Connect with us

ESTORIE

Menelisik Jejak CIA di Tubuh Permesta

Allan Pope sedang menjalani persidangan di Jakarta (Foto: http://gardanasional.id/)

3 Maret 2019


Oleh: Rikson Karundeng


 

Amerika Serikat melalui Central Intelligence Agency (CIA) telah melibatkan diri dalam pergolakan Permesta

 

MINGGU, 18 MEI 1958 tak jauh dari Ambon, sebuah pesawat pembom B-26 ditembak jatuh Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Dua awaknya berhasil ditangkap. Pilot Allen Pope dan navigatornya Letnan Jan Harry Rantung. Personil Angkatan Udara Revolusioner (AUREV) Permesta (Perjuangan Semesta) yang berpangkalan di Mapanget.

Kekuatan udara AUREV yang menjadi momok menakutkan bagi tantara pusat ternyata dihuni penerbang asing. Pesawat-pesawat Permesta yang memporak-porandakan kapal dan berbagai faslitas ALRI diketahui mendapat dukungan dari soldier of fortune (tentara bayaran). Peristiwa ini kemudian menguak keterlibatan Central Intelligence Agency (CIA), dinas intelijen Amerika Serikat di tubuh Permesta.

Tak banyak masyarakat yang tahu soal adanya keterlibatan “orang luar” dalam perjuangan Permesta. Sejumlah pihak terkesan menutup rapat aroma itu. Namun beberapa data mengungkap bagaimana Amerika Serikat (AS) melalui CIA-nya ikut ambil bagian dalam perlawanan masyarakat daerah terhadap pemerintah pusat tersebut. Selama pergolakan, banyak agen organisasi yang bergerak di bidang pertahanan keamanan AS ini ikut bergerilya di wilayah Sulawesi Utara.

Kekuatan angkatan udara Permesta memang dihuni para pilot asing handal dan sarat pengalaman. Selain Allen Pope, ada seorang pilot berkebangsaan Polandia yang biasa mengawaki pesawat B-26 invader. Dari grup pemburu P-51D Mustang, pilot-pilotnya kebanyakan berkebangsaan Filipina. Di antaranya penerbang yang dikenal handal bermanuver, Tony Moreno.

Sejarawan Minahasa Bodewyn Talumewo mengungkapkan, CIA membantu Permesta dalam berbagai hal. Termasuk persenjataan perang.

“Senjata pasukan Permesta itu boleh dikata 90 persen dari CIA. Itu termasuk pesawat berbagai jenis, instruktur untuk melatih perang, pilot, intelejen, kombat. Tertangkapnya pilot CIA Allen Pope pada 18 Mei 1958, salah satu bukti,” terang pegiat Mawale Movement yang intens meneliti tentang Permesta ini.

Dari data-data yang ia kumpulkan, terungkap banyak agen CIA yang masuk ke Permesta berasal dari beberapa negara di Asia.

“Orang-orang CIA yang masuk ke tubuh Permesta tak semuanya warga negara Amerika. Sebab ada juga yang didatangkan dari Filipina, Korea Selatan dan Taiwan,” tambahnya.

Selain ahli di bidang militer, ada juga tenaga ahli lain yang diperbantukan CIA.

“Ada juga tenaga-tenaga dosen seperti untuk Universitas Permesta. Ada ilmuwan-ilmuwan yang berkompetensi dalam bidang kesehatan, biologi dan kimia. Itu semua diberikan secara gratis,” kata Bodewyn.

Para agen CIA masuk ke wilayah Sulawesi Utara melalui jalur udara maupun laut.

“Rata-rata meraka menggunakan pesawat dan masuk melalui pangkalan udara Angkatan Laut Amerika di Subic Filipina kemudian mendarat di Mapanget Manado. Ada juga sebagian yang masuk melalui laut,” jelasnya.


Berjumpa Agen CIA di Singapura

Komunikasi antara pimpinan Permesta dengan CIA sebenarnya diketahui banyak orang. Terutama mereka yang ikut bergerilya di hutan-hutan Minahasa ketika itu.

Phill Sulu, eks tentara Permesta dari Batailon Tarantula mengungkapkan, pimpinan Permesta Ventje Sumual usai mengikuti pertemuan dengan sejumlah petinggi militer Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Padang awal tahun 1958, memutuskan harus ke luar negeri untuk mencari senjata. Fakta itu ditulis Sulu dalam bukunya, Permesta dalam Romantika, Kemelut dan Misteri (2011).

“Di Singapura waktu itu ada agen perjuangan bernama Wantania. Ia bertugas sebagai pencari dan penyandang dana. Dia juga yang mempersiapkan semua kebutuhan perjalanan Sumual ke luar negeri, termasuk mempertemukannya dengan orang Amerika yang diduga agen CIA,” jelas wartawan senior yang juga pendiri organisasi Pemuda Pancasila ini.

Proses negosiasi dengan pihak Amerika berjalan mulus. Tak berapa lama, Sumual sudah membawa senjata ke Manado. “Dari Singapura, Sumual ke Tokyo. Cari senjata sekalian berusaha ketemu Presiden Sukaro. Karena proses di Jepang berbelit-belit, ia kemudian ke Filipina. Usai kontak dengan AS, dari Subic Filipina ia sudah terbang ke Manado dengan pesawat jenis Dakota yang penuh dengan senjata jenis senapan mesin kaliber 12,7,” jelas Sulu.

Sang pelaku, almarhum Ventje Sumual sendiri tahun 2007 di Tomohon pernah mengisahkan, dari Padang Sumatera Barat, ketika itu ia bersama Soemitro Djojohadikusumo (ayah Prabowo Subianto), Kapten Arie Supit dan Letnan Tema, dijemput perwakilan badan perdagangan luar negeri Permesta, Nun Pantouw ke Singapura.

“Saat berada di restoran, datang beberapa orang Barat yang diperkenalkan Soemitro. Sejak semula saya tahu mereka agen rahasia jadi saya tahu nama mereka pasti bukan sebenarnya. Tapi kalau tidak salah ia menyebut nama Fischer,” aku Sumual.

Sumual dan kawan-kawan sangat gembira. Apa yang diinginkan akhirnya bisa didapat dalam perjumpaan itu.

“Kami mencari senjata dan tiba-tiba mereka menawarkan senjata. Kebetulan sekali. Nun dan Semitro ternyata sudah berhubungan dengan mereka sebelumnya. Dengan bersemangat saya kemudian menyebut satu per satu mesin perang yang kami butuhkan. Saat saya tanya berap total harganya, mereka bilang ‘free’. Wah saya senang sekali,” kata Sumual.

Bagi Sumual, sebagai pemimpin manajemen perang, ini adalah keuntungan. Target ideal perang adalah menang. Jadi faktor apapun yang bisa menunjang kemenangan harus diambil.

“Soal ‘intervensi asing’, apa bedanya dengan pihak ‘sebelah’ yang juga semakin intens dikendalikan komunisme internasional. Hanya karena media massa dikuasai mereka sehingga unsur ‘campur tangan asing’ di pihak kami, yaitu Amerika, yang diheboh-hebohkan. Padahal KGB (agen rahasia Uni Soviet), jauh lebih agresif kerjanya tapi tidak diungkap,” ketus Sumual.

Pengalaman hidup Ventje H.N. Sumual itu telah ditulisnya dalam buku Memoar (2007).

Sosok penting yang bertemu dengan Sumual di Singapura tersebut ternyata James Foster Collins, seorang kepala kantor CIA. Perjuangan Permesta yang “anti komunis” secara langsung disokong oleh Amerika Serikat dan para pentolannya, agen-agen CIA yang menyamar di Sulawesi Utara. Dalam ketegangan Blok Timur (Uni Soviet dan sekutu) dan Blok Barat (AS dan sekutu), diketahui AS memang intens melakukan pengaruh untuk menghadang penetrasi komunis ke wilayah Asia Tenggara.


Ilmuwan CIA Pembuat Kina

Pengakuan menarik diungkapkan Yus Pangemanan. Seorang pejuang Permesta yang sering mendapat tugas penting untuk menjemput persenjataan yang disuplai CIA ke Sulawesi Utara. Ia menjelaskan, tahun 1957 (sebelum keberangkatan Sumual ke Singapura), ia sudah berjumpa dengan seorang agen CIA di Minahasa.

“Namanya Ir. Ngui Sun Kie. Anaknya tiga dan satu meninggal tahun 1958 di Minahasa. Satu bernama Tino, ia menikah dengan orang Amurang dan tinggal di dekat jembatan Ranoyapo. Ngui Sun Kie kemudian balik ke Medan tahun 1963 karena istrinya di sana dan meninggal di Medan,” terang Pangemanan.

Anggota Kompi Combat Langi ini menjelaskan, Ngui Sun Kie memiliki peran penting dalam Permesta. “Ia seorang ilmuwan asal Taiwan. Ketika bergolak tahun 1958, ia sempat bekerja di perkebunan karet Tiniawangko Minahasa Selatan. Di sana ia dibantu beberapa orang Minahasa, membuat kina sehingga banyak tentara Permesta tidak dibunuh malaria. Ia juga membuat sabun dan berbagai hal, termasuk bahan bakar dari karet untuk kendaraan Permesta,” papar Pangemanan.

Peran agen CIA asal Taiwan itu diketahui persis Yus Pengemanan. Mereka sangat akrab ketika itu.

“Saya kenal baik dengan keluarganya. Selesai bergolak kami bahkan sempat ke daerah Kotabunan, daerah Bolaang Mongondow Timur sekarang dan mendirikan pabrik sabun di sana. Itu kami lakoni sampai ia kembali ke Medan,” imbuh pria 81 tahun yang menguasai beberapa bahasa asing ini.


Agen-Agen CIA Berdarah Sulawesi Utara

Sebelum perang saudara Permesta berkecamuk, sudah banyak agen CIA yang beroperasi di wilayah Sulawesi Utara. Hal itu diungkapkan veteran Permesta, Buang Politton. Ia bahkan mengakui sempat mengenal beberapa kawan dekat yang merupakan agen CIA.

“Waktu Amerika mengakui secara resmi ke publik soal keterlibatan CIA dalam dalam perang Permesta, saya sudah tidak terkejut,” celetuknya.

“Saya sudah sempat bertemu dengan beberapa kawan. Dari merekalah saya tahu bahwa ada agen CIA berdarah Sulawesi Utara. Di antara mereka bahkan ada yang terlibat secara langsung menjadi agen CIA sebelum pergolakan Permesta,” bebernya.

Semenjak muda, pria 78 tahun ini mengakui mengenal seorang kerabat yang telah menjadi agen CIA.

“Orang Tondano jo dia. Dulu dia sering di luar negeri. Bajalan ke banya tampa mar torang nda tau kamana samua dia ja pigi akang. Torang nda tau dia kerja apa. Nanti ka blakang baru dapa tau kalu dia itu kote’ agen Amerika. Dari dia kong kita tau kalu ada banya lei orang torang yang jadi agen Amerika. Mungkin sto sampe skarang,” selorohnya.


Keterlibatan CIA Menurut Sejumlah Catatan

 Tahun 2007, buku Legacy of Ashes: The History of The CIA hadir ke publik. Tulisan Tim Weiner yang menggores secara detail keterlibatan CIA di Indonesia, termasuk di era Permesta, benar-benar mencengangkan banyak mata. Banyak nama yang cukup dikenal di Indonesia, disebutkan merupakan tokoh-tokoh yang menjalin kontak dengan CIA bahkan agen CIA.

Sebelumnya, Kenneth Conboy dan James Morrison sebenarnya telah mengupas tentang operasi rahasia CIA dalam menggoyang kekuasaan Presiden Sukarno tahun 1957-1958 dalam buku Feet to the Fire: CIA Covert Operations in Indonesia (1999).

 Buku-buku ini menjelaskan bagaimana pemerintahan Dwight Eisenhower, jenderal bintang lima yang memimpin armada sekutu dalam Perang Dunia II, tak ingin komunis membesar di Indonesia. Dialah yang kemudian menyarankan CIA untuk membantu angkatan udara rahasia bagi pasukan Permesta di Sulawesi Utara. CIA akhirnya bergerak cepat, mencari jalan untuk memberi bantuan pesawat dan bom bagi unit tempur udara Permesta.

 Richard Zacharias Leiriza dalam PRRI-Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis (1996), menulis bagaimana Herman Nicolas “Ventje” Sumual, Soemitro Djojohadikusumo, dan Ahmad Husein didatangi oleh agen-agen CIA. Beberapa orang barat berpakaian santai itu mengetahui jika Sumual Cs sedang memerangi Sukarno. Karena itu mereka bersedia memberi bantuan senjata. Leiriza menjelaskan jika bantuan itu langsung diterima kerena mereka memang sedang berusaha membeli senjata.

Fletcher Prouty dalam buku The Secret Team (1973) menulis bagaimana kemudian timbunan senjata dan perlengkapan militer bantuan untuk Permesta terkumpul di Okinawa dan Filipina. Orang-orang Indonesia, Filipina, China (Taiwan), Amerika dan para serdadu sewaan bahkan negara-negara lain juga telah siap di Okinawa dan Filipina untuk membantu Permesta dan PRRI.

Menurut eks perwira Angkatan Udara AS ini, persenjataan modern dari Amerika yang dikirimkan antara lain senapan ringan kaliber 12,7mm, RPG atau bazoka, granat semiotomatis, senapan serbu infanteri, dan senjata‐senjata penangkis serangan udara.

Banyak eks tantara Permesta yang kemudian mengisahkan, bantuan senjata Amerika itu masuk ke Sulawesi Utara via laut maupun udara. Ada yang dijatuhkan pesawat, diangkut melalui kapal laut dan kapal selam. Mulai dari teluk Tanawangko, teluk Amurang hingga wilayah perairan Bolaang Mongondow.

Prouty menjelaskan, dukungan Amerika tidak hanya senjata. Tentara Permesta juga mendapat pelatihan militer, bantuan kapal selam, dukungan pesawat pengangkut serta mempersiapkan modifikasi bagi Pesawat B-26.

Pihak Amerika sempat menampik keterlibatan mereka di Indonesia di era pergolakan Permesta. Namun, belakangan kisah itu diakui sebagai sebuah fakta yang tak dapat dipungkiri. Mantan Duta Besar Amerika untuk Indonesia, Howard P. Jones dalam memoarnya, Indonesia: The Possible Dream (1990), mengakui jika ia sebenarnya tahu persis jika CIA ada di belakang peristiwa ini.

Eksistensi komunis di Indonesia sangat mengusik Amerika Serikat. Inilah salah satu alasan penting kenapa mereka membantu gerakan Permesta dan PRRI di Sumatera yang diketahui sangat anti komunis. Hal ini diungkapkan Barbara Harvey dalam bukunya, Permesta: Pemberontakan Setengah Hati (1984).

Barbara menulis, Permesta dibentuk demi membendung komunisme di Indonesia. Ketika itu para pemimpin Permesta dari Minahasa, yang menyebut gerakan mereka sebagai program pembangunan untuk Indonesia Timur, menjual kopra secara ilegal dengan Singapura. Orang Minahasa kecewa terhadap Jakarta karena langkah pemerintah pusat memonopoli perdagangan kopra dengan menutup Pelabuhan Bitung di Sulawesi Utara. Mereka memisahkan diri dari provinsi utama Sulawesi di Makassar, dengan membentuk provinsi Sulawesi Utara pada September 1957. Dengan menentang pemerintah pusat, para pemimpin Minahasa membangun jalan, sekolah, jembatan, rumah ibadah, dan bahkan universitas lewat uang penjualan kopra.

Barbara pun menegaskan soal perasaan kecewa orang Minahasa yang semula didorong faktor ekonomi dan kemudian berbuntut gerakan bersenjata, dengan cepat menjadi salah satu gejolak paling hebat yang pernah terjadi di Sulawesi. (*)


Editor: Denni Pinontoan


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama untuk mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

358total visits,3visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *