Connect with us
no

BERITA

Pejuang Masyarakat Adat di Brazil Dibunuh!

3 November 2019


Oleh: Andre Barahamin


 

kelung.com – Paulo Paulino Guajajara, seorang pemimpin komunitas masyarakat adat Guajajara yang masih berusia 26 tahun, dinyatakan tewas pada Jumat, 1 November. Ia diduga dibunuh setelah ditembak di bagian kepala oleh para penebang kayu liar yang sering beroperasi di kawasan hutan cagar alam Araribóia. Kabar kematian Paulo pertama kali dikonfirmasi oleh Midia India, sebuah jaringan media yang memfokuskan diri pada isu-isu terkait perjuangan masyarakat adat di Brazil.

Semasa hidup, Paulo adalah adalah bagian dari Guardián del Bosque atau Para Penjaga Hutan, sebuah aliansi dari sekitar 120 kelompok masyarakat adat yang mempertaruhkan nyawa untuk menjaga hutan di kawasan Araribóia. Guardián del Bosque juga merupakan salah satu kelompok yang aktif melindungi kelompok masyarakat adat Awa Guaja, salah satu kelompok pemburu-pengumpul yang menurut Survival International dikategorikan sebagai kelompok masyarakat adat yang paling terancam di dunia.

Salah satu pemimpin masyarakat adat yang bernama Laércio Guajajara, yang merupakan anggota Guardian del Bosque, juga ikut terluka dalam serangan yang menewaskan Paulo. Laércio terkena tembakan, namun berhasil melarikan diri, sebelum akhirnya dilarikan ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis. Laércio adalah orang pertama yang mengabarkan tentang aksi brutal yang menimpa Paulo. Kabar ini dikonfirmasi oleh pemimpin Guardian del Bosque kepada Mongabay.

“Ini adalah kabar yang sangat menyedihkan. Kami kehilangan salah satu ksatria yang melindungi kehidupan dan hutan… Dia dibunuh dengan pengecut karena mengambil pilihan untuk mempertahankan kehidupan… [Sistem] hukum Brasil harus menghukum [mereka] yang bertanggung jawab [dalam pembunuhan Paulo],” kata Olímpio.

Kelompok Guardian del Bosque didirikan pada akhir 2012 dan sejak itu menghancurkan sekitar 200 kamp penebangan liar di dalam cagar alam, menurut Olímpio. Dia mengatakan situasi di Araribóia telah memburuk di bawah pemerintahan baru. Guardian del Bosque saat ini mendirikan sebuah organisasi non-profit dan situs web untuk menggalang dukungan finansial demi perlindungan wilayah adat Araribóia.

Coordenação das Organizações Indigenas da Amazônia Brasileira (COIAB) atau Koordinasi Organisasi Adat Amazon Brazil, dalam pernyataan singkat di Instagram mengutuk keras aksi pembunuhan terhadap Paulo. COIAB merupakan aliansi dari masyarakat adat di sembilan negara bagian yang berada di kawasan Amazon (Acre, Amazonas, Amapá, Maranhão, Mato Grosso, Pará, Rondonia, Roraima dan Tocantins). Organisasi ini mewakili lebih dari dari 430.000 masyarakat adat yang tersebar di lebih dari 300 organisasi adat yang membawahi lebih dari 430 wilayah adat.

“[Pembunuhan Paulo] adalah saksi dari semua gelombang kebencian, kemarahan, prasangka, rasisme, serangan, kriminalisasi dan pembunuhan terhadap masyarakat adat, yang lakukan oleh otoritas Negara Brasil, yang berada di bawah komando Presiden Jair Messias Bolsonaro,” demikian bunyi pernyataan tersebut.

Priscila Tapajoara, salah satu anggota Midia India mengatakan bahwa kabar buruk ini merupakan bagian dari rangkaian kekerasan yang eskalasinya semakin meningkat sejak Bolsonero terpilih.

“Pembunuhan terhadap Guajajara adalah kabar buruk yang tidak bisa dipisahkan dari serangkaian serangan terhadap masyarakat adat di Brazil. Aksi kekerasan terhadap masyarakat adat yang mempertahankan wilayahnya semakin menjamur sejak Bolsonero menjadi presiden,” kata Tapajoara kepada Kelung saat dihubungi via WhatsApp.

Kepolisian Nasional dan Kepolisian Negara Bagian Maranhão sedang menyelidiki peristiwa pembunuhan tersebut. Dilansir dari Mongabay, seorang penebang liar juga ikut terbunuh. Sejauh ini, jenazah Paulo belum ditemukan.

 

Gelombang Kekerasan

Pembunuhan terhadap Paulo adalah domino dari rangkaian eskalasi kekerasan yang makin meningkat tajam sejak Bolsonaro terpilih pada Januari tahun ini. Dalam beberapa tahun terakhir, Brazil adalah negara dengan tingkat keterancaman paling tinggi bagi pejuang masyarakat adat dan aktivis lingkungan.

Dalam laporan terbarunya, Concelho Indigenista Missionario (CIMI) atau Dewan Misionaris Adat Brazil mencatat bahwa terdapat 135 pejuang masyarakat adat yang dibunuh di tahun 2018 saja. Jumlah ini meningkat 23% dari jumlah kasus kekerasan di tahun sebelumnya. Laporan ini juga mencatat bahwa di awal tahun 2019, sudah terdapat 160 kasus perampasan tanah adat, eksploitasi sumber daya alam secara ilegal, dan pengrusakan properti yang terjadi di 153 wilayah adat di rentang Januari hingga September. Negara Bagian Roraima merupakan wilayah yang paling berbahaya di mana terdapat 62 kasus pembunuhan terhadap pejuang masyarakat adat dan aktivis lingkungan. Di posisi berikutnya adalah Negara Bagian Mato Grosso do Sul, yang mencatatkan 38 kasus.

Angka-angka ini menandai peningkatan yang signifikan dibanding 2018, ketika 111 insiden jenis ini dilaporkan hanya terjadi di 76 wilayah adat sepanjang tahun, menurut laporan tersebut. Angka ini sangat mengkhawatirkan karena meningkat hampir dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Laporan CIMI tersebut tidak termasuk data pembunuhan untuk tahun 2019, tetapi mengungkapkan bahwa 135 orang pribumi dibunuh pada tahun 2018 – meningkat hampir 23 persen dari tahun 2017, ketika 110 orang pribumi dibunuh.

Laporan CIMI juga memberikan perhatian khusus pada kasus-kasus kematian lain yang disebabkan oleh kelalaian negara, termasuk kasus bunuh diri dan kematian bayi.

Pada tahun 2018, laporan tersebut mencatat ada 101 kasus bunuh diri di kalangan masyarakat adat di Brasil. Dilansir dari Mongbaya, Koordinator CIMI untuk Region Selatan, Roberto Liebgott, mengatakan bahwa angka bunuh diri tersebut mencerminkan kegagalan negara.

“Situasi tersebut jelas merefleksikan kegagalan negara. Banyak masyarakat adat yang terusir jauh dari wilayah adatnya, atau dipaksa tinggal di dalam wilayah reservasi yang mengalami kelebihan populasi, dihadapkan dengan kerentanan ekstrim, isolasi dan kurangnya kesempatan, banyak masyarakat adat yang kemudian memilih bunuh diri,” kata Liebgott.

CIMI juga melaporkan tingginya angka kematian bayi. Di tahun 2018, terdapat 591 anak-anak pribumi berusia lima tahun ke bawah meninggal karena pengabaian oleh negara. Hampir 40% dari angka tersebut (219 anak) tinggal di negara bagian Amazonas. Ini adalah wilayah dengan angka kematian bayi paling tinggi di Brazil. Kematian anak-anak tersebut secara langsung terkait dengan kurangnya bantuan medis, di wilayah-wilayah reservasi masyarakat adat. Rendahnya akses terhadap air bersih adalah salah satu masalah utama.

Sejak resmi menjabat sebagai Presiden Brazil pada Januari lalu, Bolsonaro memulai rangkaian kebijakan-kebijakan kontroversialnya. Termasuk rencana untuk membuka pertambangan dan agribisnis skala besar di wilayah-wilayah adat. Bolsonero juga melakukan revisi terhadap berbagai peraturan terkait perlindungan hak masyarakat adat dan hukum lingkungan. Semasa kampanye, Bolsonero juga secara tidak langsung menyatakan dukungannya terhadap perambahan hutan yang memicu naiknya angka pembalakan hutan secara ilegal di wilayah-wilayah adat, yang menjadi penyebab terbunuhnya Paulo Paulino Guajajara. (*)

 


Editor: Daniel Kaligis


 

Total Page Visits: 41 - Today Page Visits: 1