Connect with us
no

ESTORIE

Oktober Merah Berdarah di Tha Phra Chan

Tha Phra Chan saat ini (Foto: Andre Barahamin/KELUNG)

15 Maret 2019


Oleh: Andre Barahamin


Oktober 1976, pelajar Thailand yang melakukan protes menjadi korban kebrutalan para pendukung Raja.

APA YANG LEBIH indah di Thailand selain tumisan babi panggang dan salad pedas?

Mungkin saja masih banyak yang lain bagi sebagian orang. Terutama untuk mereka yang tidak mengenali kemewahan mengkonsumsi daging babi. Tapi bagi saya, harum tumisan daging babi dari wajan penggorengan itu seperti sensasi magic mushroom yang datang sesuai prediksi.

Itu mengapa saya tidak bisa mentolerir Shangrila di Bangkok. Semua menu yang disajikan di gedung tirus tanpa rasa tidak lain adalah eksebisi wajah-wajah pucat para pemurung. Mereka yang nenek moyangnya menggelandang di lautan sepi sebelum akhirnya terdampar di pantai-pantai hangat tropis.

Thailand pernah jadi bagian hidup saya selama beberapa tahun. Ia mengajarkan cukup banyak hal yang kini menjadi bagian penting dalam perjalanan hidup saja. Itu mengapa saya paham betul bahwa selain memiliki ragam kuliner yang bisa membuat lidah orgasme, bangsa ini dipaku erat nasib untuk terikat dengan Oktober. Bulan yang akan selalu dikenang dengan sendu di Tha Prha Chan.

Iven berdarah yang terus menerus dikenang dengan pilu.

Setelah melancarkan protes dan mogok, pembangkangan pelajar di akhir dekade itu ditutup oleh serangan maha brutal tentara ke kampus Tha Prachan. Tragedi Oktober Berdarah 1976 ini mengubah jalan hidup banyak orang dan Thailand sebagai bangsa. Peristiwa inilah yang mendorong ribuan mahasiswa meninggalkan kampus.

Ben Anderson, dalam artikelnya berjudul “Withdrawal Symptoms: Social and Cultural Aspects of the October 6 Coup” yang diterbitkan oleh Bulletin of Concerned Asian Scholars mengatakan bahwa semuanya dimulai tiga tahun sebelumnya.

Pada Juni 1973, gerakan pelajar mulai berani unjuk taring. Rektor Universitas Terbuka Ramkamhaeng berhasil dipaksa mundur dari jabatannya. Protes ini diprovokasi oleh keinginan pihak kampus memecat mereka yang dituduh berada di balik beredarnya pamflet provokatif yang mengkritik junta militer.

6 Oktober 1973, Thirayuth Boonmee bersama 10 aktivis lain ditangkap militer dengan tuduhan penghasutan. Aksi pembagian selebaran yang mengandung kritik terhadap pemerintahan Thanom dan Praphas dianggap telah kelewat batas. Keesokan harinya, Kongkiat Kongka ikut ditahan. Kongkiat dituduh sebagai salah satu otak di balik aksi penyebaran selebaran. 8 Oktober, Thirayuth dan koleganya dinyatakan dalam penyelidikan junta militer karena dicurigai sedang merencanakan aksi kudeta terhadap kerajaan. Hal ini memberi alasan bagi pihak militer untuk menahan para aktivis lebih lama.

Sehari kemudian, Khaisaeng Suksai yang merupakan mantan anggota parlemen, juga ikut ditangkap. Selama empat hari ditahan, Thirayuth, Kongkiat dan Khaisaeng beserta yang lain tidak diijinkan berkomunikasi dengan dunia luar. Hal ini memicu isu bahwa semua aktivis yang ditangkap telah tewas dibunuh militer dalam penjara. NSCT lalu mengorganisir protes serta pemogokan di kampus-kampus utama Bangkok Metropolitan Region (BMR). Namun junta militer memilih menutup telinga.

Kemarahan itu akhirnya meledak.

Untuk memprotes penangkapan tersebut, ribuan pelajar dan serikat pekerja membanjiri jalan-jalan utama Bangkok. Diperkirakan sekitar 400.000 orang mengikuti aksi-aksi protes menuntut pembebasan aktivis-aktivis yang ditahan. Motor utama adalah NSCT dan serikat-serikat buruh radikal. Aliansi pelajar-pekerja menjadi mungkin karena banyaknya pelajar yang bekerja sebagai buruh dan juga terlibat di dalam serikat.

Demonstrasi memuncak pada 13 Oktober ketika hampir setengah juta orang ikut ambil bagian dan berkumpul di Monumen Demokrasi serta di depan gedung parlemen. Dalam The King Never Smiles, Paul M. Handley berargumen bahwa jumlah massa yang besar berhasil membuat Raja gemetar. Negosiasi lalu ditawarkan.

Sebagian besar pelajar memilih mendengarkan seruan Raja Bhumibol untuk menghentikan pemogokan dan kembali ke kampus. Namun sekitar 200.000 pelajar di bawah komando Seksan Prasertkul memilih tetap melanjutkan protes. Dini hari 14 Oktober, barisan pelajar telah mengepung Istana dan menuntut agar dapat berdialog langsung dengan Raja Bhumibol. Permintaan ditolak oleh juru bicara junta dan para pelajar diinstruksikan untuk segera meninggalkan tempat tersebut.

Namun, ketika para pelajar sedang membubarkan diri, sebuah bom meledak. Ledakan tersebut menjadi isyarat sekaligus alasan bagi polisi dan tentara yang berjaga untuk segera memukuli pelajar. Tembakan peluru tajam mulai dilepaskan. Siang hari, sudah 77 orang dinyatakan tewas dan hampir seribu orang menderita cedera dan memar serius hingga harus dilarikan ke rumah sakit.

Kekerasan yang dilakukan militer dijawab dengan perlawanan.

Menjelang siang hari, jumlah para pemrotes semakin meluas karena banyaknya warga kota Bangkok yang ikut bergabung melawan tentara.

15 Oktober, demonstran tetap melancarkan protes. Pelajar menduduki kampus dan memaksa aktivitas belajar lumpuh total. Perjuangan dianggap belum selesai hanya dengan pernyataan mundurnya Thanom dari kursi perdana menteri. Pelajar menuntut pengunduran diri penuh Thanom dari jabatannya sebagai Komandan Tertinggi Kesatuan Militer.

Istana lalu menentukan sikap. Tersiar kabar bahwa Jendral Thanom dan Praphas beserta Kolonel Narrong Kittikachorn (anak kandung Thanom dan menantu Praphas) sudah melarikan diri ke luar negeri. Juru bicara Istana mengeluarkan pernyataan bahwa sebuah lembaga interim yang berdasar prinsip-prinsip demokrasi akan dibentuk sebagai pemerintahan transisi. Pemilu dijadwalkan dalam waktu secepat mungkin dan reformasi ekonomi akan menjadi program prioritas.

Protes kemudian layu dengan cepat. Demokrasi dianggap sudah menyingsing dan ia terbit dari Istana.

Artikel Suchit Bunbongkarn berjudul “The Military and Democracy in Thailand” yang terbit sebagai bagian The Military and Democracy in Asia and the Pacific menulis bagaimana Sanya yang terjepit memilih menyerahkan surat pengunduran diri dari jabatan Perdana Menteri. Namun, ia tak kuasa menolak ketika dirinya dipaksa Raja Bhumibol untuk kembali menduduki posisi tersebut. Sesudahnya adalah basa basi politik.

Draft baru yang memuat usulan Istana diterima dan disahkan pada 7 Oktober 1974. Tidak ada protes publik saat itu. Daerah selatan sedang disibukkan dengan operasi militer menghadang tumbuhnya kelompok nasionalis Melayu Pattani. Di utara dan timur laut, Partai Komunis Thailand sedang melancarkan gerilya. Serikat buruh yang memenangkan beberapa tuntutan ekonomis kembali bekerja di pabrik-pabrik membuntuti para pelajar yang sudah jauh hari mundur dari gelanggang politik.

Pengesahan draft konstitusi dilakukan dengan tergesa-gesa. Seratus orang yang ditunjuk Raja Bhumibol secara bulat menerima tambahan-tambahan dan klausa yang diusulkan Istana. Sanya, si Perdana Menteri yang tak punya kuasa apapun itu akhirnya mengesahkan hasil keputusan Komite.

Pemilu yang ditunggu akhirnya dihelat Januari 1975.

Namun, tidak ada satupun dari 22 partai peserta pemilu yang menang telak. Artinya, pemerintahan hanya bisa dibentuk dengan koalisi.

Januari 1976, pihak militer berhasil membubarkan parlemen dan menyetujui dilangsungkannya pemilu di bulan April. Pemilihan ini berlangsung penuh intrik dan kecurangan di tengah menguatnya sentimen anti-komunisme.

Partai Demokrat kembali menjadi pemenang meski tak dominan dan tetap harus membentuk koalisi. Seni Pramoj kembali menjadi Perdana Menteri. Namun kondisi politik tak kunjung membaik.

Di tengah kekacauan itu, Praphas Charusatien pulang dari eksil dan secara resmi mengadakan pertemuan dengan Raja Bhumibol. Pertemuan itu menuai kecaman. Protes pelajar kembali menghangat. Istana dituduh bermain api dan mengancam demokrasi.

Di saat yang bersamaan, militer melalui Komando Operasi Keamanan Dalam Negeri (Internal Security Operation Command) mengerahkan Krathing Daeng (Banteng Merah), sayap paramiliter sebagai lawan tanding gerakan pelajar yang tengah kembali bergeliat. Anggota-anggota Krathing Daeng adalah jagoan pasar, tukang pukul, kriminal kelas teri dan bajingan miskin kota yang dididik dengan fanatisme anti komunisme dan loyalitas terhadap Istana. Menurut Bunbongkarn, Mayor Jendral Sudsai Hasadin menjadi otak di belakang kelompok ini.

Selain Krathing Daeng, Pemandu Desa (Village Scouts) adalah sayap para militer lainnya. Jika Krathing Daeng membasiskan dirinya di daerah perkotaan, Pemandu Desa bertugas mengamankan kekuasaan istana di daerah-daerah rural.

Tidak lama setelah kedatangan Praphas, 19 September 1976, Thanom Kittikacorn juga ikut pulang dan segera membaptis diri sebagai biksu. Raja Bhumibol dan Ratu Sirikit yang kembali dari kunjungan di daerah selatan pergi mengunjungi Thanom. Istana jelas mengirim signal dukungan kepada militer.

Pelajar yang muak dengan sikap Istana dan mulai khawatir dengan kondisi demokrasi mengonsolidasikan diri. Menurut Anderson, Universitas Thammasat menjadi titik penting karena lokasi Tha Phra Chan yang strategis. Di Bangkok sendiri, diperkirakan sekitar lima ribu pelajar bergabung dalam rally memprotes kepulangan Thanom ke Thailand.

Turbulensi ini mencapai titik didih pada 6 Oktober.

Para pelajar yang sedang berkumpul di Universitas Thammasat diserbu dengan brutal oleh gabungan Krathing Daeng, Pemandu Desa dan aparat militer. Sebelum senja, Tha Pracan berkubang darah. Menurut informasi resmi, 46 orang dinyatakan tewas, 167 terluka parah dan 3.000 lainnya ditangkap dalam serbuan brutal tersebut. Namun beberapa sumber bersikeras kalau jumlah korban mencapai lebih dari 100 orang. Selain itu, para pelajar perempuan banyak yang menjadi korban pemerkosaan anggota para militer yang terlibat dalam serangan.

Keesokan harinya, atas restu Raja Bhumibol, militer kembali mengambil alih pemerintahan. Seni Pramoj dipaksa turun dari jabatannya sebagai Perdana Menteri. Sangad Chaloryu sebagai pimpinan tertinggi militer mengumumkan terbentuknya Dewan Reformasi Administratif Nasional. Badan ini menyatakan bahwa kudeta diperlukan untuk menjaga Thailand agar tidak jatuh ke dalam kuasa komunis dan melindungi Istana dan kekuasaannya. Raja Bhumibol lalu menunjuk Thanin Kraivichien, seorang jaksa sayap kanan pembenci komunisme sebagai Perdana Menteri yang baru.

Demokrasi gugur bersama tenggelamnya mayat para pelajar di sungai Chao Praya.

Serangan berdarah yang ikut didukung Istana terhadap di Universitas Thammasat membuat banyak pelajar yang marah memilih bergabung dengan gerilyawan Maois yang beroperasi di daerah pegunungan utara dan timur laut. Harapannya, mereka menemukan teman seperjuangan. Namun friksi justru tak bisa dihindari.

Menurut Yuangrat Wedel dalam The Communist Party of Thailand and Thai Radical Thought, di mata kader-kader partai, para pelajar adalah borjuis kecil yang berjuang setengah hati. Sebaliknya para pelajar memandang bahwa kader-kader partai adalah kelompok tua yang tidak berpikiran terbuka serta dogmatis.

Aliansi prematur ini kemudian berakhir menyedihkan. Pada April 1980, Perdana Menteri Prem Tinsunalonda mendapatkan restu Raja Bhumibol untuk mengeluarkan Dekrit 66/2523. Dekrit ini ditentang faksi sayap kanan dalam tubuh militer. Sebabnya, ia membuka jalan pulang bagi para gerilyawan untuk kembali menjadi bagian masyarakat Thailand. Dekrit ini menjanjikan amnesti serta garansi penuh terhadap upaya rekonsiliaai. Ketika dekrit ini turun, para aktivis pelajar termasuk dalam barisan paling awal yang meletakkan senjata. Mereka menjemput janji amnesti dan sebagian di antaranya kembali ke bangku kuliah.

Namun, semua rentetan ramalan tentang buruknya masa depan Siam tentu bukan alasan agar saya begitu saja membiarkan Shangri-La mengacaukan ingatan tentang negeri ini. Meski feodalisme yang bersetubuh dengan militerisme tetap saja menjijikan, ada sisi lain yang mengikat saya dengan Thailand.

Kepada publik, kudeta di Siam adalah hal yang paling sering saya bicarakan dan juga tulis. Tapi ada sisi lain Siam yang membuat saya bisa bersabar. Negeri ini memiliki keindahan surgawi di atas piring yang selalu membuat saya berdebar.

Saya paham benar karena dahulu perut, tenggorokan dan rasa rindu berhasil diredam dengan nyaman selama bertahun-tahun belajar dan bekerja di negara ini. Meski otak dan sikap pribadi saya tetap alergi dengan militer yang mencoba peruntungannya di luar barak. Mengingat makan siang di kedai-kedai pinggir jalan Bangkok dahulu macam orgasme di puncak masturbasi setelah kau bosan membaca artikel-artikel jurnal.

Satu jam di kantin terasa seperti bercinta tergesa-gesa dengan kekasih di lorong perpustakaan, atau ketika tangan kekasih tetap meraba di balik celana walau kelas sedang berlangsung. Makan siang dan makan malam di Thailand selalu saya jalani secara berdebar dan penuh semangat.

Karena saya percaya, makanan di daerah tropis adalah padu padan yang diciptakan oleh nirwana. Dan saya serius. Apalagi jika itu adalah daging babi dan salad pepaya dengan rasa pedas yang tidak main-main.

Sebab buat saya pribadi, babi adalah hewan surga. Dibikin apa saja enak. Dagingnya adalah ekstase. Lemaknya adalah cara berjumpa dengan pencipta. Apalagi jika kekasih yang habis kau cumbu tadi malam yang memasaknya untukmu. Setiap gigitannya akan membuatmu terasa sedang menjalani bulan madu. Hanya saja abadi. Membekas dan merampas kesadaran. Lalu kau terbayang dan mencari jalan untuk kembali. Dan Thailand, menemukan salah satu cara terbaik menyajikan daging babi di rimba tropis.

Nama hidangan ini adalah Kana Moo Krob.

Daging babi asap yang diiris persegi dan ditumis bersama bawang putih, jahe, rajangan cabai dan minyak ikan. Hamburkan garam secukupnya lalu tambahkan potongan daun bayam. Aduk hingga layu. Lalu tuangkan semuanya ke atas sepiring nasi yang masih hangat mengepul. Harumnya niscaya akan membawamu kembali ke masa di mana membakar kemenyan tidak akan dianggap primitif dan terbelakang. Minyak yang melekat di tiap lembar potongan daun bayam akan terasa persis seperti kenangan. Dan daging babi asap yang berlumur rempah adalah jembatan pelangi.

Di ujungnya kau dapat menjumpai leluhurmu, para pemburu pemberani dari masa lalu.

Sementara, bahan utama Som Tam adalah adalah buah pepaya mentah yang diiris halus. Ditumbuk bersama dalam lesung tanah liat dengan perasan jeruk, bawang putih, minyak ikan, potongan udang asin, irisan wortel, kacang dan cabai. Bunyi lesung yang digagahi pemukul kayu akan terdengar seperti nada yang digunakan Shaman memanggil roh leluhur. Ini adalah jenis salad para pemberani di masa lalu sebelum takluk oleh mesiu.

Rasanya adalah campuran asin dan pedas. Saling berpagutan di lidah hingga memaksamu bersyukur karena terlahir di negeri yang selalu hangat oleh matahari.

Bagi saya, Som Tam sejati adalah yang rasa pedasnya mampu membuat bulir-bulir keringat menetes deras dari balik kening dan kita seakan dilempar ke masa di mana hutan-hutan tropis belum terjamah kelapa sawit. Di sana, di kaki pohon-pohon raksasa, para pemberani akan berlari mengejar babi hutan yang sedang bersolek. Lalu setelah babi itu tumbang oleh tombak dan panah, kedua paha bagian belakangnya akan dipersembahkan untuk menjadi bahan dasar Kanna Mu Krob.

Sepulang berburu, anda dan saya akan singgah memetik pepaya agar dewa cemburu dengan kesempurnaan kuliner kita.(*)


Editor: Gratia Karundeng


 

Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama untuk mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

225total visits,1visits today