Connect with us

INDEPTH

Jejak Rasul Kapataran

Pantai Kora-kora (Foto: Rikson Karundeng)

27 Februari 2019


Oleh: Rikson Karundeng


Guru Amos Dacosta, sang ‘Rasul Kapataran’ sebuah kisah kerja keras menjalankan keyakinan

 

BANGSA-BANGSA BARAT telah menyentuh wilayah Nusantara sejak awal abad-16. Minahasa adalah salah satu daerah yang kemudian diduduki bangsa Portugis, Spanyol dan Belanda. Bukti-bukti fisik seperti benteng sisa-sisa peninggalan masa itu, menjadi salah satu jejak kehadiran mereka.

Jan S. Aritonang dalam buku Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (2015) mencatat, kekristenan mulai diperdengarkan di Minahasa sejak tahun 1563, melalui karya misi Katolik yang dibawa oleh orang-orang Portugis.

Kekristenan terus berkembang seiring dengan kehadiran orang-orang Eropa di daerah-daerah pesisir Minahasa, seperti di negeri Kapataran. Salah satu pemukiman “tua” di tanah Minahasa. Daerah pelabuhan yang telah ramai dikunjungi orang-orang Eropa ketika mereka mulai singgah di jazirah utara Celebes.

Tahun 1817, Joseph Kam, “Rasul Maluku” melakukan perjalanan dari Ambon ke tanah Minahasa. Ia pertama kali menginjakkan kakinya di pantai Kema. Dari Kema ia kemudian berlayar menuju pantai Tondano, pelabuhan Kora-kora, untuk mengunjungi Kapataran. Sebuah tempat yang “spesial” di masa itu.

 

Dari Wanua Ure ke Kapataran

Heibert Paath, tua-tua Desa Kapataran menuturkan, pemukiman awal leluhur mereka berada di pesisir pantai, tepatnya di pantai Tondano. Di sebuah tanjung yang kemudian hari disebut orang dengan pelabuhan Kora-kora. Nama Kora-kora terkait dengan sebuah peristiwa. Suatu ketika ada perahu besar milik Portugis yang disebut Kora-kora yang hendak merapat di pelabuhan Tondano namun karam. Perahu itu tak bisa dikeluarkan sampai rusak di pesisir pantai ini. Sejak itu, tempat tersebut dikenal dengan Kora-kora.

Tou (orang) Kapataran menyebut daerah pantai Kora-kora dengan Wanua Ure (kampung tua). Makam-makam tua yang kini sepi membisu di daerah itu, memberi jawab bahwa daerah tersebut memang pernah dihuni oleh manusia. Masyarakat setempat percaya jika makam-makam itu adalah jejak peninggalan dua tumpukan keluarga, leluhur tou Kapataran yang awalnya menempati daerah tersebut.

Gangguan para perompak membuat penduduk Wanua Ure merasa tak aman tinggal di situ. Apalagi di tempat itu mereka mulai diserang berbagai wabah penyakit. Kehadiran tou lewo’ (orang jahat) dan reges lewo’ (angin jahat) jadi penyebab. Memaksa mereka pindah ke sebuah tempat yang berjarak kurang lebih 3 km ke arah barat. Sebuah pemukiman yang kemudian hari dikenal dengan Binuangan.

Disebut Binuangan oleh orang Kapataran karena tempat itu pernah menjadi lokasi pembuangan orang-orang yang dianggap bermasalah, sering menentang aturan-aturan pemerintah Belanda.

Tua-tua Kapataran lainnya, Wemfrit Watulingas menjelaskan, perompak-perompak itu dikenal masyarakat Kapataran dengan Mangindano. Mereka sering datang menyerang, merampok dan menculik warga di Wanua Ure makanya orang-orang tua bersepakat untuk pindah ke arah gunung agar lebih aman.

“Zaman Perompak” merupakan masa yang dialami masyarakat Minahasa sejak pra kedatangan bangsa-bangsa Eropa ke bumi Malesung (nama “tua” untuk wilayah tanah adat Minahasa).

Mangindano atau manga’ai n’dano yang berarti orang-orang yang datang lewat air, adalah sebutan orang Minahasa terhadap para perompak dari berbagai daerah di Filipina, sejumlah daerah di wilayah perairan timur Nusantara, termasuk pasukan Kerajaan Mongondow yang datang ke Minahasa melalui jalur laut.

Pakar sejarah maritim, Adrian B. Lapian dalam buku Orang Laut, Bajak Laut, Raja Laut: Sejarah Kawasan Laut Sulawesi Abad XIX (2010) menjelaskan, para perompak yang menguasai wilayah perairan Asia Tenggara di masa itu adalah bajak laut yang berada di kepulauan Sulu, yang terdiri dari tiga kelompok. Tiga kelompok itu adalah kelompok Lanun, Balangingi dan Mindanao. Mereka biasanya merampas harta penduduk, menculik orang untuk dijadikan budak. Aksi itu dilakukan hingga ke wilayah Minahasa.

Sebutan lebih tua untuk para perompak dan pandatang dari luar yang memasuki Minahasa sebelum “zaman Mangindano” adalah Se Wanarou’. Artinya, mereka yang datang dari seberang, datang dari tempat yang jauh. Orang Minahasa juga punya sebutan untuk orang-orang Eropa ketika mereka pertama kali datang ke Minahasa. Sebutan berbeda namun artinya sama dengan dua istilah sebelumnya. Para raindang wu’uk (rambut merah) dikenal dengan Tasikela (orang-orang yang datang dari arah paka-paka ombak).

Binuangan, pemukiman “kedua” tou Kapataran itu juga tak nyaman untuk ditempati. Lokasinya yang berbukit-bukit, sumber air yang dianggap terlalu jauh hingga intaian perompak Mangindano, memaksa penduduk harus kembali bergeser. Sebuah wilayah yang berjarak kurang lebih 2 km ke arah pegunungan, jadi pilihan. Tanah yang rata, sumber air dekat, jadi pertimbangan utama.

Daerah ini yang kemudian disebut masyarakat dengan Kapataran (tanah datar). Sekarang Kapataran telah mekar menjadi dua kampung. Kapataran Satu dan Kapataran. Daerah Kapataran Satu, di daerah Sendangan, itu pemukiman orang Kapataran sesudah dari Binuangan. Sejak itu orang Kapataran telah menetap di Kapataran sampai sekarang.

Heibert Paath mengisahkan, ketika meninggalkan Wanua Ure, ada dua tumpukan masyarakat yang menyingkir ke arah pegunungan. Tumpukan keluarga yang lain memilih tempat yang bernama Tetou,diambil dari kata Tou si Tou yang berarti seperti manusia.

Nama ini dikaitkan dengan sebuah situs, batu berukir seperti manusia di tepi sungai Raker, tepat di daerah yang disebut Tetou. Lokasi itu berada kurang lebih 2,5 km di bagian atas Kapataran (Sendangan).

Mereka tinggal sekian lama di situ namun karena masih merasa tidak nyaman, mereka mencari tempat yang dianggap lebih layak untuk dijadikan pemukiman. Sampailah mereka di tempat bernama Wengkol. Tempat itu kini berada di Desa Kapataran bagian atas.

Semakin lama pemukiman Wengkol dan Kapataran semakin besar sampai mereka menyambung kedua kampung ini. Pemukiman baru di tengah diberi nama Pasulaten, diserap dari kata Sulat yang berarti penyambung antara dua kampung yang terpisah.

Kapataran (Sendangan) dan Wengkol yang kemudian disatukan Pasulaten, akhirnya menjadi sebuah wanua yang dikenal dengan Kapataran. Setelah dimekarkan, daerah Kapataran (Sendangan) kini menjadi Desa Kapataran Satu dan wilayah Wengkol kemudian menjadi Desa Kapataran. Desa yang dalam pemerintahan Kabupaten Minahasa berada di wilayah Kecamatan Lembean Timur.

 

Masuknya Bangsa Eropa di Kapataran

Sebelum tahun 1600-an, bangsa Portugis dan Spanyol telah memasuki daerah Kapataran. Biasanya, dari pelabuhan Kema, kapal mereka menyusuri pantai hingga tiba di pelabuhan Tondano. Kebutuhan beras untuk logistik pasukan dan kebutuhan bahan lain yang biasa ada pada masyarakat Minahasa, membuat orang-orang Portugis dan Spanyol membangun komunikasi dengan orang-orang Kapataran.

Di pelabuhan Tondano, orang-orang Portugis dan kemudian Spanyol membangun benteng, gudang-gudang beras untuk menampung beras hasil barter dengan para penduduk Minahasa di seputaran danau Tondano. Pelabuhan itu kemudian menjadi sangat ramai. Jalur transportasi utama untuk suplai berbagai barang hasil barter kedua belah pihak, dilakukan dari Tondano hingga Kapataran. Kapataran menjadi salah satu tempat penting. Tak heran, banyak orang Portugis yang tinggal menetap di wanua ini.

Lama-kelamaan pelabuhan Tondano menjadi ramai dengan aktivitas perdagangan antara orang-orang dari benua Eropa itu dengan orang-orang Tondano. Sejumlah peninggalan orang-orang Portugis dan Spanyol hingga kini masih bisa dilihat di Kapataran. Ada situs, makam orang-orang bermarga Portugis, termasuk keturunan hasil perkawinan dengan masyarakat Kapataran. Salah satu keluarga besar keturunan Eropa di Kapataran bermarga Hermanus.

Di Kapataran, banyak sekali situs peninggalan sejak zaman Portugis sampai Belanda. Salah satunya yang berada di ujung Timur Desa Kapataran, dekat pekuburan umum. Di situs ini ada ukiran bergambar singa, ada yang bertuliskan Residen S.J. Jelesma. Lokasi situs berbentuk singa seperti pada lambang kerajaan Spanyol dan Belanda tersebut tepat berada di ujung timur Desa Kapataran. Di samping situs itu terdapat batu yang bertuliskan angka 1813 dan sebuah batu lain yang bertuliskan “20 Okt 1894 TB. RESIDENT E.J. JELESMA ADA DI SINI”.

Ukiran batu serupa terdapat di belakang rumah keluarga Watulingas-Kambey. Di tampat itu ada reruntuhan bangunan permanen. Menurut warga setempat, bangunan itu peninggalan Belanda. Beberapa bagian bangunan terdapat sejumlah batu berukir singa yang memegang pedang seperti dalam lambang kerajaan Belanda. Bangunan itu dulu masih berdiri utuh. Mungkin tempat tinggal, gudang atau benteng pertahanan orang Belanda. Namun tahun 1980-an, bangunan itu roboh karena gempa bumi.

Opa Heibert Paath, menuturkan jika kedatangan Residen E.J. Jelesma di Kapataran masih sempat disaksikan oleh opanya yang bernama Ertus Sumampou. Desa Kapataran sempat mendapat penghargaan dari pemerintah Belanda. Makanya, tahun 1894 Residen E.J. Jelesma berkunjung ke Kapataran. Momen kehadirannya di Kapataran diukir pada batu yang berada di ujung kampung Kapataran.

Orang-orang Belanda banyak yang tinggal menetap di Kapataran. Salah satunya bernama Korelia. Ia punya kontrak kebun yang sangat besar di Kapataran. Perkebunannya berada di daerah Leos. Sejak masa Portugis sampai Belanda, jalur Kora-kora, Kapataran, Tondano memang ramai. Di zaman Belanda, ada pos tentara Belanda di Kora-kora. Tak heran banyak orang Belanda yang tinggal di daerah Kapataran sampai Tondano.

Heibert Paath dalam Sejarah Desa Kapataran, mencatat pada bulan April 1817, “Rasul Maluku” Ds. Joseph Kam tiba di Kema. Dari Kema kemudian ia mengunjungi Kapataran. Disebutkan, di Kapataran ia sempat membaptis 26 orang. Sesudah itu, seorang Guru Injil ia tempatkan di situ. Pada bulan Februari tahun 1819, datang seorang pendeta Belanda bernama Ds. D. Lenting. Ia ke Kapataran untuk mengunjungi keluarganya dari Belanda yang menetap di situ. Ia juga mencatat, di tahun 1819 itu, Ds. D. Lenting kemudian membaptis 539 orang di Negeri Kapataran, Distrik Tondano-Touliang.

Komunikasi orang-orang Portugis dan Spanyol dengan orang-orang Minahasa berakhir di sekitar tahun 1660. Saat itu orang-orang Belanda telah memasuki Minahasa. Mereka kemudian mengusir saingan mereka sesama penduduk benua Eropa. Pelabuhan Tondano pun dikuasai. Daerah perdagangan itu berpindah tangan ke Belanda. Namun Pantai Kora-kora tetap menjadi pelabuhan penting Belanda. Heibert Paath mengakui jika ia sendiri masih sempat menyaksikan kapal-kapal Belanda datang mengangkut barang-barang di pantai Kora-kora. Kehadiran kapal-kapal itu nanti berhenti pada saat masa Perang Dunia Kedua.

Makam Amos da Costa (Foto: Rikson Karundeng)

 

Benih Kekristenan Mulai Mengakar di Kapataran

Kisah tentang Injil dan kekristenan telah lama sampai ke telinga masyarakat Kapataran dari orang-orang Portugis dan Spanyol. Namun sejak kapan masyarakat “terpikat” dan mau menjadi Kristen, data menyebutkan jika momen itu tercipta secara jelas ketika Pdt Ruben Adams menginjakkan kakinya di Kapataran tahun 1790. Di masa itu ia melakukan pengajaran kepada umat dan melakukan pembaptisan.

Senin, 7 Mei 2001 digelar Seminar Sejarah Jemaat Eben Haezer Kapataran. Hadir sebagai panelis, sejarawan Pdt. A.F. Parengkuan dan sejumlah tua-tua Kapataran seperti B.A.Supit, Heibert Paath dan Eddy Hermanus. Dalam seminar ini, 26 Agustus 1790 ditetapkan sebagai hari kelahiran Jemaat Eben Haezer Kapataran. Bulan Agustus diambil dari waktu kedatangan Josef Kam ke Kapataran (Agustus 1819), 26 diambil dari angka umat yang dibaptis oleh Kam pertama kali di Kapataran dan tahun 1790 diambil dari waktu kedatangan Pdt Johan Ruben Adams di Kapataran.

Dalam catatan sejarah gereja Kapataran, diungkapkan jika hal paling menggembirakan bagi masyarakat Kapataran ketika Pendeta Joseph Kam datang ke negeri itu. Apalagi ia membawa “oleh-oleh” seorang pemuda Ambon bernama Amos Dacosta, sosok yang kemudian hari berperan penting dalam pertumbuhan iman umat di Kapataran.

Th. Van den End menulis dalam bukunya, Ragi Carita 1: Sejarah Gereja di Indonesia Tahun 1500-1860-an (1989), jazirah Utara pulau Sulawesi dimana tanah Minahasa berdiri, menjadi wilayah penting bagi Belanda untuk mempertahankan kekuasaan di wilayah Nusantara. Orang-orang Belanda membutuhkan Minahasa sebagai gudang perbekalan. Pada tahun 1666 mereka membangun benteng di Manado. Disebutkan jika di masa itu kekristenan telah ada namun tak mengalami perkembangan. Selama beberapa tahun, orang-orang Katolik yang telah menjadi Protestan, terabaikan dalam pelayanan. Keterlantaran umat itu terjadi tahun 1600-an. Walau tak terlayani, menurut laporan tahun 1705, masih terdapat orang-orang Kristen di berbagai tempat di Minahasa, terutama daerah pesisir pantai. Masyarakat Kapataran mengungkapkan jika di tahun-tahun itu memang telah ada umat Kristen di Kapataran. Terutama orang-orang Eropa dan Indo-Eropa yang tinggal menetap di Kapataran.

Di masa itu, para pendeta Protestan dari Ternate hanya datang beberapa hari di sejumlah daerah pinggiran pantai Minahasa. Itu pun setahun sekali. Kadang-kadang tak ada pendeta selama 6 tahun. Pemeliharaan sehari-hari harus diselenggarakan guru-guru sekolah, yang tidak mendapat pendidikan untuk itu. Soalnya, Sulawesi Utara termasuk wilayah pinggir VOC dan dengan demikian juga daerah pinggir gereja.

Akibatnya, selama abad XVII-XVIII, jemaat-jemaat di Minahasa tak dipelihara jauh lebih teratur, tak seperti di Ambon. Suasana agak berbeda nanti terjadi abad XIX. Sejak tahun 1789, tidak ada lagi seorang pendeta datang berkunjung ke Minahasa dan jemaat-jemaat terlantar sampai tahun 1817, ketika Josef Kam datang dari Ambon.

Heibert Paath juga menulis, tahun 1780-an masih terdapat beberapa orang Kristen di pesisir Minahasa, yang sebagian besar adalah orang-orang Eropa dan Indo-Eropa di Manado, Kema dan beberapa tempat lain. Orang-orang Minahasa sudah berabad-abad bergaul dengan orang Eropa, mengetahui tentang agama Kristen namun hampir tidak ada yang beragama Kristen. Joseph Kam-lah yang membuka jalan bagi zending baru. Karena ia adalah satu-satunya pendeta Gereja Protestan di Indonesia Timur, maka dia bertanggungjawab terhadap jemaat-jemaat di Sulawesi Utara, termasuk di Minahasa.

Pada tahun 1817, ia berkunjung ke Minahasa. Tetapi karena ia mempunya jiwa seorang zendeling, ia tidak hanya merasa puas dengan memelihara jemaat-jemaat yang sudah ada. Ia mendatangkan seorang guru dari Ambon. Kemudian, kepada Nederlanche Zending Genoschap (NZG), dimintanya utusan-utusan baru dan dua di antaranya dikirim ke Minahasa tahun 1822. L. Lamores yang ditempatkan di Kema dan W. Muller yang ditempatkan di Manado. Mereka berdua ditempatkan di dua jemaat yang sudah berdiri tetapi mengeluh karena mengalami pertentangan dari pihak anggota-anggota jemaat dan mereka meninggal dunia sebelum bisa mengusahakan sesuatu yang berarti.

 

Semangat Joseph Kam

Th Muller Kruger menulis dalam bukunya, Sejarah Gereja di Indonesia (1959), di masa pemerintahan Inggris, telah diutus ke Indonesia pekabar injil pertama NZG dengan perantaraan London Missionary Society. Yang diutus adalah Joseph Kam. Ia bersama pekabar injil Jerman yaitu Bruckner dan Super. Mei 1814 mereka tiba di Jakarta. Super ditempatkan di Jakarta, Bruckner di Semarang dan Kam dikirim ke Ambon.

Dalam buku Joseph Kam “Rasul Maluku”, I. H. Enklaar menulis, setelah sekian lama melayani umat di wilayah Maluku, Joseph Kam datang berkunjung ke Minahasa. Beberapa kali ia mengunjungi Minahasa. Pertama kali ketika pemberontakan di pulau Saparua lagi berkecamuk. Tanggal 22 Agustus 1817, berlayarlah ia dengan kapal Swallow di bawah pimpinan Kapten Wilson, keluar teluk Ambon dan langsung menuju Ternate. Di Selat Bangka, dekat ujung timur-laut Sulawesi, Kam bertemu Ds Lenting. Tak lama kemudian ia sampai di Manado. Melalaui jalur darat, ia berkunjung ke Kema kemudian ia kembali lagi ke Manado. Usai berkunjung ke Tagulandang dan Siau, ia kembali ke Manado. Januari 1818 Kam melalui laut menuju Tanahwangko. Melayani di sana. Sesudah itu kembali ke Ambon. 9 Februari 1818 ia tiba di Ambon. Di sana ia bertemu kembali dengan Ds. Lenting.

Perjalanan Joseph Kam ke Minahasa telah membuat dirinya yakin jika Minahasa memiliki pontensi yang sangat besar sebagai ladang penginjilan. Berbagai masukan dan permitaan dari berbagai pihak agar ia mengirimkan tenaga-tenaga utusan injil ke Minahasa, semakin menguatkan keyakinannya untuk mewujudkan keinginan itu. Rencana matang pun mulai dipikirkan.

Tanggal 1 Agustus 1819, Kam kembali ke Minahasa dengan menumpang kapal perang Dispatch. Ia ditemani Jungmichel, yang ditempatkannya di Ternate. Bersama dia ada 4 orang Ambon (pembantu-pembantu Nasional) yang kemudian ditempatkannnya di Minahasa. Di Ternate ia bertemu Ds Lenting, yang saat itu menunggu kapal untuk balik ke Jawa setelah beberapa bulan berada di Minahasa. Usai meneguhkan Jungmichel di Ternate, ia melanjutkan perjalanan ke Kema. Di Manado, Kam meminta perlindungan kepada Residen untuk keempat orang yang akan ditempatkan sebagai “pembantu” di Manado, Likupang, Bolangitang dan Kapataran. Dari Kema ia berlayar menuju Pantai Tondano. Supaya dari sana ia dapat berkunjung ke negeri besar, Kapataran.

Lenting sudah berkunjung ke Kapataran pada bulan Februari tahun itu. Ia menemukan di Kapataran, orang-orang sangat suka masuk Kristen karena itu ia menganjurkan kepada Kam untuk mengirimkan seorang guru ke sana. Cerita itu semakin memberi semangat bagi Kam untuk segera bergegas ke Kapataran. Saat menginjakkan kaki di tanjung Pantai Tondano, sambil mengucapkan syukur kepada Tuhan, ia melihat sejauh mata memandang, dataran Minahasa yang berada di depannya. Dalam keyakinan yang teguh ia berucap, “Inilah tanah yang diberikan Tuhan”.

Hari itu juga Kam bergegas menuju negeri Kapataran yang telah lama ia dengar dari cerita-cerita para pelaut dan pendeta yang berkunjung ke Minahasa, termasuk Ds. Lenting. Di Kapataran ia memberikan pengajaran kepada sejumlah orang. Kemudian membaptis 26 orang sebelum akhirnya meningkalkan Kapataran. Di tempat itu ia membawa seorang guru yang masih muda belia bernama Amos Dacosta. Pria asal Ambon yang begitu bersemangat untuk melayani pekerjaan Tuhan di Kapataran.

 

Jerih Juang Guru Amos Dacosta

Sejak Joseph Kam melakukan pembaptisan di Kapataran, jemaat itu pernah mendapat “sentuhan” dari para zendeling. Ds. G.J. Helendoorn sejak berada di Minahasa tahun 1827, tercatat beberapa kali pernah mengunjungi jemaat di Kapataran. Hal yang sama dilakukan J.F. Riedel sejak tahun 1831, H. Nooij tahun 1850-1853 dan H. Roker sejak tahun 1854-1903. Namun para pendeta ini jarang dan hanya melakukan kunjungan beberapa kali saja ke Kapataran. Tugas pengajaran dan pelayanan bagi umat sepenuhnya ada di pundak Amos Dacosta. Secara efektif ia tinggal dan melayani sepanjang 1819-1870.

Pergumulan Guru Amos sangat berat ketika melayani umat di tempat ini. Watak keras penduduk pesisir, ditambah keyakinan yang masih kuat terhadap agama dan kepercayaan Minahasa, menjadi tantangan berat. N. Graafland di buku Minahasa Masa Lalu dan Masa Kini (1869) mengisahkan, ketika ia berkunjung ke Kapataran, ada banyak perubahan-perubahan yang terjadi di tempat itu. Rumah-rumah besar masyarakat yang ia lihat puluhan tahun sebelumnya, sudah mulai berganti dengan rumah-rumah kecil yang lebih rapih. Ia kemudian menemukan orang tua, Guru Amos, yang masih setia di situ.

Graafland menceritakan jika di kemudian hari ia bertemu kembali dengan Amos yang sudah berusia lanjut. Ketika itu, ia telah digantikan anaknya untuk mengajar umat di Kapataran. Amos melayani sejak 1819-1870 dan wafat pada tahun 1874. Jadi, diperkirakan kunjungan kedua Graafland ke Kapataran sekitar tahun 1870-1874.

Kesan yang didapat dari cerita Graafland, wajah Amos tidak begitu halus (tidak cakep) dan terlihat tidak begitu pintar. Orang Ambon murid Pendeta Riedel yang mengecap pendidikan sedikit namun ditempatkan di negeri yang sangat sulit. Lebih seperempat abad ia tetap setia di tengah berbagai kesukaran, penghalangan, berbagai tuduhan yang buruk, penghinaan serta ejekan. Di tengah generasi yang penuh kejahatan. Orang-orang dengan prilaku seperti itu, menurut Graafland, sangat sedikit di Minahasa.

Walau demikian, Graafland menceritakan, Amos beserta istrinya Luisa Wewengkang dengan tabah di dalam kekuatan Tuhan telah dapat bertahan hidup tanpa cacat di tengah-tengah lingkungan dunia yang penuh dosa. Walau terdapat sifat tidak berterima kasih, kekerasan dan itikad yang tidak baik terhadap pengabdiannya selama bertahun-tahun, ia telah bekerja keras tanpa kenal lelah untuk penyelamatan jiwa orang-orang yang telah terjatuh begitu jauh dan Tuhan telah dengan rasa puas serta belas kasih menengoknya kepada karyanya itu. Akhirnya ia telah menjadi pemenang di dalam perenungan melawan kegelapan.

Masyarakat Kapataran mengisahkan, Amos Dacosta menikah dengan putri asli Kapataran. Anak Wewengakang, keluarga yang memberikan sebidang tanah untuk mendirikan rumah bagi Amos Dacosta. Dari pernikahannya, lahir 7 orang anak. Hermanus, Geret, Alexander, Corneles, Benyamin, Paulina dan Meina.

Ketika Graafland mengunjungi Kapataran kedua kali, ia menemukan banyak orang yang telah dibaptis, bahkan ratusan jumlahnya. Buah pelayanan yang telah dikerjakan Amos dan istri serta anak-anaknya yang luar biasa. Tapi Graafland mengakui, kebanyakan umat dibaptis tanpa memperoleh “bagian lain” dari kekristenan itu. Di sana bukan hanya terdapat bentuknya yang keliru tapi lebih banyak dosa. Banyak yang masih tetap terikat dengan tradisi “agama tua” Minahasa. Ia juga mendapati, ada jemaat yang beranggapan bahwa tidak ada lagi yang diperlukan dari ajaran Kitab Injil itu.

Di kemudian hari, kerja pelayanan Amos Dacosta dianggap tak sia-sia. Banyak zendeling yang berpendapat jika Amos sukses dalam kesetiaanya melayani umat Tuhan di Kapataran. Menurut Graafland, generasi yang baru, yang dibesarkan di bawah pengawasan Amos, telah menjadi Kristen dan orang-orang tua telah sebagian mengikutinya.

Joseph Kam sendiri sejak awal telah meyakini jika kegigihan Amos akan membuahkan sukses besar. Kam memuji semangat berkorban orang Ambon muda itu, yang mau datang ke Kapataran, jauh dari negerinya sendiri, untuk melayani pemberitaan Injil dan pengajaran. Karena itu, dorongan dan segala bentuk motivasi telah ia tinggalkan sejak awal bagi Amos. Ketika kembali ke Minahasa tahun 1831, Kam telah mendengar jika Amos tetap setia berjuang dalam pergumulan yang besar di Kapataran.

Pada tahun 1825, Gubernemen (pemerintah Kolonial Belanda) telah membuka lima buah sekolah di Manado, Kema, Tanahwangko, Likupang dan Amurang, atas desakan Pendeta Daniel Muller. Tahun 1826, dibuka lagi enam sekolah di Kakas, Langowan, Paniki Bawah, Tateli, Lota dan Kapataran. Sekolah semacam ini kemudian dikenal dengan nama Sekolah Gubernemen. Menurut Graafland, di sekolah ini tidak memiliki pelajaran agama Kristen.

Sejak awal pendirian hingga proses belajar-mengajar di Sekolah Gubernemen Kapataran berjalan, Amos Dacosta berperan sangat penting. Berbagai upaya dilakukannya untuk mencerdaskan masyarakat Kapataran. Walaupun banyak yang malas untuk datang belajar di sekolah, Guru Amos tak pernah putus asa. Dengan segala keterbatasan diri, berbagai macam cara dilakukan selama puluhan tahun demi menjangkau sebanyak mungkin anak-anak di Kapataran.

Saat Graafland bertemu terakhir kali dengan Amos Dacosta di usia lanjut, ia tidak lagi mengajar sebab anaknya telah mengantikannya di situ. Tapi selama beberapa waktu Amos masih memberi diri melayani secara sukarela bagi jemaat tanpa bayaran. Kata Graafland, Sungguh orang yang baik. Ia berada di hari tua tanpa biaya pensiun. Graafland sendiri mengkritisi kondisi itu sebagai sebuah kelemahan dalam sistem organisasi yang diatur pemerintah ketika itu.

Seberapa besar tantangan yang dihadapi Amos ketika melayani, dapat dilihat dari kesaksian sejumlah zendeling. Kapataran digambarkan seperti sebuah negeri yang “penuh dosa”. Berbagai bentuk kejahatan masih menjadi pemandangan keseharian di masa pelayanan Amos. Menurut Graafland, dahulu Kapataran merupakan negeri yang besar. Dari ratusan rumah tangga, yang tersisa hanya sedikit. Ini bukan disebabkan pemindahan tempat tinggal, tetapi oleh kesusilaan, keletihan luar biasa dan kematian penduduk. Memang ada masa-masa terjadinya wabah penyakit yang bisa dihubungkan dengan itu tetapi pengurangan jumlah penduduk seperti itu hanya bisa terjadi oleh keburukan umum yang berkecamuk ketika itu.

Awalnya, banyak masyarakat yang menganggap enteng bahkan membenci Amos. Mereka enggan mendengarkan ajaran-ajaran kekristenan yang ingin ditegaskan Amos. Tak heran jika ada umat yang telah dibaptis namun belum dalam kesadaran iman Kristen yang diharapkan Amos. Persekutuan-peserkuatan ibadah masih dilalaikan dan perbuatan asusila masih gemar dilakukan. Diceritakan, Pendeta Riedel, penginjil terkenal di Minahasa, suatu ketika pernah datang ke Pantai Tondano dan melakukan pembaptisan serta melaksanakan Sakramen Perjamuan Kudus di sana namun ia tidak singgah di Kapataran. Walaupun jemaat datang memohon kepadanya namun ia menolak dengan rasa marah.

Menurut Riedel, selama mereka masih mengabdi kepada dosa dan ajaran Tuhan serta ibadahnya diterlantarkan dan menghina hamba-Nya di tengah-tengah mereka, maka ia akan menganggap mereka lebih rendah dari orang-orang penyembah berhala.

Riedel terus berkeras hati untuk mengunjungi jemaat Kapataran, melayani mereka dengan Firman Tuhan. Kondisi ini memicu pertentangan dalam jemaat. Orang-orang yang suka pelayanan jemaat di Kapataran berkata, “apakah mereka harus dikorbankan karena ada orang lain yang tidak mau memeluk agama Kristen?”. Mereka mempertanyakan itu langsung kepada Ridel. Permintaan itu ternyata meluluhkan hati Riedel. Ia pun berjanji, akan datang tapi harus dipisahkan orang-orang yang sungguh-sungguh mau jadi Kristen dan mereka yang berkeras hati tidak mau menerima Kristen. Mereka harus tetap di luar gereja.

Rudy N Assa menulis di Sejarah Ringkas GMIM (2003), dalam penelusurannya ia mendapati jika kegiatan pelayanan Amos Dacosta tak hanya di Kapataran saja. Ia juga melayani jemaat-jemaat sekitar “Tondano Pante”. Dari kerja pelayanan itu, Assa menyimpulkan bahwa Amos adalah pejuang injil yang sangat gigih. Karya rasulinya di sekitar Tondano Pante telah membuktikan ia adalah seorang rasul yang tabah dan berhasil. Di masa-masa awal, ia lebih banyak menerima ejekan, hambatan dan perlakukan yang tidak bersahabat dari masyarakat. Ia lebih banyak menerima penghinaan dan penderitaan dari pada menerima penghormatan sebagai seorang guru dan penginjil. Sekalipun situasinya sangat menekan dan tidak menyenangkan, Amos tetap setia menjadi pelayan Tuhan yang setia di Kapataran dan sekitarnya.

Selama puluhan tahun Amos Dacosta telah melayani dengan sabar orang-orang yang sering mengasari dan berperilaku buruk kepadanya. Awalnya ia sangat sulit meyakinkan masyarakat, apalagi mendidik mereka secara kristiani. Namun setelah sekian tahun berjuang, ada beberapa orang yang siap dibaptis tanpa paksaan. Pembaptisan itu terus berlanjut hingga suatu masa ada ratusan orang yang bisa dibaptis.

Di akhir masa pelayanannya, negeri Kapataran sudah banyak kemajuan. Kehidupan masyarakat sudah lebih teratur, tindakan-tindakan asusila dan berbagai bentuk kekerasan mulai ditinggalkan. Semakin banyak jemaat yang setia dalam peribadatan dan menjalankan prilaku hidup yang kristiani. Generasi baru hasil didikan Guru Amos telah lahir. Anak-anak Amos telah “menjelma” menjadi pengajar-pengajar yang handal untuk meneruskan pelayanan pendidikan yang telah dimulai orang tua mereka. Heirbert Paath menulis, sejumlah guru asli Minahasa yang luar biasa kemudian hadir. Salah satunya, Guru Jemaat Lepinus Rumate. Sosok pelayan Tuhan yang melanjutkan tongkat estafet pelayanan dari Amos Dacosta, sejak 1870-1930.

Amos Dacosta adalah salah seorang dari beberapa “pengisah kekristenan” di Minahasa. Asli Nusantara yang jauh-jauh meninggalkan tanah kelahirannya demi menjadi seorang abdi Tuhan di tanah Minahasa. Jauh sebelum orang-orang Minahasa melakoni hidup serupa di belahan lain Selebes, pulau Sumatera dan berbagai tempat lainnya di Indonesia. Ia menghabiskan masa mudanya hingga akhir hidupnya di tanah keturunan Lumimuut-Toar. Mengabdi sebagai seorang guru dan penginjil bagi masyarakat Kapataran. Tulisan-tulisan para zending memang hampir tidak pernah menyebutkan nama ini dalam catatan apapun, kecuali N.Graafland yang menyebut nama Amos sekilas dalam catatan perjalanannya.

Dalam lembaran pemerintah Belanda, sosok pribumi ini barangkali tak masuk “hitungan” sebagai Pekabar Injil di Minahasa tapi dalam ingatan orang Kapataran, Amos Dacosta adalah guru, Rasul Kapataran, yang paling berperan penting dalam kerja penginjilan di wilayah ini.

Orang Kapataran meyakini, kerja pelayanan yang dilakukan Amos Dacosta untuk jemaat Kapataran dan sekitarnya adalah hal yang luar biasa bagi perkembangan gereja Tuhan di tanah Minahasa. Kesabaran dan kegigihannya telah membuahkan hasil yang luar biasa. Kesetiaannya untuk menetap, mendampingi jemaat yang dilayani hingga ajal menjemput, adalah teladan sungguh bagi mereka yang kemudian mengaku sebagai pelayan Tuhan.

Kemampuannya menciptakan kader untuk melanjutkan tongkat estafet pelayanan merupakan strategi sukses yang harus diacungi jempol. Guru Amos boleh banyak keterbatasan tapi murid-murid yang berhasil ditelorkan banyak yang luar biasa. Termasuk anak-anaknya sendiri. Tak heran jika zendeling hebat seperti Joseph Kam, J.F.G. Riedel dan N. Graafland pun “angkat topi” kepadanya.

Kisah yang enak didengar di penghujung masa pelayanan Amos Dacosta dan keluarganya tak muncul dengan sendirinya. Banyak pergumulan yang sudah dihadapi sejak awal. N. Graaflad ketika berkunjung ke Kapataran, menganalisa, persoalan yang dihadapi Amos disebabkan pengaruh pendidikan di sekolah yang tidak sampai ke rumah tangga. Kehidupan umat tak mampu menjadi kesaksian yang hidup dari pada Kristus dan disiplin jemaat masih jauh dari yang diharapkan.

Dari cerita yang dituliskan Graafland terlihat jika pendidikan ala zendeling yang terlalu keras, bahkan sering “mengancam”, yang menjadi persoalan bagi umat sehingga lama-kelamaan enggan dengan pengajaran yang diberikan Guru Amos Dacosta dan para zendeling. Pemberlakuan displin gereja secara ketat, termasuk hukuman, sepertinya menjadi salah satu sebab sehingga jemaat banyak yang tidak suka ke persekutuan ibadat. Namun bagi Graafland, ancaman dan displin dalam pendidikan dilegalkan demi membentuk jemaat lebih baik.

Van den End menulis, berdasarkan laporan para pendeta yang berkunjung ke Minahasa sejak masa awal 1700-an, pekerjaan yang dilakukan para pendeta mengikuti pola sejak zaman Xaverius atau pola penginjilan Fransiskus Xaferius. Orang diharapkan menghafal pokok-pokok iman; ada sedikit penjelasan tentangnya; ada pelayanan baptisan tapi sakramen perjamuan kudus kurang sering dilayankan dan hanya untuk segolongan kecil umat. Kekudusan baptisan tidak dijaga oleh pendeta-pendeta yang datang berkunjung, calon-calon baptisan yang telah dipersiapkan oleh para guru setempat itu diperiksa sepintas. Adakalanya hanya pada satu hari saja dibaptis ratusan orang, tanpa adanya pendidikan, tanpa pemeriksaan dan tanpa adanya pemeliharaan selanjutnya. Keadaan lebih gawat selanjutnya adalah soal bahasa, di sini juga bahasa Melayu menjadi bahasa pengantar di gereja dan sekolah, bukan bahasa daerah.

Kondisi umat Kristen awal di Kapataran sepertinya demikian. Sehingga Amos harus berhadapan dengan umat yang punya tradisi “asal so maso Kristen” tapi dalam kehidupan sehari-hari tidak mau terikat dengan berbagai aturan gereja. Tradisi “agama tua” yang masih kuat dan begitu mengakar membuat kekristenan tak lebih dari sebuah “tren”. Umat menjadi Kristen tapi dalam kehidupan sehari-hari tetap menjalankan aturan-aturan adat dan petunjuk “agama tua”.

Keterbatasan pendidikan Amos Dacosta ikut mempengaruhi kelancaran kerja pelayanannya di masa awal. Ini menjadi persoalan serius. Belum lagi kemampuannya untuk berkomunikasi dengan masyarakat Kapataran yang masih sulit menggunakan “bahasa komunikasi” para zendeling, bahasa Melayu. Jadi dalam dirinya, Guru Amos muda berhadapan dengan persoalan keterbatasan pendidikan, pengalaman dan kemampuan membahasakan ajaran dengan bahasa yang dimengerti masyarakat setempat. Berdasarkan hasil penelitian tahun 1853, para guru di Minahasa ketika itu memang rata-rata memiliki banyak keterbatasan. Bahkan disebutkan jika mutunya sangat tidak memadai. Fakta itu diungkapkan J.W.Guning dalam Uit en over de Minahasa: De Protestansche zending in de Minahassa (1924).

Sementara dari luar, Guru Amos harus menghadapi umat yang begitu kuat berpegang pada ajaran dan tradisi leluhurnya. Karakter masyarakat Kapataran yang “kete”, warisan “darah Tolour’, darah pelaut-pelaut handal Minahasa berwatak keras, keturunan para pejuang heroik yang melawan penjajah di era Perang Tondano, juga menjadi persoalan lain yang butuh waktu lama untuk “disekolah” Guru Amos Dacosta.

Dari pengalaman pelayanan “Rasul Kapataran” Amos Dacosta, dapat diketahui bahwa bekal pendidikan, kemampuan beradaptasi dengan jemaat, ketulusan bekerja tanpa pamrih atau imbalan dan kesabaran dalam menghadapi setiap pergumulan, menjadi kunci pokok meraih sukses dalam menjalankan pekerjaan pelayanan. Keunggulan itulah yang membuat Guru Amos Dacosta sukses hingga N. Graafland menyaksikan bagaimana kondisi jemaat Kapataran di penghujung waktu pelayanan sang Rasul Kapataran, “Namun sekarang negeri Kapataran termasuk dalam golongan jemaat yang baik, dimana terdapat kehidupan rohani serta cara hidup yang bersifat Kristen.”

Kekaguman Graafland terhadap kesetiaan, kesabaran dan kegigihan Amos Dacosta dalam menjalankan kerja pelayanan bagi umat di Kapataran, terungkap dalam kata-katanya, “Saya ingin agar namamu serta karyamu jangan dilupakan, namun hal itu tidak perlu; sebab jika halaman-halaman ini telah lama berubah menjadi debu, dan telah tersebar ke empat penjuru dunia, namun masih juga namamu tercatat di dalam buku kehidupan, yang akan ada selama-lamanya.”(*)

 


Editor: Denni Pinontoan


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan.
KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama untuk mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

281total visits,6visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *