Connect with us
no

CULTURAL

Nyepi di Mopuya: Harmoni dalam Keragaman

Ogoh-ogoh yang siap diarak di Desa Mopugat Bersatu. Pawai ogoh-ogoh pada Rabu, 6 Maret 2019 dibuka oleh Bupati Bolaang Mongondow, Yasti Soepredjo Mokoagow (Foto koleksi Intiningati)

7 Maret 2019


Oleh: Denni Pinontoan


 

Di Mopuya, sehari setelah Nyepi, warga desa  yang beragam agama dan etnis pesiar ke rumah keluarga-keluarga beragama Hindu merayakan hidup secara harmoni

 

UMAT HINDU di Desa Mopuya, Kec. Dumoga, Kab. Bolaang Mongondow, seperti halnya umat Hindu di Bali juga merayakan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1941. Sehari setelah hari raya Nyepi, warga di beberapa desa sekitar yang beragam agama dan etnis, pesiar ke rumah keluarga-keluarga Hindu. Nyepi di Mopuya jadi ajang silahturahmi antar warga yang beragam agama dan etnis.

Di Mopuya, pada hari raya Nyepi, semua warga yang beragama Hindu hanya tinggal di dalam rumah. Tidak melakukan kegiatan seperti hari biasa. Kendaraan-kendaraan besar, seperti truck juga dibatasi melintas pemukiman umat Hindu.

“Mereka memasak, sehari sebelumnya,” kata Intiningati, warga Desa Mopuya Utara Satu, ketika dihubungi Kamis, 7 Maret 2019.

Umat Hindu di Kec. Dumoga tersebar di Desa Werdhi Agung Induk, Werdhi Agung Selatan, Mopuya, Mopugat, dan Kembang Merta. Mereka adalah transmigran asal Bali. Pada tahun 1963 Gunung Agung di Bali meletus. Sejumlah warga di sekitar gunung itu mesti pindah. Mereka kemudian menjadi transmigran yang dikirim ke situ. Gelombang trasmigrasi dari Bali datang tahun 1964 hingga 1965. Pertama-tama terbentuk kampung Werdhi Agung lalu menyebar membentuk kampung-kampung yang lain, termasuk di Mopuya.

Malam sebelum Nyepi, di sepanjang jalan kampung ‘ogoh-ogoh’ digelar. ‘Ogoh-ogoh’ adalah sebuah gelaran bagian dari perayaan Nyepi. ‘Ogoh-ogoh’ adalah nama tarian khas Bali, asal dari umat Hindu di Mopuya. Arti ‘ogoh-ogoh’ sendiri diambil dari bahasa Bali, ogah -ogah dari yang artinya ‘sesuatu yang digoyang-goyangkan’. Tahun 1983, di Bali mulai dibuat wujud-wujud bhuta kala yang berkaitan dengan ritual Nyepi.

Pada tahun itulah, Presiden Soeharto menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional. Semenjak itu masyarakat mulai membuat perwujudan onggokan yang kemudian disebut ogoh-ogoh, di beberapa tempat di Denpasar.

“Di desa kami Mopuya, sebagian besar umat Hindu. Masyarakat yang bermacam-macam agama dan suku sangat antusias menyaksikan pegelaran ‘ogoh-ogoh’ di sepanjang jalan desa,” ujar Intiningati.

Sehari setelah Nyepi, warga desa di Mopuya dari berbagai latar belakang agama dan suku pesiar ke rumah Umat Hindu. Dengan tradisi baku pesiar ini membuat Mopuya menjadi ramai, sangat berbeda sehari sebelumnya pada hari raya Nyepi yang sepi.

“Besok, setelah Nyepi warga Mopuya yang beragama Kristen dan Islam akan pesiar ke rumah-rumah keluarga-keluarga beragama Hindu. Ramai sekali. Saling bersalaman dan makan-makan,” katanya lagi.

Kegiatan pesiar ini juga dilakukan ketika umat Islam merayakan Idul Fitri dan Natal bagi umat Kristen. Sebuah tradisi yang sudah lama digelar di desa ini.

“Ini kebiasaan yang sudah lama berlangsung di sini,” kata Intiningati.

Bagi umat Hindu, rangkaian perayaan Nyepi merupakan dialog spiritual untuk mengusahakan kehidupan yang selalu seimbang dan harmonis. Ini dipahami sebagai cara untuk mencapai ketenangan dan kedamaian hidup.

Di Bali, ada 6 ritual Nyepi yang dijalankan oleh umat Hindu di sana. Seperti dilansir dari Liputan6.com pada 7 Maret 2019, setidaknya ada enam rangkain ritual dalam rangka Nyepi. Ritual pertama adalah Melasti (Melisa atau Mekiis). Ritual ini diadakan tiga hingga empat hari sebelum puncak hari raya Nyepi. Ia ditujukan untuk Sanghyang Widhi Wasa dengan cara memperoleh air suci dari laut. Ritual ini dilakukan di Pura yang berada di dekat laut dan dimaknai sebagai penyucian benda-benda pusaka.

Ritual berikut adalah Bhuta Yajna, yaitu ritual yang diselenggarakan sehari sebelum Nyepi. Ia dimaksudkan untuk menyingkirkan elemen negatif. Tujuan pentingnya adalah untuk menciptakan keseimbangan antara Tuhan, Manusia dan Alam.

“Masyarakat Bali membuat ogoh-ogoh selama dua bulan sebelum Nyepi,” tulis Asnida Riani, wartawan liputan6.com.

Dijelaskan, ogoh-ogoh atau boneka raksasa adalah tanda untuk mewakili kejahatan. Ia dibuat dari bambu dan kertas.

“Saat matahari terbenam, pawai ogoh-ogoh dimulai dan masyarakat berjalan sambil memainkan musik gabungan dari kulkul atau lonceng tradisional Bali, klakson, gamelan dan tetabuhan,” lanjut Riani.

Pada malam hari, ogoh-ogoh akan dibakar dalam suatu upacara pada puncak Ngrupuk. Ogoh-ogoh dilahap api adalah gambaran pemusnahan roh jahat.

“Tak hanya itu, umat juga melakukan tarian, minum, dan pesta hingga mauk untuk mengusir roh jahat yang ada di Pulau Bali,” tulis Riani.

Ritual ketiga adalah Nyepi. Ritual dimaknai sebagai refleksi diri.  Pada hari Nyepi, umat Hindu tidak diperkenankan membuat cahaya atau api yang menyala. Umat berdiam di rumah, berpuasa selama 24 jam.

Lalu keempat adalah ritual Yoga/Brata. Ritual ini dimulai dari jam 6 pagi pada hari Nyepi dan berlangsung hingga 6 pagi keesokan harinya. Masyarakat Hindu di Bali menghabiskan hari dengan meditasi.

Ritual berikutnya adalah Ngembak Agni/Labuh Bratah. Ia dilakukan setelah hari Nyepi. Kegiatannya adalah saling berkunjung dengan keluarga, tetangga, dan kerabat untuk saling memaafkan. Di Bali, para pemudanya di salah satu banjar merayakannya dengan Omed-omedan atau ritual Mencium sebagai tanda perayaan tahun baru.

Ritual terakhir dalam rangkaian Nyepi adalah Dharma Shanti. Ritual ini untuk merayakan persahabatan dan cinta sesama untuk keharmonisan dan kesejahteraan negeri ini.

Bupati Bolaang Mongondow, Yasti Soepredjo Mokoagow membawakan sambutan pada upacara Melasti dan pawai ogoh-ogoh. (Foto koleksi Intiningati)

***

September 2017 saya sempat ke Mopuya dan menginap di rumah keluarga Intiningati. Ia sendiri berasal dari keluarga transmigran asal Jawa. Ayahnya adalah Pak Budi Andoyo sebagai generasi pertama dari keluarga transmigran asal Banyuwangi yang datang pada tahun 1972. Umurnya waktu datang, 17 tahun. Ketika di sana, saya sempat mewancarai Pak Budi.

“Yang datang dari Banyuwangi pertama itu, sekira 50 kepala keluarga. Termasuk keluarga kami,” ujar Pak Budi.

Kelompok transmigran lain juga berjumlah 50 kepala keluarga berasal dari Bojonegoro.

Pak Budi datang bersama kedua orang tuanya. Ketika datang pertama kali, setiap keluarga mendapat lahan untuk pemukiman seluas 50×50 meter dengan masing-masing rumah kayu yang siap dihuni. Setiap keluarga juga mendapat sawah dan lahan untuk kebun.

“Itu di masa Soeharto kan. Ya, kalau bukan Soeharto kami tidak ada di sini,” katanya lagi.

Selama kurang lebih tiga hari di Mopuya ini, saya merasakan sebuah kehidupan yang sungguh dinamis dan majemuk. Di perempatan yang di tengahnya ada patung ‘bapak dan ibu tani’, setiap pagi mobil ladbak terbuka memuat kelompok orang, mereka perempuan dan laki-laki yang bekerja di sawah. Motor lalu-lalung di jalanan tanda dari sebuah kesibukan.

Intiniganti adalah generasi ketiga transmigran dari Banyuwangi, suaminya bapak Viktor asal Talaud. Inilah wajah Mopuya, sebuah ruang hidup yang terbentuk oleh program transmgrasi di zaman orde baru 45 tahun lalu.

Mopuya terkenal dengan keragaman dan relasi harmonis antara warga yang berbeda agama dan suku. Di sudut perempatan itu, gedung rumah-rumah ibadah berdiri berdekatan. Berturut-turut gedung gereja jemaat Imanuel GMIBM, lalu Mesjid, di dekatnya gedung gereja Katolik. Kemudian pura tempat beribadah Umat Hindu. Etnis sangat beragam.

Orang-orang Jawa, kebanyakan muslim, tapi tidak sedikit yang beragama Kristen. Orang-orang Minahasa, Sangihe, Talaud kebanyakan Kristen. Lalu, Bali juga ada yang Hindu maupun Kristen. Beberapa di antara generasi kedua atau ketiga transmigran ini sudah kawin campur, terutama dari segi etnis.

“Jadi, Nyepi, Idul Fitri atau Natal di desa kami saling baku pesiar. Ini sangat indah sekali,” kata Intiningati. (*)


Editor: Daniel Kaligis


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama untuk mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

492total visits,1visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *