Connect with us

ESTORIE

Perang Minahasa-Spanyol, Heroisme Waraney dan Lahirnya Mahassa

14 Maret 2019


Oleh: Rikson Karundeng


 

Sekali tebas, kepala serdadu Spanyol langsung terpisah dari badan, tubuh mereka kemudian dicincang sampai halus hingga daging dan tulangnya menyatu dengan tanah

 

OKTOBER 1521, sejumlah armada yang memuat orang-orang Spanyol tiba di Tidore. Sebelumnya mereka tergabung dalam musafir penjelajah samudra Ferdinand Magelhaens. Sebagian rombongan kapal Spanyol ini kemudian memisahkan diri dari induknya dan berlabuh di salah satu tempat di Minahasa. Kisah itu digambarkan Hubertus van Kol dalam Uit onze Kolonien, Een Schakelstuk (1903). Catatannya merujuk pada surat Pater Antonius Narta di Maluku yang dituliskan tahun 1588.

J.G.F. Riedel menggoreskan dalam Het Oppergezag der Vorsten van Bolaang Mongondow over de Minahasa (1872) bahwa armada itu telah berlabuh di Kima. Penulis sejarah Minahasa, Hendricus Benedictus Palar dalam bukunya Wajah Lama Minahasa (2009) memperkirakan, kemungkinan besar tempat mereka mendarat adalah daerah Kima Kecamatan Molas Manado kini. Menurutnya, orang-orang Babontehu yang mendiami pulau-pulau di sekitar Manado-lah yang pertama kali berkomunikasi dengan armada Spanyol tersebut.

Orang Babontehu kemudian mengadakan persahabatan, melakukan barter, lalu memperkenalkan kepada pelaut-pelaut Spanyol itu sebuah pelabuhan yang sangat indah yaitu Tumpahan Wenang. Daerah yang tidak jauh dari Kima, lokasi mereka berlabuh. Di situlah muara sungai Wenang, tempat biasa orang-orang membuat garam di bawah pohon. Dari pelabuhan ini, jika menghadap ke barat akan tampak sebuah pulau yang bernama Manarow atau Manado yang kini disebut Pulau Manado Tua.

Masyarakat Babontehu memperkenalkan orang-orang Spanyol kepada masyarakat maka tana (pemilik tanah) sebagai orang-orang Tasikkela. Penduduk Tumpaan Wenang itu adalah taranak dari tanah Tombulu. Tapi maka tana tampak acuh tak acuh terhadap orang-orang Spanyol. Karena itulah armada itu berlayar terus ke arah selatan dan mendarat di Uwuren Amurang. Daerah teluk yang indah di Kabupaten Minahasa Selatan kini. Uwuren dijelaskan sebagai tempat orang membuat sagu.

Usai menurunkan awaknya, kapal itu balik kembali ke Tumpahan Wenang. Menanti para penumpang yang tengah melakukan ekspedisi di wilayah pegunungan Malesung. Sebutan untuk Minahasa di zaman itu.

Di Uwuren Amurang, kemudian hari dijadikan benteng oleh orang-orang Spanyol.  Dari data yang ada, Palar memperkirakan jika benteng itu dibangun Laksamana Spanyol Bartolomeus de Soisa tahun 1651.


Ekspedisi Spanyol di Minahasa

Molsbergen dalam Geschiedenis van de Minahasa (1829) menjelaskan, ekpedisi awal Spanyol ke pedalaman Minahasa dilakukan dari teluk Amurang. Dari Uwuren, orang-orang Spanyol bergerak ke Cali (Kali), wilayah Tombatu kini. Sebuah desa yang disebut dekat danau bernama Wasian Uwuren atau Tonsawang. Tempat yang ketika itu terkenal sebagai salah satu daerah penghasil padi terbesar di Minahasa.

Dalam ekspedisi lain, orang-orang Spanyol menyusuri sungai Rano I Apo atau Ranoyapo (air dari Tuhan). Dari Amurang mereka menjelajahi daerah pegunungan Motoling dan tiba di Pontak. Di daerah ini, mereka juga mendapati hasil beras yang melimpah. Tak heran, tim ekspedisi Spanyol itu membangun gudang beras di Pontak.

Wilayah Selatan Minahasa sudah melimpah dengan beras ketika orang-orang Spanyol masuk ke tanah ini. N. Graafland dalam De Minahasa, Haar Verleiden en Haar Tegenwoordige Toestand (1869) menyebutkan, ketika ia datang tahun 1800-an, ia diberitahu penduduk wilayah Motoling bahwa mereka masih meyaksikan lesung-lesung batu tempat menumbuk beras peninggalan Spanyol.

Tak hanya merayapi wilayah Motoling dan Tonsawang, orang-orang Spanyol masih terus melanjutkan ekspedisi Minahasa. Jalur pegunungan menuju utara coba dijajal. J.G.F Riedel menulis, ketika itu mereka melewati Tombasian, Wanua Wangko atau Kawangkoan, terus ke daerah Tombulu-Katinggolan atau Woloan Tua, turun ke Kali Pineleng dan kembali ke dataran Wenang. Saat kembali ke Wenang, orang-orang Spanyol mulai mendirikan banteng, membangun perkampungan. Orang Tombulu menyebut perkampungan mereka dengan Winaror ni Tasikela.

Kehadiran orang asing itu ternyata sangat mengusik masyarakat Minahasa. Apalagi yang mendiami wilayah pegunungan. Sejak awal para raindang wu’uk (rambut merah) tidak diterima. Tidak mengherankan jika dalam ekspedisi awal, banyak tantara Spanyol tewas. “Diambil” para waraney (ksatria Minahasa). Sisa-sisa pelindung kepala dan senjata yang dirampas para waranei di masa itu masih bisa dilihat saat ini. Peralatan perang berusia ratusan tahun tersebut sering digunakan para penari kawasaran.

Periode Kedua Spanyol di Minahasa

Periode pertama Spanyol di Minahasa ada di masa 1520-1562. Di tahun 1562, Spanyol digusur Portugis dari perairan Maluku dan Sulawesi. Peristiwa itu terjadi terutama karena perjanjian Saragosa antara kedua bangsa. Karena itu Spanyol kemudian memusatkan kekuasaannya di Manila Filipina.

Sejarah melukiskan, tahun 1580 terjadi perubahan politik di Eropa. Negara adikuasa Portugis didera resesi ekonomi dalam negeri. Akibatnya, terjadi emigrasi besar-besaran warga Portugis ke kawasan-kawasan koloninya. Begitu kekuatan dalam negeri Portugis melemah, Spanyol melakukan serangan ke Portugis dan dengan mudah menaklukkan negeri itu. Tanah-tanah jajahan negara itu juga akhirnya satu per satu jatuh ke tangan Spanyol, termasuk negara penjajah lainnya seperti Belanda.

Spanyol dan Portugis akhirnya dipersatukan di bawah bendera Spanyol. Masa itu, kekuasaan Portugis di Maluku berakhir. Tahun 1617, serdadu-serdadu Spanyol kembali datang dan menetap di Manado. Namun pengalaman kehadiran mereka di masa awal masih tetap terjadi. Orang batasaina (orang Minahasa gunung) tetap mengacuhkan mereka. Para highlanders Minahasa tak mau bersahabat dengan mereka.

Pater Blas Palomino dalam Surat Laporan dari Manado 8 Juni 1619 mengisahkan, 4 Februari tahun 1619 mereka meninggalkan Manila dan mendarat di Manado pada bulan Maret. Saat itu, komandan pasukan Spanyol di Manado langsung mengundang para Ukung (Kepala Kampung) dan membicarakan rencana kerja para misionaris ini. Para Ukung dengan sangat hormat mengundang mereka masuk ke daerah pedalaman. Namun tak ada satu kampung pun yang mau menerima Pastor Blas Palomino, Diego de Royas dan Bruder Juan de S. Mernardino.

Para misonaris ini sempat tinggal di Manado sampai tahun 1622 sampai akhirnya memutuskan berangkat ke Makasar. Bulan Agustus tahun 1622, dari Makasar mereka bermaksud ke Maluku. Singgahlah mereka di pantai utara Minahasa. Dengan kawalan ketat para serdadu Spanyol, tim misionaris ini kembali berusaha menjumpai para penduduk. Naas, Pastor Blas Palomino dan penerjemahnya Joao da Palma ditombak masyarakat setempat. Di Madrid Spanyol, 2 Juni 1627, Pedro de la Conception mengungkap dalam Catatan Hariannya 10 Agustus 1622, dengan mata kepalanya ia menyaksikan langsung kematian tragis Pastor Blas Palomino dan Joao da Palma itu.

Kedatangan kedua orang-orang Spanyol ke Minahasa benar-benar penuh hasrat untuk meguasai dan mengeruk seluruh potensi ekonomi yang ada di tanah Malesung. Serdadu-serdadu Spanyol serta para mesticos (turunan campuran Spanyol-Minahasa) mulai bertindak brutal dan tidak manusiawi terhadap penduduk Minahasa. Achilles Meersman dalam The Franciscansin the Indonesian Archipelago (1967) mengungkapkan jika tindakan itu telah membuat kebencian orang Minahasa terhadap orang-orang Spanyol semakin mendalam. Ia menulis, saat Pastor Juan Yranso dan Bruder Francisco de Alcala Lorenzo Gerralda tiba di Manado tahun 1639, mereka menyaksikan langsung kondisi pahit itu. Inilah yang membuat para misonaris tersebut harus menghadapi tantangan luar biasa untuk masuk ke daerah pedalaman Minahasa.

Sementara, para mesticos semakin gila memeras rakyat demi “bos-bos” Spanyol-nya. Para serdadu tak kalah gila. Mereka semena-mena merampas apa saja dari penduduk bahkan memperkosa para perempuan. Bersenjata bedil, dengan menunggangi kuda, para serdadu memaksa masyarakat membawa beras mereka ke gudang beras Spanyol di Manado. Rakyat Minahasa tak segan-segan diperlakukan seperti hewan angkut. Bahkan ada tanah Ukung dirampas. Rakyat Minahasa dipaksa memenuhi semua kebutuhan beras Spanyol.


Kemarahan Tou Minahasa Memuncak

Praktek kekejaman yang diperagakan orang-orang Spanyol telah melampaui kesabaran tou (orang) Minahasa. Peristiwa-peristiwa yang memancing amarah rakyat telah menindih. Sejumlah kisah yang membakar semangat perlawanan tersimpan kuat dalam benak. Ingatan-ingatan itu terus meronta untuk lepas.

H.B. Palar mengisahkan, satu ketika tantara Spanyol di bawah pimpinan Don Pedro Alkasas tiba di daerah Tolour yang biasa ramai dikerumuni masyarakat. Mereka mengundang penduduk untuk turut bersantai. Ukung Mononimbar yang mulai menentang pedagang Spanyol ikut menghadiri undangan yang tampak ramah itu. Namun, tunggakan beras yang telah lama menumpuk rupanya dianggap Don Pedro sebagai kelalaian dan kesengajaan Ukung Tondano itu. Maka dalam keadaan lengah karena disodori alkohol, prajurit-prajurit Don Pedro menangkap Mononimbar dengan mudah. Ia diikat dan digantung di atas pohon tinggi hingga menjadi tontonan masyarakatnya sampai ajal menjemputnya. Peristiwa penghinaan ini sangat membekas di hati orang-orang Tondano.

Aksi brutal juga dilakukan sepasukan tantara Spanyol dan Tidore di tanah Tonsea. Saat sedang digelar sebuah foso (upacara keagamaan) di Sawangan, mereka membunuh semua Walian (pemimpin agama) yang hadir, menangkap dan menculik semua perempuan kemudian menjadikan mereka hamba sahaya di banteng Spanyol.

Di wilayah Tombulu, pemerkosaan hak-hak manusiawi tantara Spanyol memuncak dalam peristiwa yang menimpa keluarga Ukung Lumi. Rombongan pasukan datang bertamu. Mereka kemudian dijamu dengan penuh hormat oleh Ukung Tomohon, sosok Kelung um Banua (pelindung negeri) yang sangat dihormati dan disegani masyarakatnya. Seperti kejadian di Tondano, para prajurit menyodorkan alkohol kepada anggota keluarga Ukung Lumi, tanda balas budi terhadap keramahan keluarga. Setelah sempoyongan, mereka mempergunakan kesempatan itu untuk menculik dan melarikan putri Ukung Lumi bernama Tendenwulan.

Seluruh negeri seketika gempar mendengar kabar itu. Budayawan Minahasa Rinto Taroreh menyebutkan, di bawah pimpinan panglima perang Posumah, anak tertua Ukung Lumi, para waraney yang sigap langsung mengejar dan mengepung pasukan Spanyol di lereng Gunung Empung, daerah utara Kelurahan Kinilow Tomohon kini. Secepat kilat santi (pedang) para waraney menebas leher serdadu-serdadu Spanyol yang telah terkepung. Bedil dan sable dalam genggaman tak sempat diayunkan. Sebagian tak sempat bergerak karena wengkou (tombak) para waraney telah menancap di jantung. Teriakan “I Yayat u Santi” menggema. Tak satu pun tantara Spanyol yang dapat menyelamatkan diri dari peristiwa itu. Tak ada yang berhasil kembali ke benteng mereka di Wenang.

“Sekali tebas, kepala serdadu Spanyol langsung terpisah dari badan. Tubuh mereka kemudian dicincang sampai halus hingga daging dan tulangnya menyatu dengan tanah. Orang Minahasa menyebutnya totoken. Sebuah hukuman bagi pengkhianat, bagi orang yang merendahkan martabat Ukung,” ujar Taroreh.

Dalam tulisan Achilles Meersman, Pastor Juan Yranso mengaku telah menjadi saksi mata dari peristiwa 10 Agustus 1644 itu. Kebaikannya, sikapnya yang getol membela masyarakat Minahasa, membuat ia dicintai dan mampu lolos dari perisiwa itu. Sejak Agustus 1644 sampai April 1645 ia berlindung di biaranya. Atas bantuan orang-orang Minahasa, ia akhirnya dapat meninggakan Minahasa menuju Filipina hingga boleh menjadi saksi hidup peristiwa itu.

“Waktu itu Pastor Juan Yranso tinggal di rumah Ukung Lumi. Karena itulah ia selamat walau semua orang Spanyol sedang dikejar untuk dibantai. Sebab dalam masyarakat Minahasa, tamu itu berada dalam perlindungan dan tanggungjawab makawale atau pemilik rumah. Tidak ada seorang pun yang bisa menyentuh satu helai rambut mereka. Keluarga Ukung Lumi yang kemudian menyusupkan Pastor Yranso subuh hari sampai ke tempat persembunyiannya di daerah Lotta Pineleng,” tutur Rinto Taroreh.

Pastor Juan Yranso mengisahkan, sebenarnya di Tomohon ia telah berulang kali melerai konflik antar masyarakat dengan para serdadu Spanyol dan panipagos karena perkosaan dan pemerasan. Namun, peristiwa 1644 itu telah membawa kemarahan masyarakat Minahasa ke titik puncak. Ketika kasus penghinaan Ukung Lumi, ia masih sempat berhasil meredam amarah keluarga Ukung Tomohon itu. Tapi tanggal 10 Agustus 1944, sepuluh ribu ribu waraney dari 3 Distrik – A.B. Palar memperkirakan Toumuung, Kakaskasen dan Sarongsong – telah berkumpul, bangkit memaklumkan perang. Hari itu juga 19 serdadu Spanyol dan panipagos terbunuh dan 22 orang ditawan.

Disebutkan, awalnya para waraney hanya memerangi tentara dan panipagos tapi dalam waktu singkat berubah menjadi perlawanan terbuka terhadap semua orang Spanyol tanpa kecuali, termasuk para misonaris seperti Pastor Yranzo.


Perlawanan Total di Seluruh Tanah Minahasa

Perang terbuka sesungguhnya telah terjadi sejak awal kedatangan Spanyol di tanah Minahasa. Namun perlawanan semakin kencang terjadi di tahun 1642. Tahun 1644, tahap awal konfrontasi total di seluruh wilayah Minahasa meletup. Penghinaan terhadap para Ukung menjadi pemicu luapan dendam yang terpendam lama. Perang pun berkecamuk dimana-mana.

Di masa inilah terjadi pertemuan di Watu Pinawetengan. Pakasaan-Pakasan (wilayah yang terdiri dari sejumlah wanua/desa, yang masyarakatnya masih terikat pertalian darah) yang sebelumnya tercerai berai, bertempur mempertahankan wilayahnya sendiri-sendiri, kini menyatu. Mahassa (komitmen untuk menyatu) diikrarkan. Kata itulah yang kemudian berubah menjadi Minahasa. Kata yang menunjuk ke tanah dan tou yang mendiami wilayah Malesung.

Ketika itu, Kerajaan Bolaang Mongondow yang telah lama bermaksud menguasai wilayah dan penduduk Minahasa, ikut membantu Spanyol. Pasukan mereka menyatu dan menyerang di berbagai tempat. Upaya untuk membendung dan menghalau kekuatan gabungan pasukan Spanyol dan Bolaang Mongondow akhirnya tercipta di seluruh wilayah Minahasa.

Di tanah Tonsea, pertempuran dahsyat  terjadi di Kaburukan (pesisir pantai daerah Batu Nona Kema) dan Kinawuudan. Para teterusan (pemimpin perang), seperti Rumaya-Porong, Wenas Dumanaw dan Lengkong Wahani, secara perkasa menghancurkan tantara gabungan Spanyol-Bolaang Mongondow di daerah sepanjang pantai Kema hingga Waleo dan sekitarnya.

Di Panasen dan lereng Lembean Tondano, teterusan Tawaluyan, Wewengkang dan Retor, memimpin para waraney Pakasaan Tolour dan mengalahkan pasukan gabungan di wilayah itu.

Di selatan Minahasa, koalisi Spanyol-Bolaang Mongondow menyusup dan menyerang pakasaan-pakasaan di wilayah itu. Tapi di lini timur daerah selatan Minahasa tersebut, Pakasaan Pasanbangko berhasil mengalahkan pasukan gabungan. Mereka dipimpin teterusan Pandey, Lengsangalu, Tombokan, dibantu waraney-waraney dari Pinantula dan Tompakewa yang dipimpin teterusan Mewengkan dan Sumondak.

Di tempat lain, induk kekuatan Tompakewa Matana’ai telah berhasil memukul mundur musuh-musuhnya sampai ke pantai Amurang. Mereka dibantu para waraney Pakasaan Tombulu yang dipimpin teterusan Lumi-Worotikan, Wongkar-Sajouw, Kalele-Kinupit dan Sungepupus. Di daerah ini pertempuran berlangsung lama karena pasukan Spanyol dan Bolaang Mongondow selalu mendapat dukungan segar dari pusat kerajaan Bolaang Mongondow. Sebab jalur antara Amurang dengan Bolaang Mongondow masih aman. Sementara, logistik tantara Spanyol mendapat sokongan dari Benteng Uwuren Amurang.

Hari pertempuran terus berkepanjangan. Pasukan Spanyol-Bolaang Mongondow tersudut di Amurang. Titik soal, mereka harus berhadapan dengan masalah pasokan logistik dari pusat kerajaan Bolaang Mongondow. Butuh waktu cukup lama sampai tiba di front pertempuran. Sementara, pusat kerajaan butuh tenaga lebih untuk dijaga. Karena pasukan Mahassa terus melakukan serangan balik hingga penetrasi jauh ke wilayah Bolaang Mongondow.

Persoalan lain, sungai Ranoyapo kian sulit diseberangi karena perahu dan rakit-rakit yang mengangkut pasukan Mahassa sudah menumpuk di sana. Benteng Uwuren berhasil dikepung dan pasokan logistik benar-benar tersendat. Karena jalur logistik dari wilayah Bolaang Mongondow telah dipotong.

Pertempuran terjadi selama beberapa hari di seberang sungai Ranoyapo. Pasukan Tompakewa, Tombulu dan Toudano atau Toulour secara bergantian maju menyerang.

“Jadi saat pasukan dari Tondano maju, pasukan Tombulu kembali, pasukan Tompakewa atau Tontemboan berada di garis belakang menunggu giliran maju ke front. Begitu pasukan Tondano mundur, Tompakewa maju, pasukan Tombulu sudah berada di garis belakang front, menunggu giliran untuk maju ke medan pertempuran. Itu dilakukan trus menerus sampai pasukan Spanyol dan Bolaang Mongondow terpukul kalah,” terang Rinto Taroreh.

J.G.F. Riedel dalam buku Aasaren Tuah Puhuna ne Mahasa (1870) dan A.L. Waworuntu di De Oude Geschiedenis der Minahasa (1891) menilai, benih-benih awal untuk menyatu Pakasaan-Pakasaan di Minahasa sebenarnya telah tumbuh ketika waraney-waraney Tompakewa, Tombulu, Tonsea-Tondano membantu Walak Langowan melawan pasukan Bolaang Mongondow yang menyerang dari arah Pasan tahun 1606. Semangat Pakasaan-Pakasaan yang sebelumnya terpisah-pisah, akhirnya berkomitmen untuk mahassa. Keinginan untuk menyatu akhirnya benar-benar terwujud ketika kedatangan bangsa Spanyol kedua kali.

“Peristiwa ini menyadarkan tou Minahasa bahwa berpisah tidak baik. Sangat merugikan. Mereka harus menyatu agar kuat menghadapi segala bentuk ancaman yang datang ke tanah mereka,” tandas Rinto Taroreh.

Pastor Juan Yranzo memperkirakan, setelah ia berhasil meninggalkan Minahasa dan berlayar ke Filipina tahun 1645, perang antara pasukan mahassa melawan koalisi Spanyol-Bolaang Mongondow masih terus berkecamuk satu sampai dua tahun berikutnya.

Sementara, Mieke Shouten dalam Bibliographical Series, Minahasa dan Bolaang Mongondow 1800-1942 (1981) menulis, kekejaman para mesticos dan tantara Spanyol telah membangkitkan perlawanan hingga memaksa orang-orang Spanyol meninggalkan Minahasa tahun 1645. Bangsa adikuasa itu berhasil diusir oleh para waraney keluar dari tanah Minahasa.

H.B. Palar menulis, sesungguhnya semua derita akibat pelecehan martabat telah mulai dirasakan oleh generasi bani Lumimuut dan Toar sejak awal bangsa barat menginjakkan kakinya di tanah Minahasa. Semua derita itu telah menyusup ke dalam alam bawah sadar generasi ke generasi yang lama-kelamaan menjelma menjadi kekuatan terpendam yang kian dahsyat. Sepanjang waktu mereka menggerayangi seluruh wilayah Minahasa, mengumpulkan mata dagang yang sangat mereka dambakan. Masyarakat disiksa karena beras, komoditi eksport rebutan bangsa-bangsa asing. Beras yang menjadi lambang kemakmuran orang-orang Batasina telah berubah menjadi sumber malapetaka. (*)


Editor: Denni Pinontoan


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama untuk mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

283total visits,22visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *