Connect with us
no

ESTORIE

Willy Lasut, Petinju Pasar Malam yang ke Olimpiade

Willy Lasut memukul K.O. Jan de Groot pada Januari 1955. (Foto: Java Bode/Ipphos)

21 Maret 2019


Oleh: Denni Pinontoan


Dari berlaga di pasar-pasar malam, petinju Willy Lasut berhasil ke Olimpiade, ia kemudian menjadi tokoh penting pengembangan tinju profesional Indonesia

 

TOKOH KITA yang satu ini dikenal dengan nama Willy Lasut. Tapi ia bukan Willy Lasut mantan gubernur Sulawesi Utara. Willy Lasut ini adalah seorang mantan petinju Indonesia yang melegenda. Sosoknya begitu melekat dengan sejarah olah raga tinju di Indonesia.

Nama lengkapnya adalah Willem Alexander Bernardus Lasut. Lahir di Makassar pada sekitar tahun 1932. Di tahun 1950-an, Willy adalah rajanya tinju di Indonesia.

Willy memulai karir di dunia tinju pada usia 20-an tahun awal. Juni 1954, di Medan, atas undangan United Asian Boxing Club, Willy bertanding melawan Silver Kid, petinju dari Yorkshire. Pada ronde ke-9, Willy berhasil memukul KO lawannya itu. Sejak saat itu, nama Willy mulai terkenal.

Usia Willy saat itu berkisar 23 tahun. Di usia muda ini Willy sudah bertanding sampai ke luar negeri. Pada  21 Agustus 1954 Willy memenuhi undangan Asosiasi Tinju Pilipina. Dari Pilipina ia ke Singapura. Pada 30 Agustus, Willy  bertanding di Singapura melawan juara Asia, Nai Songkiat dari Thailand. Tur tanding Willy tersebut dipromotori oleh Tjan Gwan Tjwan.

Media di masa itu memberitakan, tur Willy ke luar negeri untuk mendapatkan pengalaman yang lebih luas. Asosiasi Tinju di Jakartalah yang telah mendelegasikan Willy ke  luar negeri. Tapi Willy mengatakan, pemberitaan media tentang dirinya terlalu dibesar-besarkan.

Di tengah sedang naik daun, justru ibunya meminta dia untuk berhenti dari olah raga ‘keras’ itu. Tetapi Willy tetap dengan pilihannya.

“Saya tetap berniat untuk melanjutkan pelatihan kembali bahkan setelah kembali dari luar negeri,” kata Willy seperti ditulis Java-bode :

Willy memulai karirnya di dunia tinju pada tahun 1951. Dia pertama kali menerima latihan dari pelatih Bobby Njoo. Pelatihnya ini adalah mantan petinju. Tahun 1952, ia beralih ke pelatih Mr. Jorghi. Saat itu dia sudah bertanding di kelas 54 kg. Pada tahun itu ia berhasil meraih juara Indonesia di kelas bulu dan kelas ringan.

Hingga di tahu 1955 itu, Willy telah bertarung sekitar 40 kali, dan hanya satu kali kalah. Selebihnya adalah kemenangan. Delapan kali di antaranya menang K.O.

De Nieuwsgier edisi  07 Januari 1955 memberitakan, dalam pertandingan utama pada Kejuaraan Tinju Kelas Ringan di Jakarta Willy berhasil memukul K.O petinju Jan de Groot pada ronde ketiga.

Pada bulan September 1954, Willy bertanding melawan Jimmy Thio di kelas ringan. Thio adalah petinju yang tangguh dari Jawa Timur.  Willy memuji dan mengakui, bahwa Thio adalah lawan terberatnya selama ia bertanding. Tapi naas, Thio tewas dalam sebuah kecelakaan sepeda motor di Waru, dekat Jawa Timur, Desember 1955.  Meski pernah terlibat ‘saling tonjok’, tapi sebagai seorang olahragawan yang menjunjung tinggi sportivitas, Willy tetap mengakui dan menghormati Thio.

“Jimmy Thio adalah salah satu lawan saya yang paling berbahaya dan simpatik,” kata Willy serperti dirilis surat kabar Java-bode  edisi 10-12-1955.

Karena prestasinya yang gemilang, Willy mendapat kepercayaan membawa nama Indonesia dalam Olimpiade di Melbourne tahun 1956. Olimpiade ini dilaksanakan mulai 22 November dan berarkhir pada 8 Desember 1956. Temannya petinju yang ke pesta olah raga internasional itu adalah Philippus.  Tapi, Willy dan Philippus tak berhasil meraih medali pada olimpiade ini.

Kemenangan memang tidak selalu bersama Willy. Pada pertandingan di Surabaya Agustus 1956, Willy bertanding melawan petinju Kid Bellel yang 6 kg lebih berat darinya. Setelah berjuang hebat, Willy akhirnya harus mengakui keunggulan Kid Bellel. Willy jatuh K.O. pada ronde ketujuh.

***

Di era Willy sebagai petinju hebat, semacam organisasi olah raga tinju adalah Persatuan Tinju dan Gulat (Pertigu). Ketika itu tinju dan gulat tidak dapat dipisahkan karena pembinaannya secara bersamaan. Ketua Umum Pertigu tahun 1950-an adalah Frans Mendur.

Namun, pemerintah yang disibukkan dengan situasi politik akibat pertentangan ideologi tidak terlalu memberi perhatian terhadap organisasi ini dan cabang olah raga binaannya.

Pertandingan tinju di masa itu kebanyakan digelar di pasar-pasar malam. Willy adalah salah satu petinju yang lahir dari ‘pasar malam’ itu. Para petinju mendapat bayaran setiap berlaga di pasar malam yang dilaksanakan oleh organisasi-organisasi masyarakat.

Dengan belum mendapat perhatian dari pemerintah, maka pada PON I yang berlangsung 23 September sampai 6 Oktober 1948 di Surakarta, Jawa Tengah, olah raga tinju tidak dipertandingkan.  Pada PON II yang dihelat pada 21 sampai 28 Oktober 1951 di Jakarta dan PON III pada 20 sampai 27 Oktober 1953 di Medan, olah raga tinju juga belum dipertandingkan.

Pada tahun 1956 muncul usulan agar tinju amatir dan tinju bayaran dipisahkan. Hasilnya, di dalam Pertigu ada tiga bagian: tinju amatir, tinju bayaran, dan gulat.

Usul tersebut diterima oleh Ketua Umum Pertigu Frans Mendur masa. Hasilnya, tinju amatir menjadi salah satu cabang olah raga yang dipertandingkan pada PON IV thaun 1957 di Makassar.

Nanti pada 30 Oktober 1959 barulah lahir Persatuan Tinju Amatir Indonesia (Pertina).

Meski sudah menggantungkan sarung tinju, tapi tidak lantas membuat Willy menjauh dari dunia olah raga yang lama digelutinya. Sejak kira-kira tahun 1970-an, Willy kemudian menjadi penata tanding tinju bertaraf internasional.

Willy Lasut (Foto: Aryo Sulkhan)

Aryo Sulkhan menulis, Willy Lasut adalah seorang ‘International Boxing Matchmaker’ yang ternama.

Willy adalah “pelopor Penata Tanding Internasional di Indonesia,” tulis Sulkhan.

Sebagai penata tanding, Willy aktif bekerjasama dengan promotor-promotor dari berbagai negara, yaitu Jepang, Australia, Filipina, Korea, dan Thailand. Willy telah berperan banyak mengorbitkan petinju-petinju profesional Indonesia ke mancanegara.

Finon Manullang  menulis, rekan petinju Willy di tahun 1950-an salah satunya adalah Jafar, petinju tangguh kelas welter di era itu. Willy segenerasi dengan Jafar, Kid Francis, dan Jimmy Chiu.

Manullang menulis, pada tahun 60-an, ketika pemerintah membekukan tinju pro selama 10 tahun, para petinju ini lebih banyak tampil dalam pertandingan tinju pasar malam. Itu berarti sebagai tontonan liar.

Jafar sendiri, kata Manullang, ketika tinju profesional dihidupkan kembali  tahun 1970, dan menyusul berdirinya badan tinju bernama Indonesian Boxing Commission (IBC), ia lalu berkarir sebagai wasit/hakim.

Mantan juara Indonesia kelas welter, Muhrodi (44 tahun), yang sekarang bekerja dan menetap di Lembang, Jawa Barat mengakui peran Willy bagi karir bertinjunya. Bagi Muhrodi, Willy punya peran besar mempromosikan dia hingga bisa bertanding di luar negeri.

Petinju lain yang telah diorbitkan oleh Willy ke luar negeri adalah Adrianus “Joppie” Taroreh. Pada tahun 1996, Taroreh menantang juara WBA kelas ringan  Orzubek Nazarov di Korakuen Hall, Tokyo. Tapi waktu itu Taroreh menyerah kalah KO pada ronde ke- 4. Pada April 2012, Willy Lasut juga membawa Nouldy Manakane menantang juara WBA kelas bantam, Koki Kameda. Namun Nouldy harus menyerah dengan kekalahan angka.

***

Willy dan Josephine Bruning ketika menikah pada 5 Agustus 1957. (Foto: Java-bode)

Kehidupan perkawinan Willy rupanya jatuh bangun seperti dunia tinju yang ia geluti. Selama hidupnya, Willy tiga kali menikah, dan semuanya berakhir dengan perceraian.

Istrinya yang pertama adalah Josephine Bruning. Mereka menikah 5 Agustus 1957. Perkawinan mereka dikarunia seorang anak yang diberi nama Shirley Desire Lasut. Josephine dan Willy bercerai pada 19 Maret 1966.

Willy lalu menikah lagi dengan Meta Dientje Bloem pada 25 Oktober 1967. Dari pernikahan ini mereka dikarunia seorang anak perempuan yang diberi nama Sagita Desire Lasut. Mereka bercerai pada 1 Juni 1971.

Pernikahannya yang ketiga adalah dengan Herny Chaidir. Mereka melangsungkan pernikahan pada 17 Agustus 1979. Dari pernikahan ini, Willy dan Herny dikarunia dua orang anak, yaitu Herdian Ferdinand Alexandre Lasut dan Tracy Shela Mayvira. Kehidupan rumah tanggal Willy lagi-lagi kandas dalam perceraian pada 25 Oktober 1994.

Willy meninggal dunia pada 17 Juli 2013 di usia 80 tahun.(*)

 

 


Editor: Daniel Kaligis


Komitmen dan misi kami adalah menghadirkan media dengan mutu jurnalisme yang baik. Menurut pendapat kami, salah satu syarat penting untuk mencapai hal itu adalah indepedensi.
Sejak awal, kami telah menetapkan bahwa KELUNG adalah media independen. Sebagai media independen, KELUNG hadir untuk melayani pembaca dengan laporan, artikel atau tulisan yang disajikan secara naratif, mendalam, lengkap dengan konteks. Kami mengajak anda untuk memasuki setiap gejala dan isu untuk menemukan informasi, inspirasi, makna dan pengetahuan.
KELUNG independen oleh karena kami sendiri yang menentukan tema atau isu untuk disajikan. KELUNG bebas dari intervensi penguasa atau pemilik modal. KELUNG independen dari intervensi ideologi agama atau ideologi apapun.
KELUNG independen, karena bebas berpihak kepada kelompok minoritas, kelompok marginal dan lemah secara akses suara ke publik. KELUNG juga akan terus berupaya mengembangkan diri, meningkatkan mutu isi dan penyajian.
Pembaca adalah kunci dari harapan kami ini. Dukungan pembaca berupa donasi, sangat berarti bagi kami dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu jurnalisme yang independen. Kami mengundang pembaca untuk bersama-sama mencapai komitmen dan misi kami ini.
Mari bantu KELUNG dengan cara berdonasi…. selengkapnya

485total visits,2visits today

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *