Connect with us
no

BERITA

Teintu Mo Kelalei Ta In Tou

Nyalakan Lilin di Kue Ulang Tahun K3M. (Foto: DAX)

29 November 2019


Oleh: Daniel Kaligis


Kuramo kelalei un langit
Tentumo kelalei un tana’
Kuramo kelalei un tana’
Teintu mo kelalei ta in tou
— Refrain, ‘Opo Wana Natase’ —

TILIK REFRAINOpo Wana Natase’ dalam tafsir. Ini bukan kisah film drama Indonesia, Refrain yang dirilis medio 2013, disutradarai Fajar Nugros, dibintangi Afgansyah Reza, Maudy Ayunda, dan skenarionya ditulis Haqi Achmad, diadaptasi dari novel karya Winna Efendi. Itu cerita lain.

Cerita Perantau Kawanua Makassar

Dalam Refrain, ‘Opo Wana Natase’, saya berkisah para perantau Kawanua dalam pandangan saya sebagai tou Remboken. Cerita sejarah, mendaur rindu berulang, seperi persahabatan berujung cinta. Namanya juga visi, walau kadang visi boleh jadi bercerai waktu, kenyataan boleh saja berbeda dengan harapan yang ditenun dari masa silam.

Tafsir maha luas, maka, izinkan saya menafsir bait yang selalu dinyanyi berulang-ulang dalam ‘Opo Wana Natase’, karena tembang ini sering dinyanyikan bersama para Kawanua ketika menyelenggarakan acara-acaranya. Pada syair ‘Opo Wana Natase’ tertulis seperti ini: Kuramo kalalei un langit, teintumo kalalei un tana’. Kuramo kalalei un tana’, teintu mo kalalei ta in tou — Laksana megahnya langit, seperti itu sejahteranya bumi. Sebagaimana tanah penuh berkat, terjadilah demikian pada kita umat manusia.

Di pembuka tulisan ini, kata ‘kalalei’ saya tulis ‘kelalei’, sebab dalam menyanyikan syair itu saya niscaya melafalkan itu sebagai ‘kelalei’, dan merasa nyaman dengan lafal ‘kelalei’. Jadi ‘a’ saya ganti dengan ‘e’. Silakan cari gejalah bahasa apa yang terjadi pada kata ‘kalalei’ menjadi ‘kelalei’ itu.

Itu tafsir saya. Anda tentu punya tafsir sendiri.

Di Makassar, saya sering berbincang dengan Riando Warankiran. Dalam berbincang kami menggunakan dialek ‘sembor-sembor’. Entah ini sosiolek atau laras, percampuran dialek Tondano – Kakas – Remboken. Kami gunakan dialek ‘sembor-sembor’ itu untuk suatu konteks sosial tertentu, sebagai kesenangan, dan bertujuan supaya terdengar berbeda dalam percakapan di tempat-tempat umum, untuk merahasiakan sesuatu pembicaraan. Riando perantau dari wanua Kayuwatu, Kakas. Saya dari Remboken.

Berlayar ke tanah jauh, tiba di rantau, bertemu kawan dari kampung, mengenal saudara, makawanua, tutur yang berasal dari kata wanua atau kampung yang sama. Melantun lagi dialek yang dikenal dari semasa kanak-kanak.

Berkumpul, membincang visi. Tahun 1940, sebagaimana tercatat, perantau Kawanua di Makassar sudah mendirikan organisasi. Jadi, sebenarnya organisasi kerukunan Kawanua sudah eksis sebelum proklamasi kemerdekaan Indonesia.

Duhai, rindu dari tanah seberang. Ada waktu datangi tanah leluhur, menikmat sejuk kampung halaman. Pergi ke Woloan, di sana angin tak pernah henti merubah kabut melayang sejauh mata memandang. Paddy field di kaki Lokon, petak-petaknya memantul rimba pepohon, langit, dan awan. Angan singgahi Marinsow, gelombang ganas membanting-banting di sana, menghanyutkan harap jauh di luas samudera. Nama-nama yang selalu ada dalam benak, atau dalam lupa.

K3M 17 Tahun Di Makassar

Bertemu membincang visi, perantau Kawanua di Makassar dalam rentang panjang perjalanan. Sebelum kemerdekaan Indonesia, perantau Kawanua sudah tiba di Makassar, mereka menjalani berbagai profesi, jadi tentara, jadi guru, jadi pegawai pemerintah, dan lain-lain. Secara khusus, akhir dan awal tahun mereka berkumpul di tempat yang disepakati, menggelar berbagai acara, membawa serta adat budaya dan seni dari kampungnya. Medio November 2002, terbentuk Kerukunan Keluarga Kawanua Makassar (K3M).

Malam, 25 November 2019, di Runtono, kemeriahan para perantau Kawanua selenggarakan Ulang Tahunnya ketujuhbelas. Tarian penyambutan tampil di panggung bersama panitia, musik kolintang iringi tembang Conny Maria Mamahit, ‘mars Minahasa’ dan ‘O, Minahasa tempat lahirku’ mengalun memenuhi ruangan, lalu kantoria bacakan sabda, kemudian ucapan selamat datang oleh Harry Mandey.

Malam yang semarak, lagu-lagu kenangan, sambutan, dinner, orang-orang saling berjabat tangan, melepas rindu. Apalah Tafsir, ideologi, Kawanua sudah membaur dan menjadi bagian dari Makassar, bertahun-tahun membaur dan berkegiatan di kota itu. Lalu tanya tentang orijinalitas. Realita menjawab, tiada orijinal di bumi mungkin benar. Percampuran bangsa sudah terjadi jauh sebelum orang-orang dari berbagai kampung di Minahasa dan Sulawesi Utara keluar wanua, pergi merantau dan dicatat oleh tetua dalam memori mereka.

Di Makassar, K3M mewadahi tiga puluh enam perhimpunan kekeluargaan Kawanua, dalamnya termasuk partisipatori anggota yang lebih dari sepuluh ribu anggota.

K3M senantiasa beracara, tujuannya adalah wadah ‘bakudapa’ untuk eratkan persaudaraan. Metsie Tatto Kandou, Sekretaris Umum K3M menyebut yang mana acara seperti ini lebih mengeratkan hubungan sesama perantau Kawanua. “Di sini torang semakin solid dan sama-sama kita besarkan organisasi untuk kemuliaan nama Tuhan.”

Malam berangsur larut, musik dan tarian masih ramai. Saya berbincang dengan kawan-kawan, lalu menyalami Harly Weku, Ketua K3M, berbincang sebentar, lalu menyalami undangan lainnya.

Lewat sehari perayaan Ulang Tahun K3M, saya berdiskusi dengan Harly Weku. Weku, pada 27 November bertandang ke Warong Makan Wenang, Jl. Gunung Lokon. Dia bilang, ”Ke depan, torang akan selenggarakan acara lebih baik. Napa Bapontar Jakarta so bilang mau bekerjasama dengan K3M voor ramaikan acara-acara yang torang selenggarakan,” ujar Weku dengan senyum berbinar. Dia, dengan kritis menyoroti realita perantau Kawanua di berbagai pelosok. Kami berbicara banyak hal.

Jadi Bagian dari Realita Makassar

Saya, dalam berbagai obrolan, bertanya pada perantau Kawanua. Mereka bilang, adat dan kebiasaan dari kampung masih terpelihara.

Tonny G.C Kairupan, perantau Kawanua asal Remboken, terkait adat menyebut, “Torang masih bawa tu tua-tua ada kase blajar, apa lagi sesuatu yang baik. Lia jo kalu torang bakumpul kong bawakan tarian Lalayaan, Makamberu, Maowey Kamberu, deng Marambak. Lalayaan itu simbol kegembiraan, berkisah pergaulan muda mudi yang beretika. Makamberu menggambarkan aktivitas memanen suatu usaha, semisal pertanian. Maowey Kamberu melambangkan ucap syukur atas panen dan syukur dapa berkat. Kemudian Marambak itu nae rumah baru, batada-tada kaki, tanda senang tu hati,” tutur Tonny ketika kami bercengkrama pada pertemuan tou Remboken, awal 2019 di Baruga Anging Mammiri, Jl. H.I.A. Saleh Dg. Tompo No.33, Losari, Kota Makassar.

Dialektika, realita perantau. Saya mengumbar kisah-kisah lama. Orang-orang dari berbagai latar, suku, kebiasaan, adat, budaya, ada di sana. Kisah perantau semakin biasa. Di sini Makassar, mereka punya tata nilai dan kebiasaan di mana pendatang harus menghargai nilai-nilai itu. Walau, penghormatan kepada pendatang, bersifat universal.

Orang-orang yang sudah lebih dulu ada di Makassar bergaul dengan siapa saja. Seperti itu, perantau Kawanua menjadi bagian dari Makassar, seperti tutur orang Makassar. “Di batas jalan Sungai Posso banyak orang Manado, mereka sudah puluhan tahun tinggal di situ, bahkan dari kakek-nenek mereka sudah turunan entah ke berapa di situ, yang lainnya sudah pindah. Kami tidak membedakan etnis. Suka-ki juga merantau ji saya, banyak teman-temanku banyak orang Manado,” kata Abdi, Ketua RT di Lajangiru.

Abdi beristri orang Kawanua, dan saya akrab dengan keluarga mereka, “Kita pe mama fam Raranta, torang dari Kawangkoan,” beber Olla Rasu, istri Abdi.

Olla Rasu, tou Kawanua yang sudah jadi warga Makassar. Dia dan keluarganya sudah bertahun-tahun tinggal di Jl. Gunung Lokon – Lajangiru. Namun, Olla masih sering ‘pulkam’. Anak lelakinya pergi merantau justru di tanah Minahasa. “Torang pe anak, Resky Kaisar Nur Abdi, malah merantau di Minahasa. Dia toh orang Makassar, karena lahir di Makassar, maar sekarang merantau di Minahasa, kerja di Bitung,” ujar Olla.

Berbaur dalam beda. Berapa panjang waktu yang terlewat. Hitung mundur ke tahun 1940, ketika baru terorganisir orang-orang kampung dari Minahasa ‘bakudapa’ di selatan Sulawesi. “Orang Minahasa so lama ada di Selatan, lia tu nama jo, Sungguminasa. Torang pe nenek moyang so lama batamang deng orang-orang di Sulawesi Selatan,” urai Fredrik menyoal cerita tutur tetua Minahasa di Makassar. Katanya pembauran itu sudah terjadi sekian lama sebelum zaman Arung Palakka.

Di Makassar ada Pantai Losari, tempat orang-orang berfoto, memandangi laut dan Phinisi berlabuh, atau senja elok musim kemarau. Perantau dari berbagai tempat yang singgah di Port Soekarno Hatta, Makassar, bila cukup waktu boleh mendatangi poin Pantai Losari.

Pekerja-pekerja Kawanua di ‘kapal putih’ punya banyak cerita tentang poin Pantai Losari.

Entah kita sempat menghitung berapa banyak tou Kawanua yang bekerja sepanjang jalur pelabuhan, Jl. Nusantara, Jl. Latimojong, Jl. Penghibur, Pasar Ikan, di café-café yang selalu ramai, di hotel-hotel, di kantor-kantor yang tersebar seputar Makassar.

Pembauran tou Kawanua sudah terjadi ratusan tahun di Makassar, sebagaimana cerita tutur tou Kawanua sendiri, sejak zaman Arung Palakka, atau mungkin jauh sebelum Arung Palakka, siapa tahu? Dialek bercampur. Latar agama tak jadi soal.

Saya membayangkan bila pembauran tou Kawanua sudah terjadi di wilayah selatan Sulawesi sejak zaman Arung Pallaka. Catatan sejarah menulis bahwa Arung Palakka lahir pada 15 September 1634. Ia adalah putra Raja Bone ketiga belas, La Maddaremmeng Matinro’e Ri Bukaka. Jadi, ada jarak tiga ratus delapan puluh lima tahun, sampai hari ini.

***

Di lain waktu, tanah leluhur adalah cerita rindu dan cinta. Membelah setapak diseling ilalang berpadu ageratum-conyzoides berbunga putih kecil. Bila pagi, bulir-bulir embun berkilau bagai permata di ujung-ujung dedaun. Singgahi We’lu ketika pagi baru mereka. Rerumput liar, pepohon, rumah-rumah kayu, orang datang berganti-ganti, mengambil gambar, menikmat kuliner khas Minahasa, berbincang, bersuka, berdebar menatap terjal, berfoto pada point-point menantang.

Rindu wanua sudah pasti.

Datangi suatu tempat, bersua orang-orang dari akar sama, dari tanah leluhur memang merupakan cerita yang tak pernah putus. “Ngana Manado? kita kira ko’ ko’,” ujar Cici, ketika kami berjalan sore di seputar Lapangan Karebosi, berapa bulan silam.

Sekian tahun berkawan, Cici saat ini berpersoalan dengan ‘hukum’ di negeri ini. Saya bilang pada beberapa kawan, bahwa, apa pun konsekuensinya tahanan kepolisian itu tidak boleh dipukul untuk dipaksa mengaku atas sesuatu perkara tuduhan melawan alibi yang bersangkutan. Persoalan hukum Cici saya sampaikan pada Herman, teman pengacara saya.

Obrolan saya dengan perantau Kawanua, saya sampaikan juga pada Harly Weku, dalam kaitan dia sebagai ketua kerukunan. “Makanya visi tou Kawanua torang pertajam dengan program, supaya orang-orang Kawanua boleh terus bakudapa, kong boleh mo lestarikan tu nilai-nilai luhur.”

Kawanua bagi saya adalah tentang pengetahuan, adalah visi, adalah peradaban yang harus dicerahkan dari begitu banyak mitos yang masih melingkupinya.

Jadi bagaimana, kumura? Kuramo kalalei un tana’, teintu mo kelalei ta in tou. Tanah leluhur dalam visi, tanah penuh berkat bila orang-orangnya juga diberkati, yakni, ketika kita terus belajar, matulu-tulungan masaya-sayangan, bekerja, menemu, berkarya. (*)

 

 

 

Total Page Visits: 304 - Today Page Visits: 4
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *