Connect with us
no

OPINI

Melampaui 17 April

6 April 2019


Oleh: Aquino Hayunta
Pekerja seni, aktivis gerakan sosial.


 

 

 

 


 

SEMENTARA INI, kita dibuat gaduh sehingga pandangan kita terbatas pada suatu masa di bulan April tahun ini. Melakukan keributan-keributan yang tidak perlu hanya untuk satu hari yang kemudian akan secara cepat kita lupakan. Padahal pandangan mata kita selayaknya melihat 10-20 tahun ke depan. Taktik dan strategi kita musti dibangun untuk hitungan dekade, bukan bulan. Bukankah kita sedang berebut sial jika kita berselisih paham untuk sesuatu yang hitungannya hanya bulanan.

Saya teringat pada masa sekitar akhir tahun 90-an dan awal 2000-an ketika sejumlah besar imigran dari negara-negara miskin dan penuh konflik mulai membanjiri Eropa Barat. Mereka tergiur oleh “surga” yang mereka impikan, yang billboard iklannya muncul di televisi-televisi mereka setiap hari. Mereka hanya ingin lari dari neraka. Sesederhana itu.

Sejauh saya ingat, gelombang imigrasi di atas yang menjadi pemicu isu-isu rasisme baru di dekade belakangan ini. Keyakinan para penghuni surga bahwa semua manusia setara dan harus dipenuhi hak asasinya sungguh dicobai dengan gelombang imigrasi tersebut. Imigran yang datang menimbulkan sejumlah persoalan yang kita kira sudah selesai dijawab oleh negara-negara Eropa Barat atau Amerika Serikat; seperti kecurigaan dan stereotip antar ras, pembauran budaya, ketimpangan ekonomi dan lain-lain.

Orang mulai ragu apakah konsep welfare state pantas diterapkan pada para imigran; buat apa membuang-buang uang pajak untuk mensubsidi para pendatang dari luar benua yang belum tentu mau berbaur dengan anda? Ketika anda merelakan pendapatan anda dikenai pajak besar, anda diimingi-imingi dengan sistem kesehatan yang katanya akan jadi lebih baik, jaminan sosial yang melindungi anda di hari tua, pemenuhan kebutuhan pendidikan anak-anak anda. Bukan untuk menafkahi secara gratis pendatang dari luar yang tak diundang, yang pergi dari negerinya karena pemerintah mereka yang tidak becus mengurusi negara mereka.

Ini harusnya menjadi teguran bagi negara-negara maju bahwa keadilan global harus diterapkan. Sehingga tidak ada lagi orang yang perlu lari dari negaranya karena konflik dan kemiskinan. Pemimpin negara maju dan perusahaan-perusahaan multinasional harus berhenti mendukung rezim-rezim yang tidak adil di negara lain. Mereka tidak boleh membiarkan rumah mereka asri sendirian sementara rumah tetangga hampir roboh dan penghuninya diteror tikus.

Bukannya sadar untuk memperjuangkan keadilan global, negara-negara maju -terutama korporasi-korporasi besarnya- malah melakukan perlawanan balik dengan menggunakan isu-isu identitas dan ekonomi di atas menjadi alasan untuk memperkolot diri. Mereka menolak untuk memberlakukan standar etis secara global (jika tidak bisa merekrut buruh murah di Eropa Barat atau Amerika, jangan halangi kami untuk merekrut buruh murah di India, Pakistan atau Cina. Jangan halangi kami untuk menambang perut bumi di Indonesia atau Brasilia). Dengan kata lain tidak ada surga untuk semua. Kotoran dari surga disapu ke bawah karpet yang bernama negara berkembang.

Krisis ekonomi yang lantas muncul dari keserakahan para korporat ini tidak juga membuat mereka sadar. Apalagi ketika gerakan Occupy (pendudukan lokasi-lokasi yang menjadi simbol kapitalisme global seperti Wall Stret di Amerika Serikat dan Bursa Efek Indonesia di Jakarta) yang muncul di berbagai belahan dunia sebagai ekspresi kemarahan masyarakat terhadap keserakahan tersebut membuat mereka khawatir. Demokrasi haruslah direm supaya gerakan semacam itu tidak meluas dan menjadi sistemik. Kepentingan ini berjalan sejajar dengan kepentingan para pemimpin pelanggar HAM di negara-negara berkembang yang menolak untuk diadili atas kejahatan mereka.

Maka berkembanglah isu di Amerika Serikat bahwa orang Meksiko dan Asia mencuri pekerjaan orang Amerika, muncul isu di Inggris bahwa bergabung dengan Uni-Eropa akan mengurangi kedaulatan Inggris untuk mengatur dirinya sendiri (aturan Uni Eropa terlalu banyak dan tidak mampu menjawab persoalan krisis ekonomi). Semua pihak memperkeras diri, nasionalisme menjadi lebih penting daripada keadilan global. Masing-masing negara membuat kapling surganya sendiri.

Inilah perlawanan global kaum elit yang tidak mau disuruh menjadi etis, mereka memanfaatkan sentimen-sentimen purba untuk melindungi kepentingan mereka. Negara-negara harus dipimpin oleh elit-elit yang kolot, yang percaya nasionalisme sempit, yang percaya pada keunggulan ras atau agama tertentu, yang percaya bahwa keuntungan ekonomi harus diperbesar walaupun dengan ongkos lingkungan dan kemanusiaan yang besar. Jargon-jargon mereka adalah membangkitkan kejayaan negara yang pernah ada, to be great again, menjadi macan asia dan ungkapan-ungkapan kejayaan semu yang dulu pernah diteriakkan oleh Hitler di Jerman atau oleh Jepang di kisaran perang dunia II.

Di Indonesia? Tentu saja orang Cina mencuri pekerjaan anda, komunis bangkit lagi dan agama anda terancam. Modus operandi yang persis seperti di India, Pakistan dan Brasil. Sejumlah besar elit lama yang tidak pernah tergusur oleh reformasi berkepentingan untuk mempertahankan hak istimewa mereka. Dan mereka inilah yang mendukung kuat penyebaran isu-isu kebencian dan hoax.

Gelombang pasang emansipasi dan hak asasi manusia yang sempat menerpa dunia di dekade-dekade belakangan ini harus dibalik, orang harus dikembalikan lagi untuk percaya bahwa ada lebih banyak musuh di luar sana daripada kawan. Hidup ini prinsipnya adalah merampas atau dirampas, seperti ketika manusia masih nomaden di jaman dulu. Kepercayaan terhadap kebaikan harus dibalik, sebagaimana mereka membalik kepercayaan absolut kita terhadap bumi bulat.

Maka muncullah teori-teori yang meyakinkan bahwa bumi itu sesungguhnya datar. Jika kepercayaan kita yang sudah mendarah daging terhadap bumi bulat bisa dibalik, apalagi kepercayaan kita terhadap hak asasi manusia dan keadilan global. Karena itulah muncul proyek-proyek hoax yang menyebarkan segala macam bentuk ketakutan. Tujuannya, sekali lagi, supaya kita mengeras dan terdistraksi, sementara mereka terhindar dari tuntutan-tuntutan etis.

Inilah situasi yang kita hadapi, musuh kita jauh lebih besar daripada yang nampak di muka. Musuh kita sistemik, maka dari mana lagi kita melawannya jika tidak secara sistemik pula membangun jaringan perlawanan? Harus ada orang-orang kita yang meniru cara mereka bekerja. Harus ada yang mencabut pagar batas surga yang dikunci dari dalam.

Dan sementara ini, kita dibuat gaduh sehingga pandangan kita terbatas pada suatu masa di bulan April tahun ini. Padahal pandangan mata kita selayaknya melihat 10-20 tahun ke depan. Taktik dan strategi kita musti dibangun untuk hitungan dekade, bukan bulan. Sial lah kita jika kita berselisih paham untuk sesuatu yang hitungannya hanya bulanan.

Proyek besar kita adalah membuka batas pagar surga, yang perlahan-lahan makin mereka persempit, makin mereka pagari.

Jika surga bukan untuk semua orang, maka itu bukan surga.

Tak akan ada surga sejati jika belum semua orang masuk ke dalam surga.(*)

 


Editor: Andre Barahamin


 

438total visits,2visits today