Connect with us

CULTURAL

Kisah “Minyak Baru” dan ‘Tai Minya’ di Zaman Lama

Pemandangan Minahasa akhir tahun 1930-an. Tampak pohon-pohon kelapa dan di kejauhan gunung Klabat. (Foto: Ir. Adolf Herman Verkuyl dalam ‘The Nederland” edisi Februari 1938).

28 Mei 2020

 


Oleh Denni Pinonton


 

Saya masih ingat betul suatu kebiasaan oma dan ibuku waktu itu, yaitu membuat minyak kelapa atau dalam bahasa kami disebut ‘minyak baru’

 

MOTOLING, awal tahun 1980-an. Waktu itu saya masih kanak-kanak, kelas 1 atau kelas 2 Sekolah Dasar. Rumah opa dan oma kami berada di ujung Motoling. Kota kecil ini terletak di  selatan Tanah Minahasa. Rumah itu berdiri di tanah milik sebuah keluarga yang berbaik hati kepada keluarga kami.

Opaku seorang tukang gerobak sapi. Orang-orang suka menyebutnya ‘bas roda’, dan menyapanya dengan sebutan “Om Bas”. Omaku adalah seorang perempuan yang bersama suaminya, opaku, gigih dalam perjuangan hidup keluarga.

Keluarga besar kami adalah penyintas di masa pergolakan Perjuangan Semesta (Permesta). Ketika tentara pusat membom Minahasa akhir tahun 1950-an, opa, oma, dan anak-anak mereka menyingkir dari tanah kelahiran Kawangkoan menuju ke selatan Minahasa hingga terakhir menetap di Motoling.

Opa dan omaku memiliki sebidang lahan kebun, kurang lebih 1 hektar luasnya. Di kebun itu ada beberapa tanaman tahunan, cengkih, kelapa dan beberapa pohon kopi. Ke kebun itu kami berjalan kaki. Jarak dari rumah sekitar 4 kilo meter.

 

“Minyak Baru” dari Zaman Lama

Sering sekali kami ke kebun itu. Di kebun, opa memungut berapa buah kepala kering yang jatuh. Kira-kira empat bulan sekali buah kelapa dipetik untuk dibuat kopra. Bukan opa yang mengerjakannya sebab ia selalu sibuk di bengkel gerobak sapinya. Ada orang-orang tertentu yang mengolahnya dengan sistem bagi hasil.

Tapi di tahun-tahun itu, bukan kopra komoditi yang sedang naik daun, melainkan cengkih. Karena harga yang mahal dan memberi untung banyak, cengkih mendapat julukan sebagai ‘emas coklat. Dari masa itulah muncul cerita, karena cengkih, “Hele cuci tangan pake bir” (sedangkan mencuci tangan saja, pakai bir).

Biasanya kami pulang dari kebun hari sudah sore. Opa memikul beberapa buah kelapa yang dipungutnya, lalu oma menenteng bakul berisi sayur-mayur, umbi-umbiaan dan juga buah kopi yang dipetiknya bersama ibu. Berjalan kaki bersama kami pulang ke rumah.

Saya masih ingat betul suatu kebiasaan oma dan ibuku waktu itu, yaitu membuat minyak kelapa. Kami menyebutnya ‘minyak baru’.

Di Minahasa, kelapa mulai ditanam sejak pertengahan abad 19. Nicolaus Graflaand dalam sebuah bukunya yang terbit tahun 1863 menyebut kelapa yang ditanam secara swadaya oleh orang-orang Minahasa. Ini berbeda dengan kopi yang menjadi tanaman komoditi pemerintah dengan sistem tanam paksa.

Tahun 1920-an sampai sebelum akhir tahun 1930 orang-orang Minahasa merasakan kejayaan ekonomi karena harga kelapa dunia yang meroket. Tapi, ketika krisis ekonomi global awal tahun 1930-an menyebabkan harga kopra internasional jatuh, orang-orang Minahasa mulai mengiatkan lagi pembuatan minyak kelapa di rumah masing-masing seperti masa sebelumnya. Selain untuk kebutuhan rumah tangga, minyak kelapa produksi sendiri itu juga dijual ke pabrik untuk diolah  menjadi sabun.

”Industri sabun merupakan dewa penyelamat bagi petani kelapa setelah harga kopra mengalami kemerosotan akibat depresi,” tulis Effendy Wahyono dalam tesisnya di Universitas Indonesia berjudul, ”Pembudidayaan dan Perdagangan Kopra di Minahasa (1870-1942)”.

Kembali ke kisah membuat minyak kelapa.

Keesokan harinya, kelapa-kelapa yang dibawa pulang itu diolah untuk dibuat minyak. Proses awalnya adalah mengupas setiap buah kelapa dengan menggunakan alat sederhana yang kami sebut ‘klewang’. Setelah sabutnya dikupas, yang tertinggal adalah tempurung yang membungkus daging. Air di dalamnya dikeluarkan dengan cara memukulkan bagian punggung parang atau kami menyebut ‘peda’ pada batok kelapa atau tempurung hingga terbelah dua.

Buah-buah kelapa itu kini tersisa daging yang menempel di batoknya yang telah terbelah dua. Saatnya buah-buah kepala tersebut diparut atau kami menyebutnya ‘dicukur’. Ya, ‘cukur kelapa’, begitulah umumnya orang-oranng Minahasa menyebut kerja ‘memarut buah kelapa’. Entah bagaimana dua kata yang sebetulnya berbeda arti ini, di masyarakat kami ia menjadi sama.

Jika jumlah kelapa hanya 5 atau 10 buah, biasanya hanya menggunakan alat cukur yang umum tersedia di hampir setiap rumah. Ia berbentuk seperti bangku kecil. Di ujungnya ditancapkan besi bergerigi untuk memarut daging kelapa. Orang memarut sambil duduk mengangkang. Kedua tangan memegang batok kelapa memarut daging di besi bergerigi itu.

Tapi jika buah kelapanya banyak, lebih dari 10 misalnya maka biasanya menggunakan alat cukur yang lain. Alat cukur ini hanya ada di keluarga-keluarga tertentu saja. Ia masih manual, tapi sudah lebih baik dari alat cukur duduk tadi. Bentuknya kotak, seperti lemari kecil. Kerangkanya terbuat dari kayu. Alat memarut daging kelapa terbuat dari besi yang berbentuk lonjong bergerigi tajam. Ia di taruh di bagian tengah. Rantai sepeda motor menghubungkannya dengan sebuah alat lain berbentuk bundar sebesar nyiru yang terbuat dari semen. Rantai yang lain menghubungkan alat itu dengan pedal. Agar daging kelapa dapat diparut, maka si pencukur harus menginjak pedal naik turun. Gerakan ini lalu memutar alat bundar seperti nyiru itu. Dengan rantai ia memberi gerakan memutar alat parut bergerigi tersebut. Parutan kelapa jatuh pada wadah berbentuk kotak di bagian tengah.

Daging kelapa diparut dengan cara menekan batok pada besi lonjong bergerigi itu. Posisi pemarut berdiri. Semakin kencang putarannya, semakin cepat alat itu mencukur atau memarut daging buah kelapa. Seorang pencukur kelapa harus lincah menggerakkan kakinya menekan pedal di bagian bawah secara bergantian, kanan dan kiri. Tangan yang memegang batok kelapa juga harus lincah dan terampil. Jika tidak, bagian telapak tangan akan terkena gerigi besi. Sering sekali ada pencukur kelapa yang telapak tangannya terluka.

Oh, ya. Alat pencukur kelapa ini tidak digunakan cuma-cuma. Pemarut kelapa mesti membayar sewa. Alat bayarnya bukan uang, melainkan buah kelapa atau tempurung. Saya tidak ingat lagi berapa buah kelapa atau tempurung sekali mencukur. Tapi yang pasti, jumlahnya berbeda-beda tergatung banyaknya banyaknya buah kepala yang dicukur.

Setelah semua selesai, maka parutan kelapa dikeluarkan dari tempatnya lalu ditaruh dalam wadah yang sebelumnya dipakai untuk membawakan buah-buah kelapa yang telah dibela. Tempurung kelapa lalu ditaruh di atasnya.

Di rumah, proses selanjutnya adalah memeras air santan. Seingat saya, dan begitu umumnya cara memeras santan adalah menyiramkan air mendidih pada parutan daging kelapa. Sesat sebelum diperas ditambah dengan air mentah. Kata oma saya, air mendidih fungsinya untuk membuat jumlah perasan santan menjadi lebih banyak.

Ada dua cara memeras parutan kelapa. Cara pertama dengan menggunakan kain. Parutan kelapa ditaruh di dalamnya lalu diremas sekuat tenaga hingga keluar santan. Cara ini cukup menguras energi. Biasanya cara ini dilakukan untuk jumlah kelapa yang tidak terlalu banyak.

Cara kedua dipakai untuk jumlah buah kelapa yang banyak. Cara ini membutuhkan alat bantu berbentuk peti terbuat dari kayu dengan bagian atas terbuka. Bagian bawah salah satu ujung dibuat berlobang-lobang kecil.

Parutan kelapa ditaruh di dalam peti kayu itu. Lalu disiram air mendidih, beberapa menit kemudian ditambah lagi air mentah. Lalu cara memerasnya bagaimana? Nah, ini yang selalu membuat saya merasa geli jika mengingatnya.

Memeras dengan cara ini menggunakan kaki, bukan tangan. Orang yang akan memeras, sebelumnya harus mencuci kakinya hingga bersih. Kemudian masuk ke dalam peti dan menginjak-nginjak parutan kelapa dengan kaki telanjang.

Setiap injakan akan menghasilkan santan yang terperas dari parutan.  Tidak boleh diam. Tubuh harus terus bergerak, telapak kaki dengan lincah menginjak berulang-ulang parutan kelapa. Jika diperhatikan seperti orang sedang menari Maengket atau Kawasaran.

Santan yang diperas mengalir melalui celah berlubang-lubang kecil di salah satu ujung peti. Sebuah wadah disiapkan untuk menampung santan yang bertetesan.

Baik memeras dengan menggunakan kain ataupun peti kayu, biasanya dilakukan dua atau tiga kali, sampai benar-benar dipastikan tidak ada lagi tersisa santan pada parutan. Ampas parutan sisa perasan tidak langsung dibuang. Jika di rumah itu memelihara babi, maka ampas dapat menjadi makanan ternak itu. Saya ingat, ada satu ekor babi yang kami pelihara di belakang rumah waktu itu.

Apakah santan itu sudah langsung dapat dimasak? Bisa, ya, bisa juga tidak. Lagi-lagi ada dua cara.

Cara pertama, biasanya dilakukan untuk jumlah kelapa hanya sedikit atau untuk maksud mendapatkan ampas masakan santan yang manis. Ampas minyak ini kami menyebut ‘tai minya’. Dalam bahasa Tontemboan disebut ta’ina in solo.

Cara kedua biasanya dilakukan untuk jumlah santan yang banyak. Biasanya butuh waktu satu malam untuk merendamnya. Ini dilakukan untuk memisahkan antara santan dari air. Air mengendap di bawah, dan santan mengapung di atasnya. “Tai minya’ yang diperoleh dari cara kedua ini tidak manis.

Santan dimasak menggunakan wajan, jika jumlahnya banyak yang digunakan adalah wajan besar atau kami menyebutnya kuali. Wajan atau kuali ditaruh di atas perapian yang kami sebut ‘dodika’. Api dihasilkan dari pembakaran kayu api, tempurung dan juga sabut kelapa atau dalam bahasa kami disebut gonofu. Jadi, semuanya memiliki kegunaannya masing-masing.

 

Carita ‘Tai Minya’

O ya, kita kembali ke soal ‘tai minya’. Namanya ‘tai’, tapi ia punya rasa khas yang bikin enak makanan. Untuk yang rasanya manis, sangat pas sekali dimakan bersama ubi talas atau pisang goroho rebus. Wuih, rasanya sungguh enak dalam ukuran orang Minahasa tentunya. Saya sering tidak tahan jika mengingat jenis makanan itu.

Untuk ‘tai minya’ yang tidak manis, lain lagi olahannya. Ia sangat enak rasanya jika dicampur pada tumisan tunas pakis (sayur paku) dan daun pepaya. Mengingat jenis makan ini, saya sering langsung merasa lapar.

Tapi satu hal yang menarik, ‘tai minyak’ ini adalah juga ungkapan dalam percakapan sehari-hari orang Minahasa. Misalnya dalam percakapan sering terdengar orang berkata, “Ngana ini so talalu tai minya” (Kau ini sudah terlalu membual atau berdusta). Atau dalam perkataan, “Ngana pe carita ini tai minyak samua” (ceritamu ini semua dusta).

Ada lagu Manado yang berjudul “Ampas Kalapa”. Syair pada bait pertamanya berbunyi begini:

Kita bukang ampas kalapa

Ngana ramas ngana buang

Ta sisa santang kong na mo beking minya…

kita ini na da tanya

kita ini na da kaweng

Jang bagitu jang na mo ba tai minya…

Serta so abis itu manis

Ngana bilang vaya condios

 

Jang bagitu jang na mo ba tai minya…” artinya “Jangan begitu jangan kamu berdusta”. Lagu ini agaknya mengandaikan dusta cinta itu seperti ‘tai minya’. Si pengarang lagu ini rupanya dekat dengan kebiasaan orang-orang di sini membuat minyak kelapa sendiri di rumah. Ah, kreatif juga si pengarang lagu ini.

Entah bagaimana riwayat ‘tai minya’ yang bikin lezat makanan itu menjadi ‘dusta’.

Tapi memang dalam sejarah Indonesia modern, kopra pernah jadi soal besar bagi orang-orang Minahasa. Tahun 1957 Perjuangan Semesta (Permesta) dideklarasikan di Makasar. Setahun kemudian, perang terjadi di Minahasa. Monopoli perdagangan kopra oleh pemerintah pusat adalah pemicu lahirnya protes tokoh-tokoh di Celebes dan Indonesia Timur pada umumnya. Permesta adalah gerakan protes itu. Orang-orang Minahasa rupanya merasa telah didustai oleh pemerintah pusat dengan ketidakadilan ekonomi itu. Kalau di masa kini, dusta politik itu mungkin akan disebut ‘tai minya keadilan.’

Lantaran ‘perang sudara’ itu, Opa, Omaku dan anak-anak mereka, keluarga besar kami mesti menyingkir hingga menetap di Motoling, sebuah kota kecil yang berjarak kurang lebih  75 kilometer dari tempat kelahiran mereka, Kawangkoan. (*)

 

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement no