Connect with us

REVIEW

Menemukan Kopi di Quezon

Kota Quezon dalam potret (Foto: Herbie Docena/KELUNG)

12 Maret 2019


Oleh: Andre Barahamin


 

FILIPINA, DI NEGERI ini, kopi memang tidak mewabah meski kita tidak dapat dengan sembrono mengatakan bahwa kopi bukan jenis minuman populer. Meski jumlah konsumsi tahunan kopi mereka berada di bawah Indonesia, Thailand atau Vietnam, Filipina tetap memiliki kedai-kedai kopi yang layak untuk dikunjungi. Terutama di Quezon (baca: Keson).

Mengapa Quezon dan bukan Manila?

Sebenarnya pertanyaan jenis di atas hanya hadir dari kalangan fakir geografi. Mereka yang gagap dengan lokasi dan hampir tidak bisa membaca peta. Quezon adalah satu dari beberapa kota yang termasuk dalam region Metro Manila. Bukan terletak di pusat Metro Manila, tapi wilayah ini merupakan pusat dari ragam aktifitas ekonomi dan politik di Filipina. Selain Makati, Quezon adalah salah satu dari dua kota paling kaya di region Metro Manila. Banyak kantor-kantor perusahaan besar berlokasi di Quezon. Di kota ini juga terdapat banyak kantor pemerintahan, serta universitas terbaik di seantero negeri, University the Philippines (UP) Diliman.

Ini adalah kota terbesar di Metropolitan Manila, yang terletak di sebelah selatan Filipina. Quezon berasal dari nama Presiden Manuel L. Quezon yang juga merupakan wali kota pertama di kota tersebut. Nama lengkapnya adalah Manuel Luis Quezón y Molina. Lahir pada 19 Agustus 1878 dan sempat menjabat sebagai presiden Persemakmuran Filipina dari tahun 1935 hingga 1944. Di Filipina, Quezon dikenal sebagai “Bapak Bahasa Nasional”.

Quezón, lahir di Baler di distrik El Príncipe yang kini disebut Baler, Aurora. Orang tuanya berasal dari Spanyol dan bekerja sebagai guru. Ibunya adalah seorang guru sekolah dasar di kampung halaman mereka, Baler. Sementara ayahnya adalah pensiunan tentara kolonial Spanyol dengan pangkat Sersan, sebelum akhirnya juga menjadi guru sekolah dasar di Paco, Manila.

Quezón adalah salah satu figur penting dalam sejarah Filipina menyangkut persoalan reforma agraria. Ia populer karena kebijakannya terkait problem para petani yang tak memiliki tanah di pedesaan. Keputusan penting lain Quezon adalah reorganisasi pertahanan militer di pulau-pulau, dan pembangunan permukiman yang disertai dengan pemerataan pembangunan di Mindanao.

Ia kemudian mendirikan pemerintahan pengasingan di Amerika Serikat karena pecahnya perang dan ancaman invasi Jepang. Selama dalam pengasingannya di Amerika Serikat Quezón meninggal pada 1 Agustus 1944 saat berusia 65 tahun karena tuberkulosis di Saranac Lake, New York.

Kota Quezon didirikan pada tanggal 12 Oktober 1939. Pada survey nasional yang dilangsungkan di tahun 2005, penduduknya berjumlah 2.500.000 jiwa. Luas kota Quezon lebih dari 16.000 hektar yang artinya empat kali luas Metro Manila. Quezon adalah kota yang mempunyai visi sebagai paru-paru Metro Manila. Itu mengapa kota ini melengkapi diri dengan program penghijauan dan membuka lebih luas ruang-ruang terbuka.

Kalau masih bingung, begini saja. Bayangkan Metro Manila adalah DKI Jakarta, Manila City adalah Jakarta Pusat, Makati adalah Jakarta Selatan dan Quezon adalah Jakarta Timur. Jika petunjuk sederhana ini masih belum membantu, maka maaf, saya tidak bisa membantu lagi.

Ada tiga lokasi yang pernah saya kunjungi dalam berbagai kesempatan terpisah. Daftar ini akan diurut tak beraturan menurut hemat saya tanpa harus mengacu dari rangking yang paling baik serta paling utama untuk didatangi.

 

Cool Beans Library Cafe (Foto: Andre Barahamin/KELUNG)

Cool Beans Library Coffee

Memadukan kedai kopi dan perpustakaan dalam satu ruang, dalam banyak kasus justru terjerembab dalam ‘bacaan semata pelengkap’. Di beberapa kedai kopi yang pernah saya datangi di Thailand, Vietnam atau di Indonesia, koleksi buku sebuah kedai kopi tidak pernah tertata serius, jumlah koleksi yang minim dan luasan jenis bacaan yang miskin.

Tapi tidak di sini.

CBL Cafe seakan tahu bahwa rangkai buku-buku bukan anak tiri. Sebaliknya ia bersanding mesra dengan olahan berbagai jenis minuman berbahan dasar kopi. Di sini, Anda bisa mendapatkan koleksi novel yang kalau membacanya bisa membuat lupa waktu. Ada bacaan politik yang sanggup membuat lidah kita sejenak lupa bahwa kopi sudah dingin dan rasa mulai berubah. Deretan majalan National Geographic yang masih mulus dan hampir lengkap, bisa menjadi bacaan santai sambil mengunyah kue mentega. Mereka juga menyediakan beberapa jenis bacaan sejarah bagi mereka yang ingin mengulik lebih dalam tentang latar belakang negara ini.

Ini adalah kedai kopi menata dirinya selayaknya bioskop literatur yang menjadikan kopi sebagai tiket masuk. Joey, salah satu penyeduh di sini dengan bangga mengatakan bahwa CBL Cafe pernah beberapa kali dijadikan lokasi pengambilan gambar film atau tempat siaran berita olahraga.

Harga kopi di kedai yang terletak di Jalan Maginhawa No. 67A ini lumayan terjangkau isi dompet para petualang kere. Satu gelas kopi paling murah dihargai 70 PHP atau setara $1.5. Saya biasanya memesan segelas kopi hitam. Robusta yang menurut saya berkualitas biasa saja. Penilaian yang semata muncul karena lidah saya terlalu otoriter dengan ragam rasa jenis kopi yang sama di Indonesia. Tapi bukankah sekilo emas memang lebih mahal dari sekilo plastik?

 

Tweedle Book Cafe (Foto: Andre Barahamin/KELUNG)

Tweedle Book Cafe

Destinasi berikut yang saya sarankan masih memiliki konsep yang tidak jauh berbeda. Kedai yang berlokasi di Jalan Scout Gandia No.106B, buku juga merupakan tulang punggung selain variasi jenis kopi dan beberapa penganan yang bisa mengganjal perut. Tempat ini mengingatkan saya pada Common Ground Jakarta, hanya minus tumpukan kertas untuk dibaca. Meja-meja berwarna hijau dan kursi kayu diatur hampir sambung-menyambung, seperti layaknya perpustakaan.

Ada dua hal yang paling menyita pandangan saya ketika memasuki kedai ini. Pertama adalah desain meja kasir yang dibentuk sedemikian rupa hingga tampak menyerupai sebuah katalog kartu nama berukuran raksasa. Di langit-langit, terdapat nama-nama para penulis favorit pemilik kedai yang dicetak pada panel-panel kayu. Kalian bisa menemukan nama Orwell, Wilde, Steinbeck, Murakami hingga Tolkien. Karya-karyanya dapat dengan mudah ditemukan di rak-rak kayu.

Ada dua hal yang paling berkesan di sini.

Pertama adalah keengganan si pemilik untuk menyediakan jasa sambungan internet di kedai ini. Barista di kedai ini mengatakan bahwa Tweedle Book Cafe adalah ruang baca yang menyakini diri cukup memiliki koleksi ragam jenis buku. Mereka menilai bahwa internet akan mengurangi minat seseorang untuk membaca buku atau berkomunikasi. Jawaban yang ambisius namun berani.

Hal lain yang terus berbekas di kepala saya adalah kopi yang saya minum di kedai ini. Segelas kopi berbalut alkohol. Bukan Irish Coffee. Tapi campuran satu shot wiski dan satu shot espresso. Harganya hanya 85 PHP saja.

Rasanya? Sila datang dan coba sendiri.

 

Coffee Empire (Foto: Andre Barahamin/KELUNG)

Coffee Empire

ni adalah tempat yang tepat jika Anda ingin berdiskusi seputar kultur kopi di seputaran Metro Manila. Tentang bagaimana gelombang kopi generasi ketiga mempengaruhi dan mengubah gaya merendang kopi hingga metode seduh yang semakin variatif. Para pendirinya adalah mereka yang mendalami kopi sebagai budaya kuliner. Ini adalah kedai di mana kamu bisa bertukar pendapat soal metode seduh manual dengan aero press, atau melihat bagaimana kopi Anda diseduh dengan ‘kono’.

Jika Anda menggemari kopi bercampur susu, silakan coba macchiato di sini sembari mendengarkan cerita tentang profil sangrai (roasting profile) biji-biji kopi mereka yang dipengaruhi tren third wave. Atau mau mengetes mereka dengan memesan Flat White? Silakan saja.

Yang jelas, tempat ini mengingatkan saya dengan Klinik Kopi di Yogyakarta. Barista sekaligus pemilik kedai yang bersemangat melayani pelanggan, pembicaraan seputar kopi yang hangat dan radikal, serta seduhan Arabika yang membuat tempat ini memang layak jumawa menyebut dirinya “Empire”.

Empire juga memiliki tempat penyimpanan biji kopi. Kedai ini menyuguhkan 21 jenis kopi untuk memperkaya selera. Jika ingin membeli biji kopi siap seduh, Anda bisa memesan langsung di sini. Lalu meminta saran kepada barista yang sedang bertugas tentang tingkat kehalusan gilingan rekomendasi mereka. Untuk memperluas pengetahuan tentang kopi ketika Anda tidak punya waktu berkunjung ke sini, Empire menyediakan majalah yang bergelut di isu yang sama: kopi.

Anda tidak akan mengalami kesulitan berarti mencari kedai yang terletak di Jalan West Avenue No.74 ini. Jika masih ragu, ketika Anda memasuki West Avenue jangan sungkan untuk bertanya. Banyak orang dengan senang hati akan menunjukkan arah.

 


Editor: Gratia Karundeng

132total visits,18visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *