Connect with us

FEATURE

Selamat Jalan Maestro Bridge Indonesia Henky Lasut

Henky Lasut bersama penulis, Bert Toar Polii (Foto: Bert Toar Polii)

13 Juni 2020

 


Oleh Bert Toar Polii (pemain dan pemerhati Bridge, peraih medali perunggu Asian Games Olah Raga Bridge)


 

KABAR duka menimpa komunitas bridge Indonesia ketika kemarin dikabarkan, Atlet bridge nasional, Henky Lasut, menghembuskan napas terakhir di RSUP Kandouw, Manado, Sulawesi Utara, pada Jumat (12/6/2020).

Henky Lasut,  atlet kelahiran Sulawesia Utara  6 Agustus 1947 memang sulit dipisahkan dari olahraga bridge Indonesia yang sudah ditekuninya puluhan tahun.

Ia yang dijuluki maestro bridge Indonesia awalnya mulai karier bridge di dunia internasional tahun 1972 di Far East Bridge Federation Championship di Singapura. Berpasangan dengan Max Aguw mereka langsung juara. Semenjak itu namanya tidak terpisahkan dari tim nasional bridge Indonesia.

Selanjutnya tahun 1973 mengikuti 19th World Open Team Championship di Guaruja Brazil dan meraih peringkat 5.

Di awal tahun 1980an, Henky Lasut bertukar pasangan bermain dengan iparnya Freddy Eddy Manoppo dan terus berpasangan. Freddy Eddy Manoppo adalah kakak dari iterinya Corry Manoppo.

Kedua pemain ini telah mengukir berbagai prestasi yang rasanya sulit untuk dilewati. Bisa dibayangkan berpasangan selama kurang lebih 40 tahunan dan hampir tidak pernah berhenti mewakili Indonesia di berbagai kejuaraan internasional.

Prestasi puncak mereka raih tahun 2014 di Sanya, China ketika mengikuti The 14th Redbull World Bridge Series. Selain meraih peringkat 5 di nomor seniorteam, mereka juga meraih juara dunia pasangan senior.

 

Dengan hasil ini, kedua pemain ini berhak atas gelar tertinggi di dunia bridge, Grand Master Senior. Gelar ini merupakan satu-satunya di kawasan Asia Pasifik dan saat ini tercatat di peringkat 26 peraih master point tertinggi di dunia.

Selain itu di kelompok umum, mereka juga meraih gelar World Life Master gelar tertinggi kedua setelah World Grand Master.

Selain itu ia juga menjadi peraih medali emas di PON walaupun kalah sedikit dari pasangannya Freddy Eddy Manoppo. Henky Lasut telah mewakili Sulut 12 kali PON dan hamper selalu meraih medali emas sedangkan Freddy Eddy Manoppo sebanyak 13 kali.

Selain menekuni bridge sebagai atlet, ia juga ikut sebagai pengurus baik di Pengprov Gabsi Sulut maupun di Pengurus Besar Gabsi. Disamping itu ia juga terakhir tercatat sebagai Pengurus KONI Sulut.

Henky Lasut juga sempat menjadi Anggota DPRD Kota Manado periode 2009-2014 dari Partai Hanura. Lasut juga menjabat sebagai Ketua DPC Partai Hanura Kota Manado sebelum kemudian mundur dan fokus kembali membina para bibit muda olahraga Bridge.

Sebagai seorang sahabat yang cukup dekat terutama sejak kami satu tim di tim nasional senior mulai tahun 2013, saya cukup terkejut ketika menerima kabar Henky telah meninggal.

Walaupun sudah tidak heran lagi karena saya mengikuti terus perkembangan Henky sejak sekitar  sebulan di rawat di RSUP Kandouw, Manado.

Kaget karena sehari sebelumnya, melalui putrinya Elvita Lasut yang juga atlet bridge, memberi informasi, “papa sudah membaik dan akan dipindah dari ICU ke kamar biasa.”

Namun rupanya itu adalah hiburan terakhir buat keluarga karena dengan demikian Henky masih bisa mendengar tentang wisuda cucunya Hiero Lasut yang juga pemain bridge di Universitas Sam Ratulangi Manado. Henky punya dua cucu, satu lagi Kimberly yang sekarang duduk di SMP dan belum terjun ke bridge.

Henky memang boleh dikatakan seorang maniak bridge yang hampir mencurahkan seluruh hidupnya untuk bridge.

Ia punya dua anak dan keduanya pemain bridge. Sayang Fabian putra tertuanya yang diberi  nama pemain legendars bridge asal Italia, Belladona yang juga atlet bridge telah lebih dulu meninggal dunia.

Putri keduanya Elvita juga menekuni bridge dan terakhir meraih medali perunggu di nomor mixed team pada Asian Games 2018 di Jakarta.

Tahun 2013 Ia berpasangan dengan Henky yang akrab di panggil “pi” mengikuti Yeh Bros Mixed Team Championship di Kaoshiung bersama saya dan isteri.

Salah satu kelebihan Henky sehingga ia sulit dilupakan oleh para pebridge dunia ialah senyumannya. Berbadan atletis dan senang tampil trendy terus selalu tampil dengan senyuman membuat dia banyak disenangi.

Seorang pemain putri Jepang, Akiko Yanagisawa menulis di laman FBnya dimana saya ikut di tag: “Mr Henky Lasut, the great bridge player and very charming gentleman, has passed away. He’s always given me a smile in the international competitions where he played as a member of the very competitive Indonesian senior team. I met him last in Wuhan in Sep 2019 and he gave me a big hug for celebrating our good performance. I shall miss him a lot! Thank you Henky for everything and RIP.”

Selain keramahannya ada hal yang sulit saya lupakan ketika kami ikut APBF Championship di Seoul 2017 dimana saya ditempatkan sekamar dengannya. Kami sekamar memang permintaan almarhum sejak menjadi satu tim di timnas senior tahun 2013. Ia ternyata agak cengeng dan manja. Pada waktu itu memang ia mulai kurang fit kondisinya sehingga ia tidak mau keluar hotel walaupun untuk makan saja. Otomatis saya harus menyiapkan, beruntung Vita panggilan akrab putrinya juga ikut sehingga kami bergantian. Namun dalam hal bertanding ia tidak mau istirahat kecuali terpaksa. Ini memang keuletan yang perlu di contoh oleh para pemain muda kita. Baik Henky maupun Eddy sama saja, kalu perlu mati di lapangan komentar keduanya dalam logat Manado yang khas.

Kembali soal manja dan cengengnya, ketika ia mengukur tekanan darahnya (ia selalu membawa alat terecut) dan ternyata tinggi maka saya dilarang tidur sebelum dia tidur. Jadilah saya harus menungu walaupun sudah mengantuk sampai dia tidur baru saya tidur.

Ada salah satu cita-citanya dan semoga bisa diwujudkan oleh Ketua Pengprov Gabsi Sulut, Joune Ganda. Dalam salah satu kesempetan ia menceriterakan tentang koleksinya yang sudah lebih dari sekamar. Usut punya usut ternyata sejak ia ikut Kejuaraan Bridge, ia telah mengkoleksi pernak-pernik dari seluruh Kejuaraan yang diikuti. Selain tas bridge, ada kartu, bulletin, pin, buku dan lain-lain.

Dalam kesempatan itu ia ingin agar semua koleksi itu dipindahkan ke Bridge Centre Henky/Eddy di Stadion Klabat Manado yang dibangun saat Wiranto jadi Ketum PB Gabsi dan Mangindaan jadi Gubernur Sulut. (*)

Continue Reading
1 Comment

1 Comment

  1. usman hasan

    June 13, 2020 at 9:21 pm

    turut berduka cita atas berpulangnya pak hengky lasut. oh ia. bertje, masih ingat saya ? dulu sering main bridge di tondano. masih muda (kala itu). berje kan di rinegetan (kalau ndak salah). saya di tounkuramber. nama panggilan saya “us”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement no