Castelli, mantan murid Galileo itu mengirimkan permintaan maaf kepada pastor Niccolo Lorini, seorang profesor di Biara Dominika San Marco. Itu berarti ia secara tidak langsung menyatakan mendukung apa yang ada dalam Alkitab.

Gereja pada masa itu, secara teologis mendasarkan pengetahuan dan keyakinannya mengenai astronomi pada kisah Yosua yang menghentikan matahari. Pada kitab Yosua 10:12  tertulis, “Lalu Yosua berbicara kepada Tuhan pada hari ketika Tuhan membebaskan orang Amori di depan anak-anak Israel; ia berkata di hadapan orang Israel: ‘Matahari, berhentilah (dom) pada Gibeon; dan Anda, Bulan, di lembah Ayalon.’”

“Prasangka beberapa orang sezaman Galileo berakar mendalam seperti yang dimiliki banyak orang saat ini,” tulis Seeger.

Hipotesis yang berpandangan bahwa bumi adalah pusat tata surya ini disebut geosentrisme. Gereja dengan kuat mempertahankan ajaran ini. Tiga Paus, yaitu Paulus V, Urban VIII dan Alexander VII secara resmi menyatakan bahwa heliosentrisme bertentangan dengan Kitab Suci. Gereja mengutuk keras gagasan bahwa heliosentrisme adalah kebenaran yang harus dipercayai dengan pasti.

MS Mahoney pada artikelnya “Ptolemaic Astronomy in the Middle Ages” (www.princeton.edu) mengatakan, hipotesis Ptolomeus menyatakan bahwa gerakan matahari dan planet-planet adalah melingkar seragam serta bumi tidak bergerak di pusat alam semesta yang berputar.

Pada 5 Maret 1616 Congregatio pro Doctrina Fidei mengeluarkan Index Librorum Prohibitorum atau daftar buku terlarang yang mengutuk semua tulisan yang menganjurkan heliosentrisme. Kongregasi menyatakan bahwa teori semacam itu “salah dan bertentangan dengan Kitab Suci.” Kongregasi ini dibentuk oleh Paus Paulus III pada tahun 1542. Tujuan utamanya adalah untuk mengamankan seluruh doktrin gereja dari bahaya doktrin baru.

Pada tanggal 22 Juni 1633, Romana Inquisitio secara resmi mengutuk Galileo karena dituduh telah percaya dan menyebarkan ajaran sesat. Dalam pernyataanya dikatakan, bahwa Galileo adalah bidat karena memiliki kepercayaan dan memegang doktrin yang bertentangan dengan Kitab Suci. Disebut bertentangan, karena percaya dan yakin bahwa matahari adalah pusat dunia dan tidak bergerak dari timur ke barat dan bahwa bumi bergerak dan bukan pusat dunia. Paus Urbanus VIII adalah yang menyatakan hal tersebut kepada Galileo atas nama gereja.

Romana Inquisitio adalah sistem pengadilan yang dibuat oleh Tahta Suci (Holy See) Gereja Katolik Roma. Ia didirikan pada tahun 1542. Kerjanya adalah menuntut secara hukum orang-orang yang dituduh melakukan berbagai macam kejahatan menurut hukum gereja. Di Spanyol dan Portugis terdapat juga inkuisisi.

Galileo mungkin saja tak pernah berpikir bahwa minatnya pada matematika dan astronomi, penelitian-penelitian, serta temuan dan teorinya akan berujung pada pengadilan inkuisisi yang sangat menakutkan itu. Tapi, dia tahu persis posisi dan sikap gereja terhadapnya, yaitu menolak pandangannya.

“Dia tentu saja memiliki keberanian atas keyakinannya, tetapi itu dilunakkan oleh kebijaksanaan yang cerdas, termasuk kemungkinan berbohong dan bahkan sumpah palsu,” tulis Seeger.

Galileo memang menjalani proses pengadilan inkuisisi. Ia tidak dapat lolos dari tuntutan itu. Dia dihukum seumur hidup sebagai seorang bidat. Namun dia memperoleh izin kembali ke Villa Medici, Academie Nationale  de France sejak tahun 1863. Meskipun diizinkan oleh Paus meninggalkan Roma pada 30 Juni dia hanya bisa pergi ke Siena sebagai tahanan rumah.

Oleh karena ‘keistimewaan’ yang diterimanya ini, Seeger mengatakan ‘Galileo sama sekali bukan martir – baik untuk sains atau agama.” Seeger rupanya berharap lebih dari Galileo demi mempertahankan apa yang dia yakini dihadapan gereja yang sangat kuat itu.

Tapi James B. Miller pada artikelnya berjudul “Singing the Lor’s Song: Historical Interaction between Science and Religion” termuat pada buku In Whose Image?: Faith, Science, and the New Genetics, editor John P. Burgess (terbit tahun 1998) melihat aspek lain dari hidup dan karya Galileo. Katanya, Galileo adalah seorang yang hidup di dekat pusat otoritas Katolik Roma. Ia hidup pada masa Reformasi Protestan yang menghasilkan banyak terobosan dalam masyarakat Eropa.

Bagi Miller, Galileo mesti dipahami lebih luas dari sekadar masalah perselisihan antara agama dan sains.  Dia dan Copernicus telah berperan mengubah model teologi gereja abad pertengahan.

“Kecaman terhadapnya, pengakuan paksa, dan tahanan rumah harus dipahami lebih sebagai produk dari perjuangan sosial yang lebih luas,” tulis Miller.

Puncak karir keilmuawanan Galileo kira-kira satu abad setelah Reformasi Luther (1517). Justru masa ini gereja sedang mengembangkan upaya-upaya baru untuk memperkuat dirinya. Salah satunya inkuisisi. Sebuah sistem pengadilan yang sangat menakutkan. Itu terjadi di masa gereja memiliki kekuasaan yang besar.

Jika Martin Luther dan kawan-kawan berhasil menciptakan gerakan reformasi sosial dalam situasi politik dan ekonomi yang timpang, Galileo dan juga Copernicus dengan caranya sendiri telah mendorong revolusi ilmu pengetahuan.

Sekira 4 abad kemudian sejak pertama kali Galileo menggunakan teleskopnya, pada tahun 1999, Paus Paulus Yohanes II atas nama gereja Katolik mengakui bahwa gereja membuat kesalahan ketika mengutuk Galileo karena mempertahankan teori bahwa Bumi berputar mengelilingi matahari. Artinya, disadari bahwa gereja bukan sebagai pemegang otoritas kebenaran tunggal. Gereja dapat salah.

Mungkin inilah yang dapat dikatakan sebagai kritik radikal Galileo terhadap gereja, bukan pada saat itu, tapi kelak. Bahwa, gereja tidak selalu benar. Gereja bukan pemegang otoritas kebenaran iman dan ilmu pengetahuan.

Teolog John Hick, di tahun 1970-an kemudian mengembangkan sebuah pendekatan teologi yang disebut ‘model kopernikus’. Menurut Hick dengan model ini maka kosmologi gereja tidak lagi berpusat pada dirinya secara kelembagaan, tetapi kepada Allah. Ini mengandopsi tesis heliosentrisme, bahwa pusat tata surya adalah Matahari, bumi salah satu planet yang mengitarinya. Allah adalah pusat realitas satu-satunya.

Dalam keadaan hampir buta total, buku terakhirnya berjudul Discorsi e Dimostrazioni Matematiche, Intorno à Due Nuove Scienze diterbitkan di Leiden pada 1638.  Pada tanggal 8 Januari 1642, Galileo wafat di Arcetri.(*)

 


Editor: Andre Barahamin


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama untuk mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

733total visits,1visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *