Connect with us
no

ESTORIE

Risorgimento, Kontroversi Holocaust, dan Perang Para Tuhan

20 Februari 2019


Oleh: Daniel Kaligis


Nama-nama yang sudah berkalang debu, tak pernah kembali mengisahkan legenda kematiannya

FEBRUARI DELAPAN tahun silam, Emmy, kawan aktivis di Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika, mengirimi saya sebuah sajak: ‘Jenderal, ini negeri milik para belatung.’

Saya selalu menikmat bait demi bait sebuah tulisan, memberi catatan di bawahnya, mengedit huruf, membaca kata per kata, menera tanggal, memeriksa tanda baca, seraya membayangkan situasi ketika tiap kata ditera menjadi kalimat.

Sajak Emmy seperti teriak di telinga saya:

Muncrat darah bernyawa seribu itu berceceran, jenderal.
Katanya atas nama Allah Maha Besar
Tapi, kok pemarah, pembunuh

Bagi kami para belatung, ini era belatung
Dan daging-daging segar muda kusuma bangsamu itu
Menjadi santapan kami sehari hari

Masih panjang sajaknya, saya hanya mengutip dua bait bagi catatan ini, untuk merekam sejarah. Seperti biasa, di media sosial kami membahas tiap bait berminggu-minggu, lalu membenci perang.

Hitung mundur ketika kitab sejarah sementara diramu. Kota-kota mulai dibangun, menjulang di sisi belantara elok, meninggi seiring obsesi dan imajinasi tumbuh berkembang di peradaban. Benarkah doktrin, ideologi, mampu jeremuskan perilaku? Lalu berpikir, seandainya kita terperangkap pada takdir, perang datang lagi. Simak saja, debat dan saling maki lebih ngeri di media sosial saat ini.

Menera sajak perang. Tujuh tahun silam saya bercakap-cakap dengan Eet Lois, Mary Maureen, Aneis, Feryna Setyowati. Tajuknya sama, doktrin, ideologi, perang, dan seterusnya. Kala itu, saya sering menyebut tiga atau paling tidak dua kata terkait perang dan ideologi: ‘Mantova’ dan ‘Etruscans’. Berikutnya ‘Tyrol’.

Ketiga kata itu sering saya masukan dalam sajak pertempuran. Mengeja berbagai sebab, meramu berbagai peristiwa dan menyambungkan benang merahnya.

Sebelum masuk kisah perang pada lokasi ‘Mantova’, saya ingin meninjau sedikit perang ala kampung.

Obrolan di warung, minum captikus sambil baku tunjung jago. “Torang pe kampung ley pernah baku perang kata tempo, maar itu so lama skali kang? Blum lahir torang waktu itu,” ujar Demsi. Ia merekam cerita tetua kampung tentang Pergolakan Permesta, atau perang suku yang sudah sekian waktu jadi legenda.

Sore ketika saya dan Demsi bercerita, dua pemuda bertikai, dua-duanya terluka. Kejadian itu di wanua kami, Remboken. Di sana medio 1999 – 2002 sudah berapa kali pertarungan terjadi, saling balas. Hari itu ada iring-iringan pengantar jenazah menuju pekuburan, lewat Paslaten memasuki pasar kecamatan ada yang menghadang. Rupanya dia hanya menyasar seseorang dari rombongan itu. Jani yang dicari, Michael yang menghadang, mereka lalu beradu pisau. Jani luka sobek di pangkal lengan langsung pergi menghilang. Michael luka di bagian dada, malamnya dikabarkan meninggal.

Kalau anak muda berkelahi massal, penduduk menutup pintu rumah sebab penyerang selalu melempari rumah-rumah di kampung yang mereka datangi. Maju beramai-ramai, saling serang. Ada yang mengendap-endap dari sisi-sisi pagar, membangun pertahanan, bersembunyi di balik pepohon, saling memancing, merunduk-runduk menghindari lemparan, berteriak, bersorak. Bila ada yang terluka kena senjata tajam, langsung dibawa pergi, mencari perawatan.

Hampir saban tahun ada saja perkelahian. Luka-luka kecil dianggap biasa, yang fatal diantar ke rumah sakit. Entah kenapa soal kecil saja dapat jadi pemicu.

Awal hingga pertengahan tahun 2000-an saya sering melihat perang ala kampung itu. Ada dua kubu anak muda berseteru, semua sudah berani, apa lagi ditambah hasutan dan minum alkohol. Batu, parang, tombak, belati, siap di tangan. Berseteru tak kenal waktu, siang, malam, bahkan pagi buta. Baku hajar dapat saja terjadi tanpa diduga, tiba-tiba sudah ada yang berdarah.

Berdamai, kemudian berseteru lagi. Begitu terus seperti tidak pernah selesai. Perang atas nama lokasi, atas nama saudara dan kerabat, membela teman kawan, membela apa saja dengan tag solidaritas.

Medio 2015, perkelahian antar kampung kembali meletus di Remboken. “Satuan Polres Minahasa dipimpin AKBP Ronald Rumondor SIK, juga satuan TNI dipandu Dandim 1302 Minahasa Letkol CZI Mohammad Andy Kusumah  menyisir tiga desa yang bersitegang. Satuan Sabara Polda Sulut beranggotakan tiga puluh personil dimobilisasi ke lokasi,” demikian dilansir dari Sulut Pos. Hanya mendengar berita dari keluarga di kampung, yang meninggal kawan dekat, namanya Jimmy.

Pada Hikajatnya Tuwah Tanah Minahasa (1862), Dr. J.F.G Riedel menulis perang saudara Malesung – Bolaang Mongondouw, yakni Wantania dengan Raja Datu Poli’i. Pertikaian ini kemudian membikin Malesung berganti nama Minahasa. Bila ditelisik, perang itu disebabkan pencaplokan wilayah.

Tersiar nama Ramokion diangkat jadi raja Bolaang Mongondouw sekitar akhir 1500-an, kemudian ia mulai menduduki ‘Tanah Besar’ di wilayah Malesung, dan mengultimatum penduduk di sana membayar bea padanya. Perang meletus, nama-nama dikisahkan turun temurun.  Perang membela harga diri dan tanah kelahiran.

Walau kata ditenun indah pada buku-buku sejarah, di balik itu ada sajak-sajak bercampur darah. Kekasih bergelimang air mata, merela nyawa pergi. Perang telah mengancam, entah penghuni wanua, penghuni kota, penghuni rimba.

Bila datang di wanua, masih tersisa aroma perang seperti mengintip di beberapa bilik. Dendam anak manusia seperti tak mau pergi. Sistem bersengketa dengan prilaku, belum mau menjadi penyembuh luka-luka yang sekian lama dibiarkan bernanah disebabkan perang dan pertikaian yang entah dipelihara.

Kontoversi Holocaust

Luka: “Apa kau beri, kau dapatkan lagi. Kau tak beri sesuatu, kau juga tak beroleh sesuatu.” Membaca menikmat tiga tulisan di portal online, ABC, dan Mandelbaum House berikutnya Sydney Jewish Museum, di situ itu saya bersua nama Eddie Jaku. Kutipan dia itu yang saya tulis sesudah kata ‘luka’.

Eddie Jaku adalah penyintas. Dia selamat dari Holocaust, sebuah genosida massal ketika enam juta orang Yahudi siksa dan dibunuh dengan brutal oleh Jerman Nazi selama Perang Dunia Kedua. Walau, Jaku bilang, “Saya orang paling bahagia yang masih hidup melewati berbagai ketidakadilan, aniaya, terpisah dari orang-orang yang dikasihi, berjalan dalam cengkram badai menembus musim dingin keputusasaan.” Lalu, oleh perjalanan waktu, ia seperti menemu seberkas cahaya bermakna yang tak mau pergi dari hatinya, itulah memaafkan dan cinta.

Saya memetik ulasan Lucy Lu, penulis Mandelbaum, yang berkisah kehadiran Eddie Jaku pada “Mandelbaum House for Formal Dinner” yang digelar pada malam 11 April 2018. Lucy Lu mengurai bagaimana Eddie Jaku mengingat setiap babak hidup yang ia lalui.

Bagaimana Eddie berjuang, belajar dari sejarah, belajar dari perpisahan dengan orang-orang yang ia kasihi. Dari situ ia mengurai pentingnya persahabatan, belajar dari sejarah untuk tidak mengulang kesalahan di masa silam dan tidak terjadi lagi sekarang dan di waktu mendatang.

* * *

Saya menapaki resah. Ombak meninggi, menggapai langit kelam. Dendam dari mana? Terompet penjaga batas meneriaki serdadu terlatih berkelahi. Malam terjaga. Halekaustann, akar Holocaust. Bantai agar haus lapar para dewa terpuaskan. Killing squads menari di Extermination Camps.

Orang-orang bertanya. Orang-orang mengeluh. Derita. Euthanasia terkadang jadi jalan pintas memutus rantai hidup. Euthanasia mungkin saja disengaja. Lalu misteri makin dalam sembunyi kuasa siapa berkuasa.

Kenangan membuncah. Ini catatan sejarah yang bosan diulang-ulang. Blitzkrieg menghunus di depan sangkur pertempuran Jerman. Polandia diserang pada September 1939, berikutnya Denmark April 1940, Norwegia April 1940, Belgia Mei 1940, Belanda Mei 1940, Luksemburg Mei 1940, Prancis Mei 1940, Yugoslavia April 1941, Yunani April 1941.

Catatan lewat sesudah, masih terus diperdebatkan. Musim semi 1941, Nazi membantai Yahudi di Uni Soviet karena dianggap sebagai sumber hidup Bolshevisme. Beranjak ke musim gugur 1941, Nazi meluaskan pembantaian ke Polandia dan Serbia. Kamp pembantaian Yahudi dibangun di Auschwitz, Dachau, Bergen-Belsen.

Kamp dilengkapi kamar gas dan tungku besar. Gas Zyklon-B, pestisida berbahan dasar asam hidrosianik dialirkan, dan pemunahan manusia laksana tak mampu berteriak, hanya belulang mengabu bagi sejarah abu-abu. Memoar Holocaust kisahkan ngeri. Holocaust controversy belum terpecahkan.

Tahun 1964, Paul Rassinier, korban Holocaust yang masih hidup, menerbitkan The Drama of European Jews, yang mempertanyakan Holocaust. Tak ada kebijakan pemusnahan massal oleh Nazi terhadap Yahudi, tak ada kamar gas.

Lalu, Arthur R. Butz menerbitkan The Hoax of the 20th Century: The case against the presumed extermination of European Jewry (1976). Arthur Butz mengklaim bahwa Zyklon-B tidak digunakan untuk membunuh orang, tapi untuk proses penghilangan bakteri pakaian.

Mengenai kematian massal di Auschwitz, Robert Faurisson, profesor literatur di University of Lyons 2 mengklaim tipus-lah yang membunuh para tawanan di sana.

Fred Leuchter, ahli konstruksi dan instalasi alat eksekusi dari Amerika, pergi ke Auschwitz. Penyelidikan dan tes dilakukan, kesimpulannya adalah kamar gas di Auschwitz tidak mungkin digunakan untuk membunuh orang.

* * *

Revisionis. Penyangkalan Holocaust bangkit. Holocaust diragukan. Revisionis setuju bahwa Jerman di bawah Nazi memperlakukan Yahudi dengan bengis. Pencabutan hak-hak Yahudi, penawanan di Ghetto, kerja paksa, penyitaan harta benda dan deportasi.

Namun, kebijaksanaan pemusnahan Yahudi disangkal. Tak ada dokumen Jerman yang berisi masterplan pemusnahan Yahudi di Eropa. Tidak ada dokumen perintah, rencana, anggaran, rancangan senjata untuk pemunahan Yahudi. Hanya ucapan petinggi Nazi yang benci pada Yahudi.

Bagaimana tentang foto-foto di Dachau, Buchenwald, Bergen-Belsen? Revisionis yakin bukan penyiksaan dan kamar gas yang menyebabkan mereka seperti itu. Malnutrisi, epidemi tipus, disentri, dan diare yang membunuh mereka di kamp-kamp itu. Penyakit-penyakit di sana muncul akibat pemboman Sekutu yang memutus jalur distribusi pangan, obat, dan pelayanan sanitasi.

Winston Churchill menera 6 jilid karya monumentalnya, The Second World War, tanpa menyentil program Nazi membantai Yahudi. Eisenhower menceritakan memoarnya, Crusade in Europe, tak menyinggung apa-apa soal kamar gas. Walau, Holocaust hingga hari ini masih terus didebat.

Misteri Etruscans

Balik pada kisah yang saya sebut sesudah sajak Emmy ‘Jenderal, ini negeri milik para belatung,’ kemudian percakapan dengan Eet Lois, Mary Maureen, Aneis, Feryna Setyowati: ‘Mantova dan Etruscans’.

Saya tertarik pada kisah Mantova, kota dengan berbagai misteri, dan sejumlah nama yang menjadi asing oleh drama penguasa bumi. Di Italia, provinsi dan kota Mantova adalah wilayah administratif tingkah menengah antara munisipalitas dan regione di mana ibukota wilayah itu bernama sama dengan provinsinya, Mantova. O iya, dalam bahasa Italia munisipalitas disebut comune.

Mantova, wilayah Lombardy, berada di utara Italia. Kota ini dikitari tiga sisi oleh danau yang dibentuk oleh sungai Mincio, di barat daya Verona. Awalnya merupakan pemukiman Etruria, dan berikutnya dihuni orang-orang Cenomani Gallik.

Orang Etruria (Etruscans) menyimpan banyak misteri belum terpecahkan. Etruria memang asing. Bila kita menggunakan abjad Latin, sebenarnya kita semua berutang budi kepada bangsa Etruria. Dari mereka abjad Latin akan dimulai dengan a – b – g (alfa, beta, gamma).

Walau para filolog mengetahui bahwa abjad Etruria, bahasa Etruria masih sulit dipahami. Ini salah satu aspek misteri bangsa Etruria. Selama berabad-abad, para sejarawan telah berspekulasi tentang asal-asul kebudayaan yang paling menakjubkan ini.

Pada masa kejayaannya di abad kelima sebelum masehi, bangsa Etruria membentuk federasi dua belas kota dengan jaringan komersial luas, hingga mencapai Eropa dan Afrika Utara. Namun, empat abad kemudian, mereka sepenuhnya ditelan kuasa dunia Roma.

Encyclopedia Britannica mencatat, Virgil, penyair besar Latin, lahir di Andes di dekat Mantova pada tahun 70 sebelum masehi. Kolonisasi Romawi dimulai sekitar tahun 220 sebelum masehi. Pada abad sebelas, Mantova menjadi wilayah kekuasaan Boniface of Canossa, Marquess Tuscany.

Setelah kematian Matilda dari Tuscany pada 1115, Mantova berada di bayang kekuasaan komunal, dan selama periode itu kota itu bergabung dengan Lombard League – yakni aliansi kota-kota di utara Italia melawan kebijakan kaisar Romawi Suci Frederick I Barbarossa.

Keluarga Bonacolsi menguasai Mantova pada tahun 1276. Pada tahun 1328 keluarga Bonacolsi diusir Gonzaga, dan di masa Gonzaga kota ini menikmati periode panjang politik prestise dan kemegahan budaya yang bertahan hingga abad tujuh belas.

Kekuasaan Gonzaga di Mantova berakhir pada 1707, ketika kota itu menjadi wilayah kekuasaan kekaisaran Habsburg Austria, dibentengi ketat di sudut barat daya sebagai imperial ‘Quadrilateral’.

Napoleon mengambil alih kota itu setelah pengepungan panjang pada 1797, kemudian  Mantova didominasi Perancis hingga dikembalikan ke Austria pada tahun 1814. Mantova berkontribusi pada penyebab Risorgimento, yaitu gerakan kemerdekaan nasional, lalu bergabung kembali dengan penguasa Italia, medio 1866.

Mari kita merekam kenang, mundur dua ratus sembilan tahun dari 2019, hari ini – pada 20 Februari 1810 mengingatkan seorang patriot Andreas Hofer dieksekusi. Ia adalah pemimpin militer Tyrol yang menentang pasukan Napoleon.

Hofer berperang melawan kekuasaan Napoleon di Prancis dan Bavaria, gugur di Mantova karena membela tanah air yang ia cinta, Austria.

Dalam tulisan Lee S. Harford:  Napoleon and the subjugation of the Tyrol – Consortium on Revolutionary Europe 1750-1850 – Proceedings 1989, 1990, halaman.704, menyebutkan yang mana Napoleon dan Prancis telah mendominasi benua Eropa1809.

Eugène de Beauharnais dilantik menjadi raja muda di Italia, Murat memerintah Two Sicilies dan saudara-saudari Napoleon dimahkotai sebagai penguasa di seantero Eropa Barat. Prusia dikalahkan pada 1806 dan 1807 dan Rusia bersekutu dengan Prancis menyusul perjanjian Tilsit pada Juli 1807. Spanyol juga telah diserang pada 1808. Austria diisolasi, hanya didukung Inggris.

Kamp pro-perang di medan Austria, dipimpin Johann Philipp Stadion, menteri luar negeri Austria, bercita-cita jadi penguasa Austria, mendorong Prancis maju bertempur.

Andreas Hofer punya pengalaman politik, setelah bertugas di Tyrolean Landtag pada 1791, jadi kapten serdadu Tyrol pada 1796. Pemberontakan di Tyrol diperdebatkan sebagai kemungkinan pengalihan operasi militer utama di Jerman.

Daerah itu juga penting dalam melindungi sayap Austria selama perang dengan Prancis, terutama dari pasukan yang datang dari Italia. Sementara pasukan berangkat menuju Bavaria dan Warsawa, tujuh ribu pasukan memasuki Tyrol ketika utusan memberi isyarat pecahnya pemberontakan. Pada 9 April 1809, Archduke Charles melintasi perbatasan Austria ke Bavaria dan perang telah dimulai.

Perang Atas Nama Tahta Suci

Pemberontakan, peran Andreas Hofer terperangkap dalam debat sejarah. Mereka yang sudah berkalang debu tak pernah kembali mengisahkan legenda kematiannya.

Nama Hofer itu punya pandangan ideologis dan pengabdiannya yang kuat pada penguasa Austria membuat dia menjadi tokoh sempurna dalam pemberontakan melawan pasukan Bavaria.

Kursi kekuasaan dianggap sebagai panggung suci. Apa saja dapat dilakukan atas nama mandat suci kekuasaan. Wilayah Tyrol telah menjadi bagian dari Kekaisaran Romawi Suci, di bawah pemerintahan keluarga kerajaan Hapsburg, sejak abad empat belas. Yang tidak terpisahkan dari identitas Tyrolean adalah unsur agama paling tidak secara nominal, tahta Romawi Suci dianggap sebagai pelindung duniawi.

Setiap membaca kisah perang pertaliannya semakin jelas. Coba mengulang Campania, dalam ilmu militer istilah ini menggambarkan sebuah gerakan mengejar sasaran strategis, dikerjakan dengan durasi yang lama dan dalam skala besar. Sebenarnya, istilah Campania dipetik dari nama tempat yang mengacu pada operasi perang tahunan oleh tentara Republik Romawi.

Apa pertalian perang perebutan sumberdaya dengan kejadian hari ini? Campania, kisah sebuah regione atau wilayah di Italia Selatan, berbatasan dengan Lazio di barat laut, Molise di utara, Puglia di timur laut, Basilicata di timur, dan Laut Tyrrhenia di barat.

Kisah indah berlumur darah. Disebut Napoleon punya pengaruh yang besar terhadap persoalan-persoalan Eropa selama lebih dari satu dasawarsa ketika memimpin Prancis melawan koalisi dalam Perang-Perang Napoleonis.

Napoleon memenangkan kebanyakan dari tiap pertarungan tempurannya, dengan cepat mengendali Eropa kontinental sebelum kekalahan terakhirnya pada tahun 1815.

Karena merupakan salah seorang panglima terhebat dalam sejarah, kampanye-kampanyenya dipelajari di sekolah-sekolah militer di seluruh dunia dan ia tetap salah satu tokoh politik yang paling terkenal dan memicu perdebatan dalam sejarah Barat.

***

Saya melihat rumpun bambu tumbuh, ranting-ranting halusnya menua, hijau kuning pucat. Rimba di mana? Awan-awan berlari di atasnya, menyusuri front meliuk-liuk dan selalu berubah bentuk. Celcius terbaring di bayang Null Point. Suatu tempat di awal musim semi selalu semakin indah di 7° – 17°. Lalu, saat berganti. Dedaun memerah, menguning. Badai menderu.

Damai berseru-seru agar masyarakat di dalamnya boleh tentram dan makmur. Namun, konflik tak pernah berkesudahan. Asumsi benar-salah tanpa solusi, kalah-menang semua jadi arang. Berang. Perang di mana-mana.

Menggaruk itu asik. Awalnya sebuah rangsangan kesenangan dihentar dari area tubuh yang dilalui kuku-kuku ke otak, membikin ingin dan ingin terus, namun, dalam berapa saat, bila terus diulang, kesenangan itu berganti luka, berdarah.

Perang mendenting hati. Menebar takut, cemas, petaka haus lapar tak terdefinisikan. Perang di mana-mana purba. Menerjang, menendang, merangsang dendam tak pernah puas.

Dari adu mulut hingga pertikaian dingin merusak wajah bumi. Hujan mesiu, atom, berikutnya nuklir, radiasi, pemantauan jarak jauh serta curiga. Di balik itu, ada juga hasrat penaklukan. Kepentingan politis, penguasaan sumberdaya dan cara pandang.

Untuk kemerdekaan asasi, banyaklah dokumen ditelurkan: Rights of Man France (1789), Bill of Rights of USA (1791), International Bill of Rights (1966), dan masih sederet rights yang sampai hari ini ditendang ke ulu hati manusia. Menjadi percuma menginterview kutipan korban yang didiamkan. Hidup ternyata tak bebas. Luka dalam. Nanah meradang. Gersang.

Berapa banyak pasal bagi kebebasan yang layak bagi manusia, tolonglah dicatat dan dimaknai. (*)


Editor: Denni Pinontoan


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama untuk mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

 

525total visits,3visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *