Connect with us
no

FEATURE

Mengenang Pak Sasmito

Pak Sasmito termasuk di antara orang-orang yang bergulat di antara hidup dan mati di malam-malam Jahanam pasca Gerakan Satu Oktober. (Foto Ilustrasi)

5 April 2019


Oleh Rudiyanto

Staf pengajar di STT Abdiel, Ungaran, Jawa Tengah, dan peneliti di PSTS (Pusat Studi Teologi Sosial) STT Abdiel


 

Ia termasuk di antara orang-orang yang bergulat di antara hidup dan mati di malam-malam Jahanam pasca Gerakan Satu Oktober, yang menurut orang yang paling diuntungkan oleh avonturisme militer itu didalangi oleh partainya

 

DIA ADALAH AYAH SAHABATKU, seorang pria yang tampak tegap, tegar, dan cerdas di usia senjanya. Sempat kuduga ia seorang purnawirawan tentara. Tidak, jawabnya tersenyum. Orang biasa saja. Pensiunan sopir sebuah pabrik rokok ternama. Pak Sasmito, atau Pak Sas, begitu orang-orang memanggilnya.

Terus terang aku merasa dekat dengan pria ini. Usianya memang satu dua tahun lebih tua daripada ayahku. Tapi kupikir bukan itu. Wawasannya tentang dunia pewayangan dan sanepo-sanepo Jawanya membuatku betah mendengarkan ceritanya berlama-lama. Humor-humornya yang cerdas dan menggelitik tidak hanya membuatku tertawa, tetapi juga merenung. Komentar-komentarnya yang cerdas tentang situasi politik kontemporer di negeri ini membuatku kagum sekaligus mendorongku untuk turut mencermati, meminjam ungkapan Iwan Fals, “dunia hura-hura para binatang”di negeri ini.

Kupikir tidak berlebihan bila aku mengatakan bahwa Pak Sas inilah yang membuatku terpikat pada jagad pewayangan dan gemar dengan satir-satir dan humor-humor sinikal. Bahkan, Pak Sas-lah yang kuanggap sebagai “guru” politik-ku yang pertama. Betapa tidak! Dari perbincangan dengan Pak Sas-lah aku memasuki suatu “kawasan” yang hingga detik ini kugumuli. Suatu kawasan yang di dalamnya aku, sebagai seorang rohaniwan Kristen, mendapati jiwaku menghayati kesejalanan jiwa dan semangat Yesus Kristus Junjunganku dengan teori dan praksis revolusioner proletariat.

Dari sahabatku itu, kemudian aku mengetahui bahwa Pak Sas, ayahnya, adalah seorang eks kader sebuah partai yang pernah termashyur karena kepeloporannya dalam perlawanan nasional melawan penjajah Belanda pada tahun 1926-1927 namun dilanda Teror-teror Putih pada tahun 1948 dan 1965-1967.

Ia termasuk di antara orang-orang yang bergulat di antara hidup dan mati di malam-malam Jahanam pasca Gerakan Satu Oktober, yang menurut orang yang paling diuntungkan oleh avonturisme militer itu didalangi oleh partainya. Ia cukup beruntung lolos dari Indonesian killing field. Tidak seperti saudara-saudara kandungnya, ia juga cukup beruntung tidak digiring ke kamp konsentrasi terbesar pasca Perang Dunia Kedua. Ia cukup beruntung untuk bisa tampil sebagai “orang biasa” yang bekerja di sebuah pabrik rokok, berumahtangga, menjadi Kristen, dan memiliki seorang putera – sahabatku itu.

“Menurut Pak Sas, apakah partai Bapak berniat merebut kekuasaan?” tanyaku suatu malam.

“Mas Anto, yang namanya partai, partai manapun, pasti membidik kekuasaan,” jawab Pak Sas. “Tinggal persoalannya adalah caranya.”

“Maksud Bapak?” tanyaku lagi, sementara hatiku bergelora dengan rasa ingin tahu.

“Misalnya, berusaha meraih kekuasaan dengan cara kekerasan. Tapi bisa juga berupaya mencapai kekuasaan dengan jalan damai, dengan jalan parlementer, dengan jalan demokrasi,” jelas Pak Sas. “Sejak kongresnya yang ketujuh, partai Bapak sudah menetapkan untuk menempuh jalan parlementer untuk meraih kekuasaan.”

“Berarti avonturisme militer dinihari 1 Oktober itu bukan aksi yang didalangi partai Bapak?” tanyaku, menginginkan kejelasan.

Pak Sas menggeleng sembari tersenyum getir.

Aku tertegun. Benarkah demikian? Aku ingin menyelidiki kebenaran keterangan Pak Sas. Malam itu aku memutuskan untuk belajar tentang sejarah bangsaku lebih banyak.

Kali lain aku bertanya kepada Pak Sas, “Mengapa partai Bapak hancur setelah avonturisme militer dinihari 1 Oktober itu?”

Pak Sas menghela nafas. Kedengarannya berat. Ia berkata lirih, “Partai Bapak salah, Bung Karno juga salah.”

“Maksud Pak Sas?” tanyaku semakin penasaran.

“Partai Bapak terlalu bergantung kepada Bung Karno, sementara Bung Karno tidak berani mengambil sikap yang tegas terhadap Harto,” jawab Pak Sas.

Aku mengerutkan dahi. Mata Pak Sas memandang ke atas, menerawang ke langit-langit rumahnya. “Bila Bung Karno bertindak tegas, sementara obyektif sebagian besar tentara masih berada di pihaknya, tidak banyak orang yang akan jadi korban, partai Bapak tidak akan dihancurkan, dan Harto tidak akan menggulingkannya.”

“Tapi Bung Karno selalu ragu. Dia selalu bilang, ‘Tunggu komando saya, tunggu komando saya.’ Ya, tunggu punya tunggu, sampai begitu banyak orang terbunuh, sekian banyak orang dikirim ke kamp-kamp konsentrasi, partai Bapak hancur, dan Bung Karno terguling dari kursi kekuasaan,” papar Pak Sas.

“Dan Indonesia masuk ke dalam orbit nekolim alias kehilangan kemerdekaan yang sejati,” kataku.

Pak Sas tersenyum getir.

Jujur kukatakan, percakapan itu membekas dalam di hatiku. Percakapan itu mendorongku untuk “mencaritahu” tentang partai Pak Sas, cita-cita, sejarah, dan ideologinya. Tesis yang merampungkan studi lanjutku beberapa tahun yang lalu, sesungguhnya merupakan hasil dari suatu upaya yang diilhami oleh keterangan Pak Sas tentang partainya. Kupelajari dan kugumuli pula ideologi partainya, meski kemudian aku tiba pada posisi yang berbeda, dan dengan posisi tersebut aku mencoba memahami hal-ihwal kehancuran partai Pak Sas.

“Temuan”-ku, sebagaimana kupaparkan dalam tesisku, ternyata mengkonfirmasi pandangan Pak Sas, meski mungkin Pak Sas tak pernah mengetahui posisi ideologisku. Partai Pak Sas terlalu bergantung pada Bung Karno seturut dengan teori dua tahapan revolusi yang diwarisinya dari Stalinisme. Bung Karno tidak (bisa) tegas karena selaku wakil burjuasi nasional ia terjebak di dalam politik keseimbangan yang coba dimainkannya dengan berperan sebagai bonapartis.

Betapapun besar rasa hormatku kepada Bung Karno, aku mengerti bahwa Bung Karno tidak akan menempuh jalan radikal dengan berpihak secara konsekuen kepada kaum Kiri dan menghadapi kaum Kanan yang terdiri dari para komprador dan kaum feodal yang ditopang oleh senjata dan agama, pula diboncengi kekuatan-kekuatan imperialisme. Dalam hal ini, Trotskyisme lebih realistis dalam pesimismenya terhadap burjuasi nasional, sementara Stalinisme terbangkrutkan oleh kepercayaannya kepada burjuasi nasional. Seperti halnya Teror Putih Kuo Min Tang-nya Tjiang Kai-shek melanda Kung Chang Tang 1927 di Tiongkok, Kolaborasi klas ini pun membawa malapetaka.

Pada suatu hari Minggu, setelah aku selesai melayani kebaktian di gereja kami, Pak Sas menghampiriku. Ia hadir dalam kebaktian barusan dan mendengarkan khotbah yang kusampaikan berdasarkan Keluaran 22.21-27, “Melindungi Hak-hak Kaum Miskin.” “Boksu,” begitu ia memanggilku (Boksu = Pak Pendeta), “Apa yang dikhotbahkan barusan meyakinkan saya bahwa apa yang disabdakan Tuhan, itulah yang diperjuangkan oleh partai Bapak…” Begitu antusias ia mengatakannya.

Tergetar hatiku mendengarnya. “Pak Sas, sabda Tuhan menginginkan terwujudnya keadilan sosial. Barangsiapa berjuang demi keadilan sosial, siapapun itu, berarti sejalan dengan sabda Tuhan.”

Itulah percakapanku yang terakhir dengan Pak Sas. Lima tahun berselang, seiring dengan pertumbuhan kesadaran politik dan komitmenku pada terwujudnya tatanan baru sosio-demokratik yang kuyakini lebih dekat dengan realitas Kerajaan Allah, kudengar Pak Sas telah tiada. Jumat, 9 Maret 2012.

Pak Sas telah pergi. Betapa aku merasa kehilangan seorang Kamerad tua. Memang, posisi ideologis kami berbeda. Partainya berposisi Stalinis ala para pemimpin muda yang berdiri sebagai Pandawa Lima yang mengibarkan panji bintang merah. Tapi biar bagaimanapun, kesungguhan partainya dalam bekerja untuk kaum yang miskin dan tertindas tak pernah berhenti berdenyut dalam relung-relung kesadaranku.

Aku menyesal tak dapat hadir untuk memberikan penghormatan terakhir kepada Pak Sas. Waktu itu aku hanya dapat mengucapkan turut bersimpati dan berbelasungkawa kepada sahabatku, Nindyo Sasongko, dan Ibunya Katharina Sasmito.

Saya selalu berharap persahabatan yang telah terjalin dengan sahabatku itu boleh terus berlanjut. Semoga pula impiannya yang sempat pudar karena gelombang kontra-revolusi yang melanda Indonesia dan seluruh dunia menjadi impianmu – dan impianku. Karena kita tahu, sementara seakan Marx bangkit lagi dari kubur pada hari-hari ini karena kapitalisme dunia sedang mengalami krisis yang sangat parah, kita tidak punya banyak pilihan. Sosialisme atau Barbarisme. Moga kelak kita bisa bergandeng tangan lagi untuk suatu perjuangan yang mulia bagi umat manusia dan Kerajaan Allah!

Pak Sas telah tiada.

Hidup Pak Sas!(*)

 


Editor: Denni Pinontoan


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya
Total Page Visits: 478 - Today Page Visits: 1