Connect with us
no

ESTORIE

Mengenang 172 Tahun Serangan Amfibi Amerika di Veracruz

Pendaratan infanteri LIFE di tahun 1944 (Foto: wikipedia.org)

28 Maret 2019


Oleh: Daniel Kaligis


 

Di sana perang belum tuntas. Āltepētl, merujuk pada kesatuan politik berdasarkan etnis, ada dua kata yang membentuknya, bermakna mendalam dalam tutur yang dilupa sejarah: air, dan pegunungan

 

ARWAH CORTES mengeja mantra, Quetzalcoatl mengibas sayap, mezbah berdarah sejarah, doa bagi pertambangan, doa bagi pasukan, doa bagi pertanian, doa bagi awan dan samudera.

Tahun silam seratus enam puluh enam tengkorak perseteruan kartel-kartel narkoba diberitakan. Siapa diperas, siapa diculik 2016 – 2017 dua ratus lima puluh tiga tengkorak ditemukan, lalu dua puluh sembilan ribu pembunuhan terjadi sebelumnya.

Itu baru saja, masih hangat dipanggangan asap berita. Coba kau lacak!

Mantra seperti babad hanyut di pantai Veracruz: garnisun-garnisun militer berseteru, kekaisaran Aztek terbentuk pada 1427 sebagai persekutuan negara kota Tenochtitlan, negara kota Texcoco, dan negara kota Tlacopan.

Negara-negara kota bersekutu demi mengalahkan orang Tepanek dari negara kota Azcapotzalco yang menguasai Lembah Meksiko. Tak seberapa lama kemudian, Texcoco dan Tlacopan diturunkan derajatnya menjadi rekan junior dalam persekutuan, dan Tenochtitlan menjadi yang paling berkuasa.

Imperium ini memperluas jangkauan memadukan perniagaan dan penaklukan militer. Aztek menguasai negara-negara kota bawahannya dengan cara membina persahabatan dengan penguasa-penguasa bawahannya melalui perkawinan antarwangsa penguasa, dan dengan cara menyebar ideologi kekaisaran ke negara-negara kota bawahannya.

Negara-negara kota bawahan membawa upeti bagi Huey Tlatoani sebagai sebuah siasat ekonomi untuk membatasi komunikasi dan perniagaan antarnegara di sekelilingnya yang membuat negara-negara ini terpaksa bergantung pada pusat demi mendapatkan barang-barang mewah.

Itu ratusan bahkan ribuan tahun silam.

Sepuluh kerangka manusia yang membentuk lingkaran, yang menandakan bahwa jenazah dikubur dengan tangan yang saling bersilangan. (Foto: Mauricio Marat – atlasobscura).

Kenang senantiasa nama, tecoret di mana-mana, Douglas Mac Arthur. Anda pasti mengenal dia yang lahir di asrama tentara di Little Rock, Arkansas. Ayahnya perwira militer, Letnan Jenderal Arthur Mac Arthur, Jr. Kakeknya Arthur Mac Arthur, Sr, politikus Amerika.

Douglas Mac Arthur masuk Akademi Militer West Point 1898. Ia menjadi lulusan terbaik dari sembilan puluh tiga kadet Juni 1903. Dia memulai kariernya dengan pangkat Letnan Zeni Angkatan Darat di Batalion Zeni Konstruksi Tempur. Misi pertamanya pengintaian dalam pertempuran Veracruz 1914.

 

Golfo de México 1847

Teluk Meksiko, dalam bahasa Spanyol disebut Golfo de México, samudera dengan titik terdalam 4.384 meter. Area ini diperkirakan terbentuk kurang lebih tiga ratus juta tahun lalu karena pergerakan tektonika lempeng. Hampir setengahnya merupakan perairan dangkal di tepi benua.

Penyerangan amfibi pernah terjadi di sisi timur Golfo de México, ketika terminologi sandi perang berkekuatan penyerbu dari laut itu belum banyak dibahas sejarah. Perebutan wilayah dan sengketa perbatasan antara Amerika dengan Meksiko adalah sumbuh dari penyerangan itu.

Atau, jangan-jangan perang adalah pembutaan kisah tulang-tulang yang terserak pada kubur massal di banyak tempat di bumi.

Golfo de México adalah bagian dari Laut Karibia, dibatasi Meksiko di sebelah barat dan selatan serta Amerika Serikat di sebelah utara dan barat. New Orleans dan Houston merupakan kota pelabuhan utama di teluk ini.

Di Amerika Serikat, negara bagian yang melintasi teluk ini adalah Florida, Alabama, Mississippi, Louisiana, dan Texas. Di Meksiko, negara bagian yang melintasi teluk ini adalah Tamaulipas, Veracruz, Tabasco, Campeche, Yucatán, dan Quintana Roo.

Perang sudah berkobar sejak 1846. Penempur Meksiko terbilang tangguh, mereka merasuk kekuatannya sampai Texas, wilayah yang sebelumnya diklaim sebagai milik Amerika Serikat. Meksiko bersikeras bahwa Sungai Neuces di Texas, merupakan batas paling selatan negaranya.

Meksiko waktu itu punya kekuatan militer lebih unggul dari Amerika Serikat, mulai memprovokasi wilayah sekitarnya. Ketika perang dimulai, para pengamat di Eropa sangat yakin Meksiko akan memenangkan sengketa di wilayah tersebut.

Meksiko punya pasukan lebih banyak, ditambah pengalaman militer yang telah menjadi tradisi di negara itu. Mereka kenyang perang dan pemberontakan, semisal Alamo.

Adalah Veracruz, kota di sisi timur Meksiko, kota pelabuhan terbesar di Teluk Meksiko. Mereka masih bermimpi, sebagai elang mengintai dari perbukitan, melayang di awan nun jauh di ufuk. Veracruz adalah kubu vital di Teluk Meksiko.

 

Di Balik Nama sang Jenderal

Amerika memblokade laut, Veracruz dikepung. Pada 9 Maret 1847 mereka meluncurkan pasukan amfibi, selama dua puluh hari area timur Meksiko itu dikurung pasukan Jenderal Winfield Scott.

Scott menginvasi Meksiko tiga mil dari selatan Veracruz. Dia menghadapi sedikit perlawanan dari orang-orang Meksiko yang berkumpul di kota berbenteng Veracruz, pada malam 29 Maret 1847, sepuluh ribu pasukan tiba, mereka bergerak dari pantai dan menduduki kota, lengkap sepuluh ribu pasukan tanpa satu nyawa hilang.

“Pendaratan amfibi ini adalah yang terbesar dalam sejarah Amerika dan tidak terlampaui hingga Perang Dunia Kedua,” demikian dicatat HISTORY.

Dalam kisah pendaratan amfibi dan perang Meksiko – Amerika, orang lebih banyak membincang nama Jenderal Winfield Scott. Padahal, ada nama lain di balik sang jenderal itu.

Media lain mencatat di Public Broadcasting Service, yang mana Veracruz sudah dikuasai pasukan Amerika pada 28 Maret 1847, setelah dua minggu pengepungan. “Jenderal Winfield Scott, dibantu Commodore David E. Conner.

Dari sebuah literatur, tercatat nama Commodore David E. Conner sebagai pemimpin Home Squadron Amerika selama perang Meksiko – Amerika. Dia-lah yang memblokade Golfo de México, merebut kota pelabuhan Tampico dalam invasi amfibi tanpa pertumpahan darah, dan memimpin serangan angkatan laut di Veracruz.

Conner tentu sangat mengenal wilayah tempurnya, sebab sejak 1843 dia sudah mengambil alih komando Home Squadron Amerika yang bertugas di Golfo de México. Home Squadron Amerika di sana terdiri dari sebelas kapal, termasuk fregat, kapal uap, dan kapal selam, yang berbasis di Karibia dan Golfo de México.

Pasukan yang dipimpin Conner ditugaskan menyisir Laut Utara untuk menolong kapal-kapal dalam bahaya, menekan operasi perompak di Karibia, dan mencari kapal-kapal budak yang diduga menuju Amerika.

David E. Conner lahir di Harrisburg, Pennsylvania pada 1792. Pada 16 Januari 1809, di usia enam belas tahun, dia bergabung dengan Angkatan Laut Amerika.

Perang Meksiko – Amerika sebenarnya dipicu James Knox Polk, Presiden Amerika Kesebelas, yang mencaplok Texas pada 1845.

 

Invasi Amerika ke Utara

Kembali pada cerita sang Jenderal, Scott. Diketahui sebelum penyerbuan Scott, pasukan Meksiko melakukan perlawanan tak kenal menyerah dipimpin Antonio Lopez de Santa Anna.

Perang Meksiko – Amerika, dicatat HISTORY sebagai “Jalan yang permudah Amerika untuk memenuhi manifestasi takdirnya memperluas wilayah di seluruh benua Amerika Utara”.

Antonio Lopez de Santa Anna membawa pasukan dalam jumlah besar bergerak ke utara untuk menghadapi Jenderal Taylor dalam Perang Buena Vista. Perang itu memakan korban besar dari kedua pihak. Meksiko kalah.

Sementara itu, Jenderal Winfield Scott mengambil alih Veracruz. Scott lalu membawa sekitar 10.000 pasukan menuju pedalaman Meksiko untuk menghadapi pasukan Santa Anna yang menolak menyetujui tuntutan Amerika Serikat.

Jenderal Scott dan pasukannya tiba di luar Mexico City pada September 1847 dan melakukan serangkaian penyerbuan, lalu menguasai seluruh kota 14 September 1847. Santa Anna dan pasukannya melarikan diri meninggalkan kota yang telah diduduki pasukan Amerika.

Traktat Guadalupe Hidalgo, Februari 1848, di bawah tekanan Amerika, menyudahi drama perang. Traktat Guadalupe Hidalgo memaksa Meksiko menyerahkan California, Nevada, Utah, New Mexico, sebagian besar Arizona dan Colorado, dan sebagian Texas, Oklahoma, Kansas, dan Wyoming, kepada Amerika Serikat. Sebagai gantinya, Meksiko menerima $18.250.000 dari Amerika Serikat.

 

Kampanye Militer Gallipoli

Kota tua yang sangat indah, ada yang menyebutnya Gelibolu atau Gallipoli, sebab terletak di Tanjung Gelibolu, dengan Laut Aegea di sebelah barat dan Selat Dardanella di sebelah timur. Berada di barat-laut Turki. Dalam bahasa Yunani disebut Kallipolis, bermakna ‘kota indah’.

Oleh orang Romawi, tanjung dan kotanya ini disebut sebagai ‘Chersonesus Thracica’. Ketika Kekaisaran Bizantium bubar, kota ini dikuasai Kerajaan Ottoman.

Kota indah menjadi rusuh, April 1915 sampai Desember 1915 berlangsung ‘Kampanye Gallipoli’. Sebenarnya dari sini setelah enam puluh delapan tahun dari 1847, barulah terkenal peperangan amfibi sebagai salah satu sandi operasi militer. Selat Dardanelles menjadi ajang tempur.

Walau sebenarnya terminologi ‘amfibi’ katanya pertama kali muncul di Amerika Serikat pada 1930-an setelah desain Landing Vehicle Tracked – yakni sejenis kapal pendarat dengan prototipe Alligator dan Crocodile dibuat.

Pertempuran amfibi meliputi operasi yang ditentukan oleh jenis, tujuan, skala, dan sarana pelaksanaan mereka. Di imperium Britania pada masa itu, hal-hal tersebut dinamakan operasi gabungan, sebuah definisi sandi operasi di mana angkatan laut, militer, atau angkatan udara dalam setiap kombinasi beroperasi bersama satu sama lain, bekerja secara independen di bawah komandannya masing-masing, namun dengan suatu sasaran strategis bersama.

Semua angkatan bersenjata yang mempekerjakan tentara dengan pelatihan dan peralatan khusus untuk melakukan pendaratan dari kapal angkatan laut ke pantai sesuai dengan definisi amfibi. Nantinya rangcang pendaratan pasukan berserta kapal-kapal khusus patroli cepat, zodiac – yakni perahu karet kaku, dan kapal selam mini.

Nah, Kampanye Militer Gallipoli atau yang dikenal sebagai Kampanye Dardanelles, Pertempuran Gallipoli atau Pertempuran Çanakkale, dalam bahasa Turki dikenal sebagai Çanakkale Savaşı, semua terminologi perang di laut itu sudah masuk pada muasal penyerbuan amfibi secara definisinya.

Itulah sebenarnya Perang Dunia Pertama, berlangsung di semenanjung Gallipoli. Kekuatan Entente, Inggris dan Prancis, berusaha melemahkan Kekaisaran Ottoman dengan mengambil kendali selat yang menyediakan rute pasokan ke Rusia, anggota ketiga Entente.

Para penjajah melancarkan serangan angkatan laut diikuti dengan pendaratan amfibi di semenanjung, untuk merebut Istanbul.

Kampanye Militer Gallipoli memang terkenal, namun gagal. Operasi gabungan Britania Raya dan Prancis dilaksanakan untuk merebut ibukota Kesultanan Utsmaniyah, Istanbul dan menyediakan rute laut yang aman untuk perdagangan militer dan agrikultur dengan Rusia. Penyerang dan yang diserang sama-sama menderita korban jiwa yang besar.

Serangan angkatan laut dipukul mundur dan setelah pertempuran delapan bulan, kampanye darat ditinggalkan dan pasukan invasi ditarik. Itu adalah kekalahan yang mahal dan memalukan bagi Sekutu dan untuk para sponsor, terutama Winston Churchill.

Kampanye Militer Gallipoli justru menjadi kemenangan besar Utsmani dalam perang. Di Turki, itu dianggap sebagai momen yang menentukan dalam sejarah negara, gelombang terakhir dalam pertahanan tanah air manakala Kekaisaran Ottoman mundur.

Bangsa Arab membentuk kekuatan besar di Semenanjung Gallipoli. Menurut beberapa sumber, orang Arab merupakan dua pertiga dari Divisi kesembilanbelas di bawah Kemal Atatürk.

 

Korban Perang

Tercatat di Departmen Urusan Veteran Australia, hampir setengah juta korban selama Kampanye Militer Gallipoli. Di samping korban ini, banyak prajurit yang menjadi sakit karena kondisi yang tidak sehat, terutama dari demam tipus, disentri dan diare. Diperkirakan bahwa lebih 145.000 tentara Inggris menjadi sakit selama kampanye.

Di antara mereka adalah fisikawan muda brilian Henry Moseley. Juga penyair Rupert Brooke, yang melayani Divisi Angkatan Laut Kerajaan Inggris, meninggal tak lama sebelum invasi karena gigitan nyamuk septik.

Tak ada senjata kimia digunakan di Gallipoli, meskipun mereka melawan pasukan Turki di perang Timur Tengah dua tahun kemudian di Gaza, 1917.

Ada tuduhan bahwa pasukan Sekutu telah menyerang atau membombardir kapal rumah sakit, dan juga rumah sakit Turki pada beberapa kesempatan antara awal kampanye dan September 1915.

Pada Juli 1915, ada serangan terhadap dua pulu lima rumah sakit Utsmani, dan tiga kapal rumah sakit di daerah. Pemerintah Prancis mempermasalahkan keluhan ini selama perang melalui Palang Merah, dan respons Inggris menyebut bahwa tindakan itu memang disengaja.

Rusia pada gilirannya mengklaim bahwa Turki telah menyerang dua kapal rumah sakit mereka, Portugal dan Vperiod, dan Pemerintah Ottoman menjawab bahwa kapal-kapal telah menjadi korban ranjau laut.

Perang dibalas perang. Januari 1917, Jerman melanjutkan perang kapal selam tanpa batas. Jerman menyadari bahwa Amerika Serikat kelak ikut dalam perang.

Menteri Luar Negeri Jerman, Arthur Zimmermann, dalam Telegram Zimmermann, mengundang Meksiko bergabung sebagai sekutu Jerman melawan Amerika Serikat. Sebagai imbalannya, Jerman akan mendanai perang Meksiko dan membantu mereka mencaplok kembali teritori Texas, New Mexico, dan Arizona.

Presiden Amerika, Woodrow Wilson, merilis telegram Zimmerman ke publik, dan warga Amerika memandang telegram Zimmerman itu sebagai casus belli — penyebab perang.

Wilson meminta elemen-elemen antiperang untuk mengakhiri semua perang dengan memenangkan yang satu ini dan menghapus militerisme dari dunia. Ia berpendapat bahwa perang begitu penting sehingga Amerika harus punya suara dalam konferensi perdamaian.

Perang memang kejam. Diperkirakan sekitar delapan juta tentara menyerah dan ditahan di kamp tawanan perang selama Perang Dunia Pertama. Semua negara berjanji mengikuti Konvensi Den Haag mengenai perlakuan baik tawanan perang. Tingkat keselamatan tawanan perang umumnya lebih tinggi daripada rekan mereka di garis depan.

Tercatat Jerman menahan dua setengah juta tentara. Rusia menahan dua juta sembilan ratus tentara. Britania dan Prancis menahan sekitar tujuh ratus dua puluh ribu tentara. Amerika menahan empat puluh delapan ribu tentara. Tentara-tentara itu kebanyakan ditangkap sebelum gencatan senjata.

Tawanan bukan hanya tentara, ada juga warga sipil. Tawanan Rusia diperkirakan ada lima belas hingga dua puluh persen dari jumlah tawanan meninggal.

Kelaparan sudah biasa dalam perang. Di Jerman makanan langka, tetapi hanya lima persen dari jumlah tawanan yang meninggal.

Dalam Stay the Hand of Vengeance: The Politics of War Crimes Tribunals, terbitan Princeton University Press 2002, di halaman 107, Gary Jonathan Bass, mengungkap yang mana Kesultanan Utsmaniyah sering memperlakukan tahanan perang dengan buruk.

Disebut dalam British National Archives, 10 Maret 2007, sekitar sebelas ribu delapan ratus tentara Imperium Britania, kebanyakan India, ditawan setelah Pengepungan Kut di Mesopotamia pada April 1916, ada empat ribu dua ratus lima puluh orang meninggal dalam penjara.

Di Rusia, saat para tawanan dari Legiun Ceko Angkatan Darat Austria-Hongaria dibebaskan tahun 1917, mereka mempersenjatai diri kembali dan sempat menjadi kekuatan militer dan diplomatik pada Perang Saudara Rusia.

Meski tawanan Sekutu di Blok Sentral langsung dikirim pulang setelah akhir perang, perlakuan yang sama tidak diberikan kepada tawanan Blok Sentral di negara Sekutu dan Rusia.

Kebanyakan dari tawanan Blok Sentral tersebut dijadikan pekerja paksa, misalnya di Prancis sampai tahun 1920. Mereka baru dibebaskan setelah Palang Merah mendekati Dewan Agung Sekutu berkali-kali.

Tawanan Jerman masih ditahan di Rusia sampai tahun 1924.

Australian War Memorial, 2008: menggambarkan bagaimana kondisi buruk tawanan, para perwira Utsmaniyah memaksa mereka berjalan sejauh 1100 kilometer ke Anatolia. Seorang korban selamat mengatakan, “Kami digiring seperti hewan liar; keluar dari sana artinya mati.” Para korban selamat kemudian dipaksa membangun rel kereta api melintasi Pegunungan Taurus. (Prisoners of Turkey: Men of Kut Driven along like beasts)

Kadang percuma mengangkat tangan menyerah, siapa pasrah kadang harus juga menerima lontaran peluru mesin pembasmi.

Lalu apa? Hanya kenang.

Sejarah teramat panjang mestinya berkaca pada samudera, semua hanyut di sana, di Veracruz. Di damai tanpa suara, yang mengabar badai atau pagi selalu berulang mengubur belulang. Lagi dan lagi. (*)

 


Editor: Denni Pinontoan


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun. KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

 

298total visits,1visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *