Connect with us
no

ESTORIE

Perang Tondano dan Kisah Berdirinya Wanua Tandengan

09 November 2019


Oleh: Denni Pinontoan


 

Wanua Tandengan, salah satu desa di Kecamatan Eris, Kabupaten Minahasa berdiri di masa Perang Tondano 1808-1809

 

 “PADA tahun 1809, Sompotan, Oroh dan Tumonggor memimpin sekelompok orang dari Tondano dengan kendaraan perahu (rakit) datang berlabuh di Tongkeina untuk mendirikan ‘Wanua’ sebagai tempat pemukiman baru,” tulis P.H. Lantang, tetua Tandengan dalam bukunya berjudul Sejarah Desa Tandengan (1983).

Hendry Mukuan mengatakan, para pendiri wanua Tandengan itu berasal dari Tondano-Toliang. “Dari Minawanua mereka datang menggunakan rakit melalui danau Tondano. Mereka tiba di sebuah tempat. Sebuah tanjung danau Tondano,” kata Mukuan ketika menyampaikan kisah kedatangan tiga dotu itu pada Seminar “Penetapan Berdirinya Wanua Tandengan”, Sabtu, 2 November 2019 lalu.

Mukuan mengaku ia mendengar kisah itu dari tuturan Jonathan Tuturoong, juga tetua Tandengan yang meninggal beberapa tahun lalu. Mukuan adalah hukum tua wanua itu pada periode lalu.

Seminar itu dilaksanakan oleh Manguni Muda Minaesa, organisasi kepemudaan wanua Tandengan yang konsern dengan sejarah, budaya dan sosial kampung mereka.

“Manguni Muda Minaesa adalah organisasi orang-orang muda Tandengan. Kami generasi muda yang mencintai Tandengan dan ingin memberi lebih banyak peran bagi Tandengan,” kata Giovany Sampouw, ketua Manguni Muda Minaesa.

Buku tulisan Lantang itu adalah satu-satunya sumber tertulis yang berasal dari Tandengan sendiri.  Manguni Muda Minaesa menjadikannya sumber penting dalam studi mereka tentang sejarah berdirinya wanua Tandengan. Penulis buku sendiri sudah meninggal beberapa tahun lalu.

“Ini buku satu-satunya sumber tertulis bagi kami dalam mempersiapkan seminar ini. Buku ini penting. Beberapa situs yang disebutkan di buku itu sudah kami ziarahi. Misalnya kuburan dari para pendiri Tandengan,” kata Christofel Saumara, ketua panitia seminar.

Allan Sumeleh, panitia seminar dan pegiat Manguni Muda Minaesa mengatakan, hal yang mendorong mereka untuk melaksanakan seminar itu adalah untuk menyatukan pendapat orang-orang Tandengan mengenai hari kelahiran wanua mereka.

“Wanua atau desa-desa lain memiliki hari ulang tahun wanua mereka. Ada pesta rakyat yang menyatukan semua orang di wanua itu. Ada momen di mana semua orang mengingat tentang sejarah para leluhur mereka. Nah, selama ini kami tidak memiliki itu,” ujar Allan yang adalah juga ketua Barisan Pemuda Adat Nusantara Wilayah Sulawesi Utara.

Para pendiri wanua Tandengan, seperti yang disebut oleh Lantang, Mukuan dan dipercayai orang-orang di wanua itu adalah mereka yang mencari ruang hidup baru akibat Perang Tondano yang berlangsung dari tahun 1808 dan puncaknya pada 1809.

“Sebelum bernama Tandengan, nama tempat ini di masa para dotu adalah ‘Naikampet’” kata Mukuan dalam seminar itu.

Lantang mengatakan, nama ‘naikampet’ artinya adalah tempat untuk melanjutkan tradisi dan kehidupan dari tempat asal mereka.

“Pada saat itu dinamannya lokasi itu ‘Naikampet’ maksudnya bahwa tempat itu adalah sebagai kelanjutan dari tempat asal mereka yaitu Tondano,” tulis Lantang.

Buku karangan Bert Supit, Minahasa, dari amanat Watu Pinawetengan sampai Gelora Minawanua (Jakarta: Sinar Harapan, 1986), dan buku karangan Girot Wuntu, Perang Tondano, 1661-1809 (Yogyakarta: Galangpress, 2002) menyebutkan, perang orang-orang Minahasa melawan para penjajah Eropa yang hebat terjadi pada tahun 1808-1809. Perang ini disebut ‘Perang Tondano”. Puncaknya adalah Agustus 1809 dengan kekalahan orang-orang Minahasa.

Lambertus Mangindaan dalam tulisannya berjudul “Oud Tondano” (termuat pada Tijdschrift Voor Indische taal-, land- en volkenkunde tahun 1873) menyebutkan, kekalahan mereka bukan terutama karena senjata melainkan karena kekurangan bahan makanan.

“Ketika tidak ada lagi tembakan terdengar dan tidak ada lagi teriakan terdengar dari negeri yang dikepung, baru kemudian musuh bisa mendekati Tondano dan masuk tanpa hambatan, tetapi mereka tidak menemukan apa pun kecuali rumah kosong di sana. Tidak ada jarahan khusus di sana . Segala sesuatu yang tergesa -gesa telah dibawa. Benda-benda berat, seperti meja, dll. Semua hancur dan terbakar,” tulis Mangindaan.

Buku Asal Usul Minahasa (penyunting Benyamin Supit dan Matulandi Supit) yang di dalamnya antara lain mengisahkan sejarah Tondano Lama. Pada masa Gerungan Pertama menjadi kepala Walak Tondano, pecah perang dengan Bolaang-mongondow. Raja Loloda gugur di Maadon. Setelah Gerungan pertama, yang menggantinya adalah Tambahani, yang ditetapkan berdasarkan pilihan rakyat Tondano. Tambahani diganti oleh Karewur. Lalu kemudian berturut-turut Koro, setelahnya Tololiu. Setelah Tololiu, negeri Tondano pecah menjadi dua walak yaitu, Touliang dipimpin oleh Pangemanan dan Posuma; Toulimambot dipimpin oleh Manurisip, Moningka dan Pangalila. Kembali kedua walak di atas menyatu menjadi walak Tondano dengan kepala Walak Tewu-Toingki dan Sumual.

Buku ini menyebutkan, gabungan kaum Tondano mengalami 3 kali peperangan besar. Pertama, perang melawan Kastela. Dua dan tiga melawan Belanda. Pada perang Tondano yang kedua kalinya melawan Belanda, negeri Tondano dengan benteng Moraya di Minawanua dihancurkan dan dibakar. Pada masa itu Tondano- Touliang dipimpin oleh, dan Tondano-Toulimambot dipimpin oleh Legoh. Karena kekalahan itu baik orang-orang Tondano-Touliang, maupun Tondano-Toulimambot, banyak yang berpindah ke daerah sekitar.

Lantang menyebutkan, ketika mendirikan wanua Tandengan, ketiga dotu ini tiga kali melaksanakan ritual untuk menentukkan daerah pemukiman baru mereka.  Kesemuanya itu dilaksanakan pada “musim panas dan upacara dilaksanakan pada waktu malam hari bulan purnama.”

Ritual pertama dilaksanakan di sebuah tempat yang disebut ‘Pakem”, 1 km sebelah utara Tandengan kini. Ritual dipimpin oleh tonaas Tumonggor. Namun upacara pertama ini dianggap belum mendapat restu dari Sang Khalik.

Ritual kedua dilaksanakan di tempat bernama ‘Paimpang”, 450 m dari Tongkeina. Ritual dipimpin oleh tonaas Sompotan. Tapi, berdasarkan suara burung yang mereka dengar, mereka merasa belum juga mendapat restu.

Ritual ketiga dilaksanakan di sebuah tempat sekitar tanjung Tongkeina. Di situ katanya bertumbuh sebuah pohon beringin besar (bergaris tengah kurang lebih 7 meter). Ritual dipimpin oleh tonaas Oroh. Pada ritual kali ini mereka mendengar suara burung Manguni sebanyak sembilan kali.

Bagi mereka, mengikuti tradisi dan kepercayaan waktu itu, bunyi burung Manguni sebanyak 9 kali adalah tanda restu dari Sang Khalik atas apa yang mereka mohonkan. Maka, ditetapkanlah tempat itu sebagai “wanua”, tempat pemukiman baru sebagai kelanjutan dari tempat asal mereka atau Naikampet.

Namun, nanti kemudian mereka datang lagi dan menetap di tempat baru itu. Ketika datang lagi, mereka sudah membawa keluarga-keluarganya.

Pada seminar itu, berdasarkan informasi-informasi sejarah, baik tulisan maupun lisan, disepakati bahwa wanua Tendengan berdiri pada tahun 1809. Tapi, sumber-sumber ini tidak menyebut tanggal dan bulan.

Dari hasil riset Manguni Muda Minaesa dan informasi-informasi dari narasumber pada seminar, maka kemudian disepakati bahwa tanggal dan bulannya. Yaitu, tanggal 9 bulan 9 atau September. Tanggal dan bulan ini dirasa memiliki makna simbolik yang sangat bermakna Minahasa, dan juga karena informasi-informasi sejarah memberi dukungan yang sangat kuat.

“Jadi, berdasarkan riset kami dan masukan dari tetua dan narasumber dalam seminar, kami menetapkan bahwa tanggal 9 bulan September 1809 adalah hari berdirinya wanua Tandengan. Kesimpulan ini diterima oleh pemerintah desa dan kami membuat berita acaranya. Tahun depan kami akan merayakan HUT wanua Tandengan ke-211,” kata Allan.

 

***

Tidak banyak informasi keadaan wanua Tandengan di masa awal perkembangan sejak berdiri pada tahun 1809. Lantang menyebutkan, kepala ukung pertama dijabat oleh Dotu Oroh (1809-1811). Lalu Lumempuw (nama sebelum Kristen) atau Yusop Tampi (nama setelah menjadi Kristen) menjabat sebagai ukung pada tahun 1811 sampai 1849. Kemudian Derek Tampi, menjabat sebagai ukung dari tahun 1849. Dst.

Lantang menyebutkan, diperkirakan jumlah penduduk di masa ukung Lumempow (1812-1846) adalah sebanyak 40 kk.

Dalam sistem pemerintahan Hindia Belanda, Tandengan menjadi bagian dari Distrik Tondano-Toulian. Data dari Pieter Bleeker dalam bukunya Reis door de Minahassa en den Molukschen Archipel (Batavia: Lange &co, 1856) tahun 1852 menyebutkan bahwa pendudukan Tandengan adalah: Kristen sebanyak 174 dan pribumi sebanyak 78, total 252 orang.

Buku Woordenboek van Nederlandsch Indie, menyebutkan, tahun 1869 jumlah pendudukan sebanyak 250 orang. Pada sekitar tahun 1853, di Minahasa terkena wabah yang mematikan. Hampir setia wanua atau negeri banyak pendudukan yang mati.

Nicolaus Graafland, dalam bukunya Inilah Kitab Deri Hal Tanah Minahasa, (Roterdam: M. Wyat & Anakh) yang terbit pertama tahun 1863 menyebutkan, “Pada pinggir telaga disabelah barat, dekat negeri Passo, lagi dekat negeri Remboken kadapatan mata-ajer panas. Adapon ajer telaga itu dikaluwarkan di sungej-Tondano, jang berdjalan ka-Manado, dan tarima nama kuwala-Manado. Adapon telaga ini amat bagus rupanja oleh segala gunung dan bukit jang kuliling. Lagi adalah gampang pergi dengan pérahu kanegeri-negeri jang tampatnja dipinggir telaga itu, jaitu: Remboken, Passo, Kakas, Kawin, Watumea,Telap, Eris, Tandengan, Toulian-kétjil.”

Menurut Graafland, jumlah penduduk Tandengan tahun 1863 sebanyak 311 orang, tahun 1867 sebanyak 378 orang. Data tahun 1874 sebanyak 508 orang.

“Tanggal 9 bulan September tahun depan adalah pertama kali kami merayakan HUT Wanua Tandengan ke 211  tahun. Ini sesuatu yang sangat membanggakan kami,” kata Allan. (*)

 

Total Page Visits: 117 - Today Page Visits: 6
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *